Pasar Ponsel Asia Tenggara Turun 9 Persen, Samsung Satu-satunya yang Tumbuh

Kompas.com, 24 Mei 2026, 13:09 WIB
Bill Clinten,
Soffya Ranti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Firma riset pasar Omdia baru saja merilis data terbaru soal kondisi pasar smartphone di kawasan Asia Tenggara selama kuartal I (Januari hingga Maret) 2026.

Secara keseluruhan, total pengiriman (shipment) ponsel di Asia Tenggara pada periode tersebut tercatat sebanyak 21,6 juta unit. Angka ini mengalami penurunan 9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 23,7 juta unit.

Dalam laporan yang sama, Omdia turut menyajikan daftar lima merek ponsel dengan volume pengiriman tertinggi sepanjang kuartal I-2026.

Samsung berhasil menduduki posisi teratas dengan total shipment mencapai 4,6 juta unit. Pabrikan asal Korea Selatan ini menguasai pangsa pasar (market share) sekitar 21 persen di kawasan Asia Tenggara.

Omdia juga mencatat bahwa pengiriman HP Samsung di kawasan ini tumbuh 4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Menurut firma riset tersebut, pencapaian Samsung ditopang oleh performa kuat seri flagship Galaxy S26 Series serta penjualan lini Galaxy A Series yang solid di segmen menengah.

Secara YoY, Samsung menjadi satu-satunya vendor smartphone yang membukukan pertumbuhan.

Empat vendor lainnya di bawah Samsung, yakni Oppo, Xiaomi, Transsion (yang membawahi Infinix, Tecno, dan Itel), serta Vivo, seluruhnya mengalami penurunan shipment.

Kondisi ini turut memengaruhi nilai market share mereka di Asia Tenggara pada kuartal I-2026.

Baca juga: Riset Omdia: 5 Besar Merek HP se-Asia Tenggara, Samsung Teratas

Data lengkap lima vendor ponsel terlaris di Asia Tenggara kuartal I-2026

Berikut adalah data lima vendor ponsel terlaris di Asia Tenggara pada kuartal I-2026 berdasarkan laporan Omdia, beserta pertumbuhan secara YoY:

  1. Samsung — Shipment Q1-2025: 4,4 juta unit (19 persen) → Q1-2026: 4,6 juta unit (21 persen) | YoY: +4 persen persen
  2. Oppo — Shipment Q1-2025: 5,1 juta unit (21 persen) → Q1-2026: 4,2 juta unit (20 persen) | YoY: -17 persen
  3. Xiaomi — Shipment Q1-2025: 4,2 juta unit (18 persen)→ Q1-2026: 3,7 juta unit (17 persen) | YoY: -12 persen
  4. Transsion — Shipment Q1-2025: 3,7 juta unit (16 persen) → Q1-2026: 3,4 juta unit (16 persen) | YoY: -10 persen
  5. Vivo — Shipment Q1-2025: 2,8 juta unit (12 persen) → Q1-2026: 2,1 juta unit (9 persen) | YoY: -7 persen
  6. Merek lain — Shipment Q1-2025: 3,5 juta unit (15 persen) → Q1-2026: 3,7 juta unit (17 persen) | YoY: +7 persen
  7. Total — Q1-2025: 23,7 juta unit → Q1-2026: 21,6 juta unit | YoY: -9 persen

Perlu diketahui, data Omdia ini menggunakan metode sell-in shipment, bukan sell-out. Artinya, angka yang tercatat merupakan jumlah perangkat yang dikirim vendor ke distributor, toko, atau kanal penjualan, bukan jumlah unit yang benar-benar sampai ke tangan konsumen akhir.

Baca juga: OpenAI Rilis GPT-Rosalind, AI Khusus Riset Biologi dan Penemuan Obat

Harga jual rata-rata justru melonjak

Meskipun volume pengiriman merosot, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) smartphone di Asia Tenggara justru mencetak rekor baru. Omdia mencatat ASP smartphone di kawasan ini mencapai 349 dollar AS atau sekitar Rp 6,1 juta per unit.

Angka tersebut melonjak 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di bawah 300 dollar AS (sekitar Rp 5,3 juta).

Menurut Omdia, lonjakan harga ini dipicu oleh naiknya biaya komponen memori seperti DRAM dan NAND yang membuat ongkos produksi smartphone ikut terkerek.

Dampaknya paling terasa di segmen entry-level dan menengah, karena komponen memori memiliki porsi biaya yang cukup signifikan pada perangkat di kelas tersebut.

Akibat tekanan biaya ini, vendor mulai mengambil langkah-langkah seperti menaikkan harga jual perangkat, memangkas spesifikasi tertentu, atau mengatur suplai produk lebih ketat demi menjaga margin keuntungan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau