Penulis
KOMPAS.com - Selama ini, perjalanan kereta antarnegara di Eropa dinilai rumit. Pelaku perjalanan harus membeli beberapa tiket terpisah.
Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen sempat membagikan keresahan tersebut di media sosial.
"Dari Berlin ke Barcelona dengan kereta api. Saat ini, perjalanan lintas negara memerlukan beberapa pemesanan dan berisiko jika Anda ketinggalan kereta lanjutan. Mari kita ubah hal itu," tulis der Leyen, dilansir dari AFP, Selasa (19/5/2026).
Baca juga:
Ilustrasi mesin penjual tiket di Berlin, Jerman. Uni Eropa siapkan aturan baru satu tiket kereta antar-negara guna memudahkan pelaku perjalanan. Seperti apa skemanya?Meskipun dianggap memudahkan pelaku perjalanan, rencana satu tiket ini punya sisi lain yang sebaiknya jadi bahan pertimbangan.
Dalam skema satu tiket tersebut, nantinya perusahaan kereta api harus menjual tiket milik pesaing dengan menampilkan layanan kompetitor di situs web resmi mereka. Kebijakan ini berlaku untuk operator yang menguasai minimal 50 persen pasar domestik.
Selain itu, operator kereta harus membagikan data jadwal dan tarif kepada platform pemesanan online (daring). Langkah ini diambil agar pelaku perjalanan bisa mencari, membandingkan, dan membeli tiket kereta dalam satu kali transaksi.
Uni Eropa ingin mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan sipil. Transportasi udara menyumbang hampir 12 persen emisi pada tahun 2022, sedangkan kereta api "hanya" menyumbang 0,3 persen emisi karbon.
Data Uni Eropa menunjukkan, ada 400 juta orang terbang antar-negara di Eropa pada tahun 2024, sedangkan pengguna kereta lintas negara hanya 150 juta orang.
Baca juga:
Ilustrasi Gare du Nord di Paris, Perancis. Uni Eropa siapkan aturan baru satu tiket kereta antar-negara guna memudahkan pelaku perjalanan. Seperti apa skemanya?Rencana ini mendapat penolakan keras dari asosiasi operator kereta Eropa (Community of European Railways atau CER). Ketua CER, Alberto Mazzola menilai aturan ini sebagai intervensi regulasi yang tidak adil.
"Saya tidak mengetahui adanya kasus ketika seseorang diwajibkan untuk menjual produk pesaingnya. Bayangkan jika Lufthansa diwajibkan untuk menjual tiket penerbangan Ryanair," ucap Mazzola.
Menurut Mazzola, aturan ini juga merugikan investasi platform mandiri. Perusahaan raksasa pemesanan online asal Amerika Serikat dinilai akan lebih diuntungkan.
Dia menambahkan, perjalanan lintas negara hanya mencakup tujuh persen dari total perjalanan kereta. Masalah utama sebenarnya adalah keterbatasan infrastruktur kereta, bukan masalah tiket.
Namun, dukungan datang dari Parlemen Eropa. Anggota parlemen Jan-Christoph Oetjen menilai persaingan ini akan menguntungkan penumpang.