Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Otomotif China: Bagaimana RI Raih Keuntungan?

Kompas.com, 14 Mei 2026, 09:02 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Gelombang masuknya merek otomotif asal China ke Indonesia semakin sulit dibendung.

Dalam beberapa tahun terakhir, nama-nama seperti BYD, Chery, Wuling, Jaecoo, Aion, hingga Geely terus agresif memperluas pasar lewat peluncuran model baru, pembangunan diler, hingga investasi pabrik di dalam negeri.

Baca juga: Parkir di Kawasan Blok M Square Kini Diambil Alih Dishub

Fenomena ini tidak hanya mengubah peta persaingan industri otomotif nasional, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai dampak jangka panjangnya bagi pembangunan industri Indonesia.

Heiwai Tang, ekonom internasional sekaligus Associate Vice President (Global) di The University of Hong Kong, menilai masuknya perusahaan otomotif China berpotensi memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional, selama Indonesia mampu menjaga keseimbangan kebijakan industrinya.

Menurut Tang, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan sekadar menjadi pasar kendaraan, tetapi bagaimana memanfaatkan investasi asing untuk memperkuat basis produksi dan pembangunan industri domestik.

“Saya pikir kebijakan industri harus dirancang untuk mencapai keseimbangan yang baik antara peningkatan produktivitas dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Tang saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).

Ia mengingatkan, kebijakan yang terlalu protektif memang dapat melindungi perusahaan lokal dalam jangka pendek.

Ilustrasi pameran otomotif IIMS 2025Dok. Dyandra Promosindo Ilustrasi pameran otomotif IIMS 2025

Namun dalam jangka panjang, kondisi tersebut justru berisiko menghambat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jika kebijakan terlalu protektif, itu bisa menciptakan pasar yang terlindungi bagi perusahaan lokal. Tetapi dalam jangka panjang sebenarnya kurang baik bagi produktivitas dan pembangunan ekonomi,” kata Tang.

Menurut dia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan justru lebih efektif dicapai melalui pasar yang terbuka terhadap investasi dan persaingan global.

Dengan pasar yang terbuka, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menarik perusahaan-perusahaan terbaik dunia masuk ke dalam negeri, termasuk membawa transfer teknologi dan pengetahuan bagi industri lokal.

Baca juga: [POPULER OTOMOTIF] Baterai Mobil Listrik, Mobil Terlaris April

Tang mengatakan, proses transfer teknologi tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi tempat penjualan kendaraan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas industri manufakturnya.

Selain itu, kehadiran investasi otomotif asing juga dinilai dapat menciptakan lapangan kerja dengan kualitas lebih tinggi di masa depan, terutama pada sektor manufaktur modern dan kendaraan listrik.

Karena itu, masuknya brand otomotif China dinilai bukan hanya soal bertambahnya pilihan kendaraan di pasar domestik, melainkan juga momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi industri nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau