BEIRUT (Arrahmah.id) - Pasukan militer 'Israel' berhasil merebut Kastil bersejarah Beaufort di Lebanon Selatan pada Ahad (31/5/2026). Keberhasilan ini dicapai setelah militer 'Israel' memperdalam operasi invasinya ke Lebanon Selatan dan merangsek maju melewati zona penyangga "Garis Kuning" (Yellow Line) yang sebelumnya mereka duduki.
Kastil yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Qalaat al-Shaqif ini terletak di atas bukit curam dengan ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut dekat kota Arnoun. Posisi geografis tersebut memberikan keuntungan strategis yang sangat besar karena menghadap langsung ke sebagian besar wilayah Lebanon Selatan, termasuk Lembah Litani, Dataran Marjayoun, Nabatieh, serta wilayah 'Israel' Utara.
Pihak militer 'Israel' menyatakan bahwa operasi ini difokuskan untuk menegakkan kendali penuh atas punggung bukit Beaufort dan area Wadi al-Saluki, sekaligus menghancurkan sisa-sisa infrastruktur militer kelompok Hizbullah. Menyusul keberhasilan tersebut, bendera 'Israel' dilaporkan telah dikibarkan di atas benteng peninggalan abad ke-12 tersebut.
Menteri Pertahanan 'Israel', Israel Katz, menyatakan bahwa penguasaan benteng ini mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada para musuh 'Israel' bahwa mereka yang mengancam warga negaranya secara bertahap akan kehilangan posisi strategis mereka. Senada dengan Katz, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut jatuhnya kastil ini sebagai "tahap dan pergeseran dramatis" dari kebijakan militer yang tengah mereka pimpin.
Merespons perkembangan cepat di lapangan, Prancis langsung mengajukan permintaan resmi untuk menggelar pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Langkah 'Israel' merebut situs warisan dunia ini terjadi justru setelah delegasi militer 'Israel' dan Lebanon melakukan pertemuan keamanan perdana mereka di Washington pada Jumat lalu (29/5).
Sebagai respons atas jatuhnya benteng pertahanan, Hizbullah menembakkan rentetan roket ke beberapa kota di 'Israel' Utara pada Ahad (31/5), termasuk Kiryat Shmona, Nahariya, dan Safed.
Kastil Beaufort, yang awalnya dibangun oleh tentara Salib (Crusaders), merupakan situs warisan budaya yang dilindungi. Pada 2024, benteng ini resmi ditempatkan di bawah status "perlindungan yang ditingkatkan" berdasarkan Protokol Kedua Konvensi Den Haag 1999 tentang Perlindungan Kekayaan Budaya dalam Sengketa Bersenjata. Pemerintah Lebanon sendiri telah menyerahkan memorandum resmi ke UNESCO pada Jumat (29/5) setelah 'Israel' sempat membom kastil tersebut pada Selasa (26/5).
Secara historis, militer 'Israel' pernah menggunakan kastil ini sebagai basis operasi utama saat menduduki Lebanon Selatan antara 1982 hingga 2000. Situs ini juga menjadi saksi pertempuran sengit berhari-hari antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan pasukan 'Israel' selama invasi 1982.
Ahli urusan militer, Brigadir Jenderal Akram Seriwi, menjelaskan kepada The New Arab bahwa karakteristik Kastil Beaufort yang berdiri di atas bukit terjal membuatnya mustahil didekati oleh pasukan infanteri dengan berjalan kaki. Kendali atas benteng kuno berpembatas tebal ini mengamankan jalur logistik belakang 'Israel' dan memungkinkan pertahanan jangka panjang.
Namun, Seriwi mencatat dalam invasi kali ini Hizbullah tampaknya tidak menempatkan pasukan di dalam kastil, terbukti dari masuknya militer 'Israel' tanpa adanya resistensi senjata. Lebih lanjut, ia menilai penggunaan teknologi drone modern oleh Hizbullah secara signifikan telah mengikis nilai strategis benteng dataran tinggi tersebut.
Berbeda dengan rudal antitank yang membutuhkan sudut pandang langsung (direct line-of-sight) dari atas bukit, operator drone saat ini dapat mengidentifikasi target via kamera terpasang dan mengendalikannya dari tempat tersembunyi hingga jarak 30 kilometer. (zarahamala/arrahmah.id)
