Memuat...

Usai Tragedi Bekasi Timur, Pakar Transportasi ITS Soroti Bahaya Perlintasan Sebidang

Ameera
Kamis, 30 April 2026 / 13 Zulkaidah 1447 09:01
Usai Tragedi Bekasi Timur, Pakar Transportasi ITS Soroti Bahaya Perlintasan Sebidang
Usai Tragedi Bekasi Timur, Pakar Transportasi ITS Soroti Bahaya Perlintasan Sebidang

JAKARTA (Arrahmah.id) - Perlintasan kereta api sebidang di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah tragedi kecelakaan di dekat Stasiun Bekasi Timur yang menelan korban jiwa.

Insiden ini mempertegas tingginya risiko kecelakaan pada titik pertemuan langsung antara kendaraan dan kereta api.

Pakar transportasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Prof. Ir Hera Widyastuti, menilai solusi paling efektif untuk mengurangi risiko tersebut adalah dengan membangun perlintasan tidak sebidang.

“Perlintasan tidak sebidang paling efektif mengeliminasi risiko kecelakaan,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Hera menjelaskan bahwa perlintasan sebidang memiliki kelemahan dari sisi geometrik. Posisi rel kereta yang umumnya lebih tinggi dibandingkan jalan membuat kendaraan harus menanjak saat melintas.

“Kondisi ini sering memicu kesalahan teknis pengemudi, terutama saat panik ketika kendaraan menanjak, sehingga salah dalam memindahkan gigi,” jelasnya.

Ia menambahkan, risiko kendaraan mengalami mati mesin tepat di atas rel juga cukup tinggi. Situasi ini sangat berbahaya karena dapat berujung pada kecelakaan fatal jika kereta melintas dalam waktu bersamaan.

“Hal itu berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal dengan kereta yang melaju,” katanya.

Selain faktor teknis, Hera juga menyoroti tingginya ketergantungan pada kepatuhan manusia serta sistem palang pintu di perlintasan sebidang. Menurutnya, faktor ini tidak selalu dapat diandalkan.

“Kereta bisa melaju hingga 110 kilometer per jam dan tidak dapat berhenti secara mendadak,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa selama masih ada pertemuan langsung antara kendaraan dan kereta api, perlintasan sebidang akan tetap menjadi titik rawan kecelakaan.

“Selama ada pertemuan langsung kendaraan dan kereta, risiko tetap tinggi,” ucapnya.

Sebagai langkah solusi, Hera mendorong pembangunan perlintasan tidak sebidang seperti flyover atau underpass secara masif di berbagai daerah.

“Infrastruktur ini memutus pertemuan kendaraan dan kereta secara total,” tegasnya.

Ia juga menyinggung urgensi pembangunan ini di Surabaya, terutama seiring rencana pengembangan Surabaya Regional Railways Line. Menurutnya, keberadaan perlintasan tidak sebidang menjadi kunci dalam menjaga keselamatan mobilitas masyarakat di masa depan.

“Perlintasan tidak sebidang penting untuk menjaga keselamatan mobilitas masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh, upaya tersebut dinilai sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan global yang menekankan pentingnya infrastruktur yang aman dan kota yang berkelanjutan.

“Langkah ini mendukung infrastruktur aman dan kota berkelanjutan,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)