Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa Siapkan Aturan 1 Tiket untuk Perjalanan Kereta Antar-negara

Kompas.com, 19 Mei 2026, 07:30 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Selama ini, perjalanan kereta antarnegara di Eropa dinilai rumit. Pelaku perjalanan harus membeli beberapa tiket terpisah.

Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen sempat membagikan keresahan tersebut di media sosial. 

"Dari Berlin ke Barcelona dengan kereta api. Saat ini, perjalanan lintas negara memerlukan beberapa pemesanan dan berisiko jika Anda ketinggalan kereta lanjutan. Mari kita ubah hal itu," tulis der Leyen, dilansir dari AFP, Selasa (19/5/2026).

Baca juga:

Rencana satu tiket kereta antarnegara di Eropa

Operator diwajibkan berbagi data

Ilustrasi mesin penjual tiket di Berlin, Jerman. Uni Eropa siapkan aturan baru satu tiket kereta antar-negara guna memudahkan pelaku perjalanan. Seperti apa skemanya?Dok. Unsplash/Anastasiia Nelen Ilustrasi mesin penjual tiket di Berlin, Jerman. Uni Eropa siapkan aturan baru satu tiket kereta antar-negara guna memudahkan pelaku perjalanan. Seperti apa skemanya?

Meskipun dianggap memudahkan pelaku perjalanan, rencana satu tiket ini punya sisi lain yang sebaiknya jadi bahan pertimbangan.

Dalam skema satu tiket tersebut, nantinya perusahaan kereta api harus menjual tiket milik pesaing dengan menampilkan layanan kompetitor di situs web resmi mereka. Kebijakan ini berlaku untuk operator yang menguasai minimal 50 persen pasar domestik.

Selain itu, operator kereta harus membagikan data jadwal dan tarif kepada platform pemesanan online (daring). Langkah ini diambil agar pelaku perjalanan bisa mencari, membandingkan, dan membeli tiket kereta dalam satu kali transaksi.

Uni Eropa ingin mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan sipil. Transportasi udara menyumbang hampir 12 persen emisi pada tahun 2022, sedangkan kereta api "hanya" menyumbang 0,3 persen emisi karbon.

Data Uni Eropa menunjukkan, ada 400 juta orang terbang antar-negara di Eropa pada tahun 2024, sedangkan pengguna kereta lintas negara hanya 150 juta orang.

Baca juga:

Pro dan kontra rencana satu tiket kereta antarnegara

Ilustrasi Gare du Nord di Paris, Perancis. Uni Eropa siapkan aturan baru satu tiket kereta antar-negara guna memudahkan pelaku perjalanan. Seperti apa skemanya?UNSPLASH/Moiz K. Malik Ilustrasi Gare du Nord di Paris, Perancis. Uni Eropa siapkan aturan baru satu tiket kereta antar-negara guna memudahkan pelaku perjalanan. Seperti apa skemanya?

Rencana ini mendapat penolakan keras dari asosiasi operator kereta Eropa (Community of European Railways atau CER). Ketua CER, Alberto Mazzola menilai aturan ini sebagai intervensi regulasi yang tidak adil. 

"Saya tidak mengetahui adanya kasus ketika seseorang diwajibkan untuk menjual produk pesaingnya. Bayangkan jika Lufthansa diwajibkan untuk menjual tiket penerbangan Ryanair," ucap Mazzola.

Menurut Mazzola, aturan ini juga merugikan investasi platform mandiri. Perusahaan raksasa pemesanan online asal Amerika Serikat dinilai akan lebih diuntungkan.

Dia menambahkan, perjalanan lintas negara hanya mencakup tujuh persen dari total perjalanan kereta. Masalah utama sebenarnya adalah keterbatasan infrastruktur kereta, bukan masalah tiket.

Namun, dukungan datang dari Parlemen Eropa. Anggota parlemen Jan-Christoph Oetjen menilai persaingan ini akan menguntungkan penumpang.

Halaman:


Terkini Lainnya
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau