Memuat...

Rudal Iran Hantam Pangkalan di Kuwait, Tujuh Orang Termasuk Tentara AS Terluka

Hanoum
Selasa, 2 Juni 2026 / 17 Zulhijah 1447 04:04
Rudal Iran Hantam Pangkalan di Kuwait, Tujuh Orang Termasuk Tentara AS Terluka
Foto ilustrasi. [Foto: X]

KUWAIT (Arrahmah.id) -- Sedikitnya tujuh orang, termasuk personel militer Amerika Serikat (AS), dilaporkan mengalami luka-luka setelah rudal balistik Iran menghantam area sekitar pangkalan militer Ali Al Salem di Kuwait.

Serangan yang terjadi di tengah rapuhnya gencatan senjata antara Washington dan Teheran itu menjadi salah satu insiden paling serius dalam beberapa pekan terakhir dan kembali memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan Teluk.

Dilansir Bloomberg (1/6/2026), sistem pertahanan udara Kuwait berhasil mencegat rudal tersebut, namun serpihan hasil intersepsi tetap jatuh di kawasan pangkalan udara Ali Al Salem dan menyebabkan korban luka serta kerusakan peralatan militer.

Sumber yang mengetahui laporan insiden tersebut menyebut tujuh korban mengalami luka ringan, terdiri dari personel aktif militer AS dan kontraktor sipil yang bekerja di fasilitas tersebut. Selain korban luka, dua unit pesawat nirawak tempur MQ-9 Reaper dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat hantaman serpihan rudal.

Serangan itu terjadi setelah Amerika Serikat melakukan operasi terhadap sejumlah drone dan fasilitas militer Iran yang dinilai mengancam keamanan jalur pelayaran internasional di sekitar Selat Hormuz. Teheran menyebut serangan rudal ke Kuwait sebagai tindakan balasan terhadap operasi militer Amerika Serikat yang dilakukan sebelumnya.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengecam serangan tersebut dan menilai tindakan Iran sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan penghentian sementara permusuhan yang sedang dinegosiasikan kedua negara.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan bahwa militer AS tetap siap melindungi personel dan kepentingannya di kawasan.

“Kami akan terus mempertahankan pasukan dan mitra kami dari setiap ancaman,” demikian pernyataan CENTCOM yang dikutip media internasional.

Pemerintah Kuwait juga menyampaikan protes keras atas serangan tersebut. Otoritas Kuwait menyebut peluncuran rudal ke wilayah negaranya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional. Negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, turut mengutuk serangan tersebut dan menyatakan solidaritas terhadap Kuwait.

Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintahan Presiden Donald Trump masih mempertimbangkan proposal baru dari Iran terkait perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Proposal tersebut mencakup pembahasan program nuklir Iran, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, serta kemungkinan pelonggaran sebagian sanksi ekonomi terhadap Teheran. Namun serangan rudal terbaru ini dinilai dapat mempersulit proses diplomasi yang sedang berlangsung.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menegaskan bahwa Washington tetap membuka jalur negosiasi, tetapi tidak akan ragu mengambil tindakan militer jika pasukan Amerika kembali menjadi sasaran.

“Kami siap mempertahankan kepentingan Amerika dan merespons setiap ancaman yang muncul,” kata Pete Hegseth dalam pernyataannya kepada media.

Dengan adanya korban luka di pihak Amerika Serikat dan serangan yang terjadi di wilayah negara ketiga, insiden ini berpotensi menjadi ujian baru bagi proses diplomasi yang sedang berjalan. Komunitas internasional kini mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri agar ketegangan di kawasan Teluk tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas. (hanoum/arrahmah.id)