GAZA (Arrahmah.id) - Pasukan Angkatan Laut 'Israel' kembali mencegat konvoi kemanusiaan Armada Ketahanan Global (Global Resilience Flotilla) yang sedang dalam perjalanan menuju Jalur Gaza di perairan internasional, Rabu (29/4/2026). Armada yang membawa bantuan kemanusiaan dan ratusan aktivis ini dihadang dalam upaya mereka untuk memecah blokade laut yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Sesaat sebelum tengah malam, penyelenggara armada mengeluarkan sinyal bahaya setelah melaporkan adanya gangguan sinyal pada sebagian besar kapal mereka di Laut Mediterania.
Angkatan Laut 'Israel' mengonfirmasi bahwa mereka mulai mencegat kapal-kapal tersebut di dekat Pulau Kreta, Yunani. Otoritas militer 'Israel' menyatakan telah mengambil kendali atas 7 dari 58 kapal yang tergabung dalam konvoi tersebut.
Kapal-kapal yang disita kemungkinan besar akan ditarik ke Pelabuhan Ashdod, 'Israel'.
Misi yang diberi nama Misi Musim Semi 2026 ini merupakan mobilisasi maritim sipil terkoordinasi terbesar menuju Gaza. Perjalanan dimulai dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026 dengan 39 kapal, yang kemudian bertambah menjadi 56 kapal setelah singgah di Italia.
Kapal-kapal ini mengibarkan berbagai bendera negara, termasuk Spanyol, Italia, dan Tunisia. Organisasi lingkungan Greenpeace juga turut serta dengan kapal Arctic Sunrise untuk memberikan dukungan teknis.
Armada ini membawa bantuan darurat berupa makanan, susu bayi, peralatan medis, bahan sanitasi, dan alat pendidikan.
Justifikasi Hukum dan Keamanan
Pihak militer 'Israel' membela tindakan tersebut dengan menyatakan bahwa upaya memecah blokade laut adalah pelanggaran terhadap hukum internasional. Perwira Angkatan Laut 'Israel' menyatakan kepada media Ma'ariv bahwa blokade tersebut legal dan bertujuan mencegah masuknya senjata ke faksi-faksi Palestina di Gaza.
'Israel' secara konsisten melabeli misi kemanusiaan semacam ini sebagai tindakan provokatif yang bertujuan merusak stabilitas kawasan.
Penghadangan ini menambah daftar panjang bentrokan di perairan internasional. Sebelumnya, pada Juni 2025, Angkatan Laut 'Israel' mencegat kapal Madeleine yang baru saja bertolak dari Italia. Tak lama berselang, tepatnya pada 13 Juli 2025, kapal Handala yang membawa misi 'Untuk Anak-anak Gaza' juga mengalami nasib serupa sebelum berhasil mencapai pesisir Gaza.
Insiden paling tragis terjadi pada Mei 2010 saat penyerbuan kapal Mavi Marmara yang menewaskan 10 aktivis Turki. Sejak 2008, tercatat hanya beberapa kapal yang berhasil menembus blokade, termasuk kapal Dignity dari Qatar pada Desember 2008.
Hingga saat ini, ketegangan di Mediterania Timur tetap tinggi seiring dengan terus dilakukannya penghadangan terhadap upaya-upaya sipil internasional untuk menjangkau pantai Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
