Memuat...

Puasa dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar #2

Oleh Ustadz Farid OkbahDa'i dan Ulama Nasional
Ahad, 1 Maret 2026 / 12 Ramadan 1447 11:01
Puasa dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar #2
Puasa dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar #2

(Arrahmah.id) - Dan yang paling mengerikan itu bukan hanya azab yang akan menimpa orang zalim saja, tapi juga bisa mengenai orang-orang shalih apabila mereka tidak bergerak untuk menyadarkannya:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfaal, 8: 25)

Allah akan menjauhkan azab itu selama masih ada kelompok yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud, 11: 117)

Sebab bencana merupakan akibat dari membiarkan syiar ini, terutama nahi mungkarnya. Kebanyakan orang mau terjun dalam amar ma’ruf karena tidak berisiko, tetapi menghindari nahi mungkar karena dianggap berisiko. Nahi mungkar juga wajib dilakukan dengan tahapan yang diarahkan oleh Nabi Muhammad ﷺ:

«مَن رَأَى مِنكُم مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بيَدِهِ، فإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وذلكَ أضْعَفُ الإيمانِ»

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka tolaklah dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Resiko jika nahi mungkar tidak dijalankan adalah keruntuhan dan kehancuran masyarakat. Rasulullah ﷺ menganalogikan hal ini dengan satu kapal:

«مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ ��َعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوَا جَمِيعًا»

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Sebagian berada di bagian atas dan sebagian di bagian bawah kapal. Orang di bagian bawah kala ingin mengambil air harus melewati orang di atasnya. Mereka berkata, ‘Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.’ Jika yang di atas membiarkan, semuanya akan binasa. Namun, jika yang di atas melarang, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal.” (HR. Bukhari)

Begitu pentingnya syiar amar ma’ruf dan nahi mungkar demi menjaga keutuhan masyarakat muslim, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, sampai negara dan dunia peradaban umat manusia. Wilayah sosial, ekonomi, keamanan, politik, hukum, dan lain-lain ikut terjaga.

Namun kenyataannya, umat Islam terbagi menjadi empat golongan:

1. Golongan pertama

Orang-orang yang sadar karena berilmu, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar sebaik mungkin sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah, 9: 71)

2. Golongan kedua

Orang-orang yang antitesa dari golongan pertama, justru menyuruh kemungkaran dan mencegah yang ma’ruf. Golongan ini disebut munafiquun:

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ (67) وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚوَلَعَنَهُمُ اللّٰهُ ۚوَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمٌ (68)

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah sama. Mereka menyuruh yang mungkar dan mencegah yang makruf, menggenggamkan tangannya (kikir), dan telah melupakan Allah sehingga Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya mereka fasik. Allah mengancam mereka dengan neraka Jahanam, kekal di dalamnya. Cukuplah itu bagi mereka. Allah melaknat mereka, dan mereka mendapat azab yang kekal.” (QS. At-Taubah, 9: 67-68)

3. Golongan ketiga

Orang yang melakukan sebagian ma’ruf dan melarang sebagian mungkar. Golongan ini lemah karena rendahnya komitmen terhadap kebenaran Islam, dan kadang terjerumus dalam dosa sehingga syiar amar ma’ruf dan nahi mungkar pada diri mereka lemah.

4. Golongan keempat

Orang awam yang tidak peduli dengan syiar karena sibuk dengan dunianya atau lalai dari akhiratnya. Mereka tidak memiliki ilmu agama dan enggan belajar, sehingga abai sama sekali dari misi amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Tentunya kita berharap menjadi golongan pertama yang selamat karena mengikuti petunjuk Allah.

Wilayah amar ma’ruf dan nahi mungkar sangat luas, seluas syariat Islam dan kehidupan manusia yang berkutat dengan kebaikan dan kebatilan. Mari kita perkuat tim hisbah agar masyarakat tidak tenggelam oleh badai kerusakan.

Kita mulai dari Ramadhan ini, sebagai bekal selama 11 bulan ke depan, sampai bertemu Ramadhan berikutnya. Amin.

(*/arrahmah.id)

Editor: Samir Musa