KOMPAS.com - Memastikan usia asli pengguna internet telah menjadi persoalan sejak era awal dunia maya. Banyak situs web maupun platform media sosial telah memasang sistem pembatasan umur, tapi taktik tersebut sering kali tidak manjur di lapangan.
Biasanya, anak-anak di bawah umur bisa dengan sangat mudah menyiasati aturan ini hanya dengan memalsukan tahun lahir mereka saat mendaftar.
Di sisi lain, ketika perusahaan mencoba menerapkan aturan verifikasi usia yang sangat ketat, keputusan tersebut hampir selalu berujung pada gelombang protes dari para penggunanya.
Berangkat dari masalah tersebut, Meta kini mengambil langkah agresif.
Induk perusahaan Facebook dan Instagram itu dilaporkan sedang menerapkan sistem perlindungan baru bertenaga kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi sekaligus memberantas akun-akun milik pengguna yang dicurigai masih di bawah usia 13 tahun.
Berbeda dengan sistem verifikasi konvensional, Meta menggunakan pendekatan deteksi diam-diam melalui teknologi AI. Sistem kecerdasan buatan ini bekerja dengan menggabungkan dua metode utama, yakni analisis teks dan pemindaian visual.
Untuk pemindaian visual, AI milik Meta akan mengamati foto maupun video pengguna guna mencari petunjuk fisik tertentu.
Alih-alih sekadar melihat wajah, sistem ini secara spesifik dilatih untuk menganalisis postur tubuh, seperti tinggi badan hingga struktur tulang, untuk memperkirakan apakah si pemilik akun tersebut masih tergolong anak-anak atau sudah cukup umur.
Sementara itu, dari segi analisis teks, algoritma Meta akan menyisir aktivitas pengguna di platform untuk mencari sinyal-sinyal pendukung. Sinyal ini bisa berupa teks postingan perayaan ulang tahun hingga obrolan yang menyinggung soal nilai atau rapor sekolah.
Meta meyakini, kombinasi dua metode pemindaian ini mampu menjaring akun-akun "bocil" (bocah cilik) yang selama ini selalu lolos dari sistem verifikasi standar.
Baca juga: 8 Aplikasi Ini Wajib Blokir Akun Anak Indonesia di Bawah 16 Tahun
Sadar bahwa teknologi pemindaian fisik rentan memicu isu privasi, Meta secara tegas mengklarifikasi bahwa sistem AI terbaru ini bukanlah teknologi pengenalan wajah (facial recognition).
Artinya, sistem kecerdasan buatan tersebut tidak bertugas untuk mengidentifikasi siapa identitas asli dari orang yang ada di dalam foto.
AI ini murni hanya bekerja secara abstrak untuk memperkirakan rentang usia umum seseorang berdasarkan konteks visual yang ditangkap, tanpa perlu tahu nama asli si pengguna.
Tentu saja, efektivitas teknologi abstrak ini masih mengundang rasa penasaran, seperti dirangkum KompasTekno dari Neowin.
Sejumlah pihak berharap Meta telah melatih AI-nya dengan cukup pintar agar tidak otomatis mengklasifikasikan "kumis" sebagai fitur mutlak orang dewasa.