Penulis
KOMPAS.com - Mengenyam pendidikan tak mengenal usia. Mungkin prinsip itu yang dipegang sosok Endiah Puji Hastuti.
Di usianya yang menginjak 62 tahun, Endiah berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Rekayasa Nuklir, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Wisuda April 2026.
Perempuan yang berprofesi sebagai peneliti utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut menjadi salah seorang sosok inspiratif karena membuktikan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia.
Baginya, pendidikan merupakan perjalanan hidup yang tidak pernah berhenti sekaligus ruang untuk terus berkembang.
Perempuan yang akrab disapa Endiah tersebut sebelumnya menempuh pendidikan S1 Teknik Kimia, Universitas Diponegoro (Undip) dan S2 Rekayasa Energi Nuklir di ITB.
Baca juga: Soal Gelar Ir Menkes Budi Gunadi, Ini Penjelasan ITB
Ia pernah terlibat langsung dalam proses commissioning Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy pada akhir 1980-an, yaitu tahap pengujian dan pembuktian bahwa reaktor dapat beroperasi sesuai rancangan desainnya dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
Kesempatan melanjutkan studi doktoral hadir setelah BATAN bergabung dengan BRIN. Meski telah memasuki usia 62 tahun, Endiah memutuskan mengambil peluang tersebut dan kembali menjadi mahasiswa ITB.
Ia juga menegaskan bahwa keinginannya melanjutkan studi doktoral berangkat dari cita-cita yang belum sempat dituntaskan sejak lama.
“Kesempatan itu seperti awan. Kalau lewat di depan kita, ya harus diraih,” tuturnya dikutip dari laman ITB, Rabu (20/5/2026).
Dalam proses seleksi doktoral, Endiah harus melalui seluruh persyaratan akademik seperti mahasiswa lainnya, mulai dari Tes Potensi Akademik (TPA) hingga tes kemampuan bahasa Inggris.
Menurutnya, tidak ada kemudahan khusus meskipun dirinya sudah tidak lagi muda.
“Usia 62 tahun tetap diminta lulus TPA dan TOEFL. Itu menjadi pembuktian bagi diri saya sendiri, apakah saya masih mampu secara kognitif untuk belajar,” katanya.
Ia mengaku tantangan terbesar selama menjalani studi bukan berasal dari perbedaan usia dengan mahasiswa lain, melainkan bagaimana menjaga ritme belajar dan mengelola stres.
Karena itu, ia menerapkan disiplin dalam membagi waktu dan menghindari kebiasaan belajar mendadak.
“Kalau waktu muda mungkin masih bisa sistem kebut semalam. Tapi kalau usia saya sekarang, itu bisa membuat stres dan sakit. Semuanya harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari,” ujarnya.
Baca juga: ITB Daur Ulang Sampah Plastik Jadi Paving Block, Cocok untuk Wilayah Pesisir
Kampus Institut Teknologi Bandung. 20 universitas dengan jurusan teknik terbaik di Indonesia versi Edurank 2025.