
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
TOLERANSI tidak cukup diucapkan. Ia harus dikerjakan. Suasana itu terlihat di pelataran Gereja Katedral Jakarta saat ribuan warga mengikuti jalan santai lintas agama dalam rangka perayaan 219 tahun Keuskupan Agung Jakarta.
Warga dari latar keyakinan berbeda hadir dan berbaur tanpa jarak yang terasa kaku.
Salah seorang warga bahkan sengaja mengajak puluhan tetangganya yang berbeda agama untuk datang bersama.
Pemandangan seperti ini terasa penting, terutama ketika ruang publik belakangan lebih sering dipenuhi pertentangan identitas dan prasangka sosial.
Peristiwa semacam itu mungkin tampak sederhana. Namun justru di situlah letak maknanya. Toleransi tidak selalu tumbuh dari pidato besar atau seruan formal negara.
Dalam banyak kasus, ia lahir dari inisiatif warga yang memilih menjaga kedekatan sosial meskipun berbeda keyakinan.
Dalam beberapa diskusi kelas, saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa toleransi sesungguhnya adalah kata kerja.
Ia bukan sekadar gagasan yang diucapkan, melainkan sesuatu yang dijalankan dan dirawat terus-menerus dalam kehidupan bersama.
Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, toleransi tidak bisa berhenti sebagai slogan moral.
Baca juga: Mengapa Ramai-ramai Menolak MBG Masuk Kampus?
Karena itu, ukuran toleransi tidak cukup dilihat dari banyaknya pernyataan tentang persatuan, tetapi dari seberapa jauh masyarakat mampu menjaga hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Toleransi bekerja melalui tindakan konkret: menyapa tetangga, menjaga kenyamanan bersama, membantu ketika ada kesulitan, dan membuka ruang perjumpaan tanpa terus-menerus dibayangi perbedaan identitas.
Praktik seperti ini sesungguhnya masih banyak ditemukan di berbagai wilayah.
Di Kampung Sawah, Bekasi, misalnya, warga lintas agama telah lama membangun kerja sama sosial secara alami.
Saat hari raya keagamaan berlangsung, warga bersama-sama menjaga keamanan lingkungan agar ibadah berjalan nyaman.
Halaman rumah warga berbeda agama dan halaman rumah ibadah di sekitarnya dibuka untuk parkir bersama.
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.