Penulis
KOMPAS.com - Laga final Liga Champions 2025-2026 yang mempertemukan Arsenal dan Paris Saint-Germain bukan sekadar ajang pembuktian kesebelasan terbaik di Eropa.
Namun, partai puncak Liga Champions (UEFA Champions League) 2025-2026 juga menjadi panggung perebutan salah satu hadiah finansial terbesar di jagat sepak bola.
Menjelang duel krusial antara kedua tim tersebut, besaran hadiah uang tunai yang ditawarkan oleh UEFA melalui kompetisi Liga Champions 2025-2026 telah menjadi topik perbincangan utama publik, terlebih bagi penggemar Paris Saint-Germain dan kubu asal London Utara.
Berkat pembaruan struktur keuangan kompetisi, kedua finalis telah mengamankan pundi-pundi pendapatan yang signifikan sepanjang perjalanan mereka menuju partai perebutan gelar.
Menurut model distribusi UEFA untuk musim ini, tim yang sukses mengangkat trofi akan menerima bonus tambahan sekitar 25 juta euro (setara Rp 518 miliar), sedangkan posisi runner-up akan membawa pulang kira-kira 18,5 juta euro (sekitar Rp 383,9 miliar).
Baca juga: Kata Mikel Arteta Usai Arsenal Dibekuk PSG di Final Liga Champions
Angka tersebut nyatanya hanyalah sebagian kecil dari total pemasukan yang dihasilkan selama pergelaran turnamen.
Sejak fase awal kompetisi, setiap klub menerima aliran dana yang dihitung berdasarkan keikutsertaan, performa di fase liga, kelolosan di babak sistem gugur, nilai hak siar televisi, serta posisi di peringkat koefisien UEFA.
Ketika sebuah tim berhasil menembus partai puncak, akumulasi pemasukan mereka kerap kali melampaui hadiah yang disediakan khusus untuk pertandingan final itu sendiri.
Bagi Arsenal dan PSG, total pendapatan pada akhir turnamen ini diproyeksikan bisa menembus angka 100 juta euro atau lebih dari Rp 2 triliun), sangat bergantung pada pembagian bonus performa serta perolehan hak komersial.
Menurut kalkulasi The Athletic, jumlah hadiah uang total yang didapatkan PSG sepanjang kiprah mereka dari fase grup hingga jadi juara bisa mencapai 146 juta euro (sekitar Rp 3 triliun).
Di sisi lain, Arsenal berpotensi mendapatkan prize money sekitar 144 juta euro (Rp 2,9 triliun).
Suntikan dana masif ini memegang peranan krusial dalam industri sepak bola modern.
Klub-klub elite mutlak membutuhkan dana segar tersebut guna menyeimbangkan neraca pengeluaran di bursa transfer, menanggung tagihan gaji pemain, serta mematuhi aturan ketat Financial Fair Play.
Baca juga: Akhir Pilu Arsenal di Liga Champions: Tak Terkalahkan tapi Gagal Juara
Marquinhos mengangkat trofi setelah memenangkan pertandingan sepak bola final Liga Champions UEFA antara Paris Saint-Germain (PSG) vs Arsenal FC di Puskas Arena di Budapest pada 30 Mei 2026. (Foto oleh FRANCK FIFE / AFP)Dampak ekonomi dari raihan gelar juara nyatanya meluas melebihi sekadar pembayaran langsung dari badan sepak bola Eropa.
Kemenangan di laga puncak umumnya memicu lonjakan kesepakatan sponsor, peningkatan penjualan pernak-pernik resmi, lonjakan eksposur di pasar global, hingga kemitraan strategis yang menguntungkan.
Klub yang sukses mendulang prestasi di level Eropa acap kali mengalami peningkatan daya tarik internasional yang tajam.
Memenangi trofi bergengsi ini diyakini tidak hanya memberikan kucuran dana yang berlimpah, tetapi juga mampu mengangkat profil global klub tersebut di jajaran elite sepak bola dunia.
Baca juga: Gagal Juara Liga Champions, Arsenal Ketularan Virus Atletico Madrid
Terlebih, sang pemenang laga ini juga berhak menyegel satu tempat di sejumlah ajang bergengsi lanjutan, termasuk Piala Super UEFA dan Piala Dunia Antarklub FIFA, yang otomatis membuka keran pundi-pundi kekayaan tambahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang