Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Tempat Wisata di Jawa Barat yang Terkenal dari Cerita Legenda

Kompas.com, 16 Mei 2026, 20:00 WIB
Afif Khoirul Muttaqin

Penulis

KOMPAS.COM - Jawa Barat tidak hanya terkenal dengan udaranya yang sejuk dan pemandangan alamnya yang hijau memukau. 

Di balik keindahan perbukitan dan hamparan kebun tehnya, tanah Pasundan juga menyimpan kekayaan budaya berupa cerita rakyat dan legenda yang diceritakan turun-temurun.

Menariknya, kisah-kisah mitologi dan romansa masa lalu tersebut bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan melekat erat pada lanskap alamnya. 

Beberapa tempat yang menjadi latar cerita legenda tersebut kini telah bertransformasi menjadi objek wisata populer yang selalu ramai dikunjungi pelancong.

Dilansir dari beberapa sumber, kisah legenda ini memberikan daya tarik magis tersendiri bagi para wisatawan yang datang. 

Baca juga: 6 Deretan Wisata Alam Tersembunyi di Karawang Untuk Melepas Penat

1. Gunung Tangkuban Parahu (Legenda Sangkuriang)

Pemandangan Kawah Ratu di Gunung Tangkuban PerahuDok. Shutterstock/Raga Genta Pemandangan Kawah Ratu di Gunung Tangkuban Perahu

Berbicara soal legenda di Jawa Barat, destinasi satu ini pasti langsung terlintas di kepala. Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Subang ini sangat lekat dengan kisah Sangkuriang. 

Legenda menceritakan tentang pemuda bernama Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibu kandungnya sendiri, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan pernikahan, Dayang Sumbi meminta syarat dibuatkan telaga dan perahu dalam semalam.

Karena gagal akibat kecerdikan Dayang Sumbi, Sangkuriang menendang perahu tersebut hingga terbalik dan menjelma menjadi gunung yang berbentuk seperti perahu telungkup ini.

2. Situ Bagendit (Legenda Nyai Bagendit)

Wajah baru Kawasan Situ Bagendit di Kabupaten Garur, Jawa Barat.Dok. Kementerian PUPR Wajah baru Kawasan Situ Bagendit di Kabupaten Garur, Jawa Barat.

Beralih ke Kabupaten Garut, ada objek wisata danau alami bernama Situ Bagendit. Tempat wisata air yang indah ini konon terbentuk dari kisah seorang janda kaya raya bernama Nyai Bagendit yang sangat kikir dan sombong. 

Suatu hari, seorang kakek pengemis datang meminta bantuan namun malah diusir dengan kejam oleh Nyai Bagendit. 

Kakek tersebut kemudian menancapkan sebatang lidi ke tanah, dan saat lidi itu dicabut, air keluar dengan deras hingga menenggelamkan Nyai Bagendit beserta seluruh harta kekayaannya, menciptakan danau yang kita kenal sekarang.

Baca juga: 7 Tempat Wisata Bersejarah di Jakarta yang Bisa Dikunjungi Untuk Wisata Edukasi

3. Gunung Ciremai (Legenda Nini Pelet)

Dokumentasi Kompas.com, saat sejumlah petugas melintasi kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai di Desa Pesawahan Kacamata Pesawahan Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada awal Januari 2026.Kompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON Dokumentasi Kompas.com, saat sejumlah petugas melintasi kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai di Desa Pesawahan Kacamata Pesawahan Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada awal Januari 2026.

Gunung tertinggi di Jawa Barat yang membentang di wilayah Kuningan dan Majalengka ini juga diselimuti kisah misteri dan legenda. Salah satu cerita rakyat yang paling terkenal di masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah legenda Nini Pelet. 

Halaman:


Terkini Lainnya
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Libur Sekolah Tiba! Menpar Bocorkan Kesiapan Candi Prambanan dan Stasiun Tugu
Travel News
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Ada Praktik Pungli di Wisata Gunungkidul, Laporkan ke Nomor Ini
Travel News
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Paralayang di Puncak Dunu Jadi Daya Tarik Baru Gorontalo Utara
Travel News
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Jazz Atas Awan Dipastikan Masuk Rangkaian Dieng Culture Festival 2026
Travel News
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Kalahkan Ratusan Kota Lain, Tempat Ini Jadi Kota Terbaik untuk Jalan Kaki
Travel News
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026
Hotel Story
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Ada 16 Hari Libur Sekolah Semester Genap 2026, Catat Tanggalnya
Travel News
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Ada 6 Perjalanan Tambahan Whoosh Saat Long Weekend, Ini Jadwalnya
Travel News
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Travel News
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Mau ke Dieng Culture Festival 2026? Catat Jadwal dan Agendanya
Travel News
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Cuma Rp12 Ribu, Ini Jadwal dan Rute Baru Bus KSPN Jogja 2026 Bisa Liburan Sampai Pantai
Travel News
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Long Weekend Usai, Lebih dari 21.000 Orang Balik ke Jakarta Naik Whoosh
Travel News
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Sambut Piala Dunia 2026, Kota-Kota di Meksiko Rombak Total Sistem Transportasi
Travel News
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Libur Sekolah Semester Genap Berapa Lama? Ini Jadwal Resminya
Travel News
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Kapan Mulai Libur Sekolah Juni 2026? Catat Tanggalnya
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau