KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Linawaty Mustopoh
HR Consultant/Konsultan SDM EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Kepemimpinan Spiritual Era Disrupsi

Kompas.com, 5 April 2025, 08:18 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI TENGAH korupsi yang merajalela, seorang eksekutif di sebuah lembaga pemerintah memilih langkah berbeda, yaitu memasukkan spiritualitas dalam pengembangan kepemimpinan. Saat dunia bisnis sibuk mengejar inovasi dan transformasi digital demi memenangkan kompetisi, tak jarang etika menjadi korban.

Dalam gempuran ini, kepemimpinan spiritual hadir seperti siraman air es yang memberikan kesejukan di bawah terik menyengat. Kepemimpinan yang lebih manusiawi, beretika, dan bermakna bukan lagi sekadar idealisme, tetapi menjadi kebutuhan yang tak dapat diabaikan.

Kepemimpinan spiritual kian dibutuhkan

Banyak orang mengira kepemimpinan spiritual selalu berkaitan dengan keagamaan. Padahal jika ditelaah lebih dalam, inti dari kepemimpinan ini adalah membangun lingkungan yang berlandaskan nilai moral, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan orang lain.

Seorang pemimpin spiritual menginspirasi dengan visi yang lebih besar, tidak sekadar mengejar keuntungan material. Kepemimpinan ini mengarahkan bisnis dengan hati, mengutamakan kesejahteraan tim, serta membangun hubungan yang penuh makna dan empati dengan orang-orang di sekitarnya.

Di tengah tekanan ekonomi, perubahan kebijakan, dan disrupsi teknologi, penerapan kepemimpinan spiritual menghadapi tantangan besar karena banyak pemimpin lebih fokus pada kelangsungan bisnis. Meski jalan pintas kerap diambil, keputusan tetap harus berlandaskan etika dan moral agar tidak mengorbankan integritas.

Spiritualitas membantu pemimpin berpikir jauh ke depan, merenung, dan melihat gambaran besar, bukan hanya menyelesaikan masalah sesaat. Dalam lingkungan kerja yang semakin hybrid, fondasi spiritualitas juga penting untuk membangun kepercayaan dalam tim dan organisasi.

Kepercayaan ini berakar dari nilai-nilai spiritual dan moral yang selama ini kita pupuk, yang mengajarkan bahwa ada prinsip lebih besar yang menuntun langkah kita. Dalam kepemimpinan, saling percaya dan bekerja sama menjadi fondasi utama untuk mencapai sesuatu yang lebih besar.

Baca juga: Asah Keberanian

Kepemimpinan spiritual dalam tindakan

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual dapat menjadi landasan kuat dalam membangun masyarakat yang adil, toleran, dan inklusif.

Pemikirannya sejalan dengan teori Louis W Fry tentang kepemimpinan spiritual, khususnya nilai cinta tanpa pamrih, yang ia wujudkan dalam kepedulian terhadap sesama.

Sebagai Presiden ke-4 RI, Gus Dur dikenal menerapkan kebijakan inklusif seperti mencabut larangan perayaan Imlek dan berdialog dengan kelompok radikal untuk meredam konflik.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman
Dalam kehidupan pribadinya, ia menjunjung nilai-nilai tasawuf dengan menolak hidup mewah dan memilih kesederhanaan, terlihat dari kebiasaannya mengenakan sarung dan sandal serta mengajak keluarga hidup sederhana.

Prinsip hidupnya mencerminkan bahwa kepemimpinan adalah bentuk pengabdian, bukan sekadar kekuasaan.

Baca juga: Mengatur Nada

Contoh lain kepemimpinan spiritual adalah Nurhayati Subakat, pendiri dan Komisaris Utama Paragon Technology and Innovation. Ia tidak melepaskan nilai-nilai spiritual sebagai prinsip utama dalam budaya bisnis perusahaannya.

Dalam perjalanan bisnisnya, ia menghadapi berbagai tantangan besar, termasuk kebakaran yang menghanguskan seluruh aset pabrik. Namun, perusahaan berhasil bangkit kembali dengan cepat.

“Kalau tidak berlandaskan keimanan yang kuat, kami tidak mungkin bisa bangkit kembali,” kata Nurhayati. Saat ini, Paragon berkembang makin pesat dengan tetap fokus pada pembentukan karakter dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, perusahaan juga memberikan hadiah berupa perjalanan spiritual untuk menghargai kesetiaan dan dedikasi para karyawan.

Para pemimpin hebat ini membuktikan bahwa kepemimpinan spiritual dapat memastikan efektivitas kerja dan menjawab banyak masalah. Mereka tidak hanya berfokus pada kinerja dan pencapaian organisasi, tetapi juga pada pertumbuhan spiritual dan kesejahteraan anggota timnya.

Hasilnya, tingkat kepercayaan dan moral tim terjaga yang berujung kepada kemauan anggota tim untuk terus menghasilkan kinerja optimal dan inovasi yang berkelanjutan.

Menjadikan spiritualitas landasan kepemimpinan

Tantangan utama membangun kepemimpinan spiritual di organisasi adalah memastikan bahwa spiritualitas tidak menjadi konsep yang kabur atau membingungkan karyawan, mengingat sifatnya yang sangat personal.

Dalam konteks bisnis, spiritualitas bukan sekadar keyakinan pribadi, tetapi lebih pada penerapan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti integritas, kejujuran, kepedulian, makna kerja, dan koneksi antar-individu. Untuk itu, pemimpin perlu menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai ini dalam setiap keputusan dan interaksinya.

Proses ini dapat dimulai dengan membangun kemampuan untuk mengelola emosi secara konstruktif. Pemimpin yang mampu mengenali dan merespons emosi dengan bijak akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, harmonis, dan inspiratif. Pola pikir positif juga sangat penting agar setiap tantangan dipandang sebagai peluang untuk belajar dan berkembang, bukan sekadar hambatan.

Pemimpin perlu menghargai setiap individu, membangun relasi empatik dengan memahami suasana hati dan bahasa tubuh, serta menjaga komunikasi yang jujur, transparan, namun tetap santun.

Baca juga: Pemimpin Ambidextrous

Keterbukaan harus digunakan untuk membangun kepercayaan, bukan melukai. Prinsip memberi dan berbagi juga penting diterapkan dalam budaya organisasi, mendorong pemimpin dan karyawan untuk saling mendukung.

Dengan nilai-nilai ini, tercipta lingkungan kerja yang bermakna, di mana setiap individu merasa dihargai dan termotivasi untuk berkembang.


Terkini Lainnya
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau