Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Selandia Baru Ramai Kabur ke Australia, Kenapa?

Kompas.com, 12 Februari 2026, 12:20 WIB
BBC INDONESIA,
Inas Rifqia Lainufar

Tim Redaksi

WELLINGTON, KOMPAS.com - Lebih dari 70.000 warga Selandia Baru telah meninggalkan negara itu hanya dalam satu tahun.

Meskipun angka itu tampak kecil, jumlah tersebut hampir setara dengan 1,4 persen dari sekitar 5,1 juta orang penduduk negara tersebut.

Arus keluar warga Selandia Baru terbesar dalam beberapa dekade ini mulai menimbulkan kekhawatiran negara itu.

Baca juga: Warga Selandia Baru Ramai Kabur ke Luar Negeri, Ada Apa?

Warga Selandia Baru yang memutuskan pindah ke negara lain umumnya tidak memilih tujuan yang jauh seperti Eropa atau Amerika Serikat. Mereka menempuh penerbangan yang relatif singkat: Australia.

Fenomena ini bukanlah hal baru, tetapi intensitas dan konteksnya berbeda.

Selandia Baru telah mencatat kepergian warga mereka dalam jumlah moderat selama beberapa dekade. Arus kepergian itu diimbangi oleh kedatangan imigran dari luar negeri.

Namun, dalam dua tahun terakhir, kepergian warga Selandia Baru meningkat tajam, bertepatan dengan pasar tenaga kerja yang lemah dan persepsi tentang stagnasi ekonomi.

Perbandingan dengan Australia—yang tingkat PDB-nya lebih tinggi, upah lebih besar, punya lebih banyak peluang—menjadi hal yang umum dalam perbincangan di media sosial serta berita utama surat kabar di Selandia Baru.

Yang juga mencolok adalah tipe warga yang memilih pindah.

Dulu, orang-orang yang meninggalkan Selandia Baru biasanya kaum muda yang mencoba peruntungannya selama beberapa tahun di negara tetangga. Namun, saat ini semakin banyak pekerja berpengalaman yang pergi tanpa rencana untuk kembali.

Bagi beberapa ahli, pergeseran paradigma ini dan arus deras kepergian menunjukkan bahwa Selandia Baru mungkin menghadapi lebih dari sekadar siklus migrasi biasa.

Apa yang terjadi?

Angka-angka tersebut mengonfirmasi bahwa eksodus warga Selandia Baru telah memasuki fase luar biasa.

Sebelum pandemi, Selandia Baru mencatat kehilangan warga negara yang relatif stabil, sekitar 3.000 orang per tahun, menurut data badan statistik nasional Stats NZ.

Lebih dari 71.000 warga Selandia Baru beremigrasi dalam periode 12 bulan hingga Oktober 2025. Adapun jumlah yang kembali mencapai 26.000 orang.

Paul Spoonley, profesor emeritus di Universitas Massey di Selandia Baru, menganggap jumlah kepergian tersebut "mengkhawatirkan" karena, meskipun angkanya mirip dengan angka pada 2011-2012, lebih banyak warga asing yang tinggal di Selandia Baru juga pergi. Fakta ini "memperkuat tren [kepergian] yang tidak menunjukkan tanda-tanda melambat."

Halaman:


Terkini Lainnya
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Internasional
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Internasional
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Internasional
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Internasional
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Internasional
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
Internasional
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Internasional
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Internasional
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
Internasional
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
Internasional
Fans PSG Rusuh di Perancis, Hampir 900 Orang Ditangkap
Fans PSG Rusuh di Perancis, Hampir 900 Orang Ditangkap
Internasional
Iran Balas Serang Pangkalan AS, Kesepakatan Damai Kian Jauh
Iran Balas Serang Pangkalan AS, Kesepakatan Damai Kian Jauh
Internasional
AS Usulkan Deeskalasi di Lebanon, tapi Hizbullah Harus Setop Menyerang
AS Usulkan Deeskalasi di Lebanon, tapi Hizbullah Harus Setop Menyerang
Internasional
AS 'Lelah' Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer
AS "Lelah" Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer
Internasional
AS dan Iran Saling Serang, Radar hingga Pangkalan Militer Jadi Sasaran
AS dan Iran Saling Serang, Radar hingga Pangkalan Militer Jadi Sasaran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau