Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sosok Endiah, Raih Gelar Doktor Rekayasa Nuklir ITB pada Usia 62 Tahun

Kompas.com, 20 Mei 2026, 16:35 WIB
Mahar Prastiwi

Penulis

KOMPAS.com - Mengenyam pendidikan tak mengenal usia. Mungkin prinsip itu yang dipegang sosok Endiah Puji Hastuti.

Di usianya yang menginjak 62 tahun, Endiah berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Rekayasa Nuklir, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Wisuda April 2026.

Perempuan yang berprofesi sebagai peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut menjadi salah seorang sosok inspiratif karena membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia.

Baginya, pendidikan merupakan perjalanan hidup yang tidak pernah berhenti sekaligus ruang untuk terus berkembang.

Perempuan yang akrab disapa Endiah tersebut sebelumnya menempuh pendidikan S1 Teknik Kimia, Universitas Diponegoro (Undip) dan S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB.

Baca juga: Soal Gelar Ir Menkes Budi Gunadi, Ini Penjelasan ITB

Ia pernah terlibat langsung dalam proses commissioning Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy pada akhir 1980-an, yaitu tahap pengujian dan pembuktian bahwa reaktor dapat beroperasi sesuai rancangan desainnya dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Kesempatan melanjutkan studi doktoral hadir setelah BATAN bergabung dengan BRIN. Meski telah memasuki usia 62 tahun, Endiah memutuskan mengambil peluang tersebut dan kembali menjadi mahasiswa ITB.

Ia juga menegaskan bahwa keinginannya melanjutkan studi doktoral berangkat dari cita-cita yang belum sempat dituntaskan sejak lama.

“Kesempatan itu seperti awan. Kalau lewat di depan kita, ya harus diraih,” tuturnya dikutip dari laman ITB, Rabu (20/5/2026).

Perjalanan menempuh S3 di usia 62 tahun

Dalam proses seleksi doktoral, Endiah harus melalui seluruh persyaratan akademik seperti mahasiswa lainnya, mulai dari Tes Potensi Akademik (TPA) hingga tes kemampuan bahasa Inggris.

Menurutnya, tidak ada kemudahan khusus meskipun dirinya sudah tidak lagi muda.

“Usia 62 tahun tetap diminta lulus TPA dan TOEFL. Itu menjadi pembuktian bagi diri saya sendiri, apakah saya masih mampu secara kognitif untuk belajar,” katanya.

Ia mengaku tantangan terbesar selama menjalani studi bukan berasal dari perbedaan usia dengan mahasiswa lain, melainkan bagaimana menjaga ritme belajar dan mengelola stres.

Karena itu, ia menerapkan disiplin dalam membagi waktu dan menghindari kebiasaan belajar mendadak.

“Kalau waktu muda mungkin masih bisa sistem kebut semalam. Tapi kalau usia saya sekarang, itu bisa membuat stres dan sakit. Semuanya harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujarnya.

Baca juga: ITB Daur Ulang Sampah Plastik Jadi Paving Block, Cocok untuk Wilayah Pesisir

Kampus Institut Teknologi Bandung. 20 universitas dengan jurusan teknik terbaik di Indonesia versi Edurank 2025.itb.ac.id Kampus Institut Teknologi Bandung. 20 universitas dengan jurusan teknik terbaik di Indonesia versi Edurank 2025.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau