TEL AVIV (Arrahmah.id) -- 'Israel' menegaskan tidak akan mengirim pasukan darat untuk membantu operasi militer Amerika Serikat (AS) di Iran, menandai perbedaan strategi di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di Timur Tengah.
Keputusan tersebut disampaikan, seperti dilansir Middle East Monitor (31/3/2026), di tengah spekulasi bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan opsi operasi darat untuk mempercepat pencapaian target militernya di Iran. Namun, pemerintah 'Israel' memilih untuk tidak terlibat dalam skenario tersebut dan tetap membatasi perannya pada operasi udara serta serangan presisi.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa 'Israel' menilai keterlibatan pasukan darat berisiko tinggi dan dapat memperluas konflik menjadi perang regional yang lebih besar. Selain itu, operasi darat dinilai akan memakan waktu lama dan berpotensi menimbulkan korban besar di kedua belah pihak.
Sementara itu, pejabat Amerika Serikat sendiri sebelumnya menyatakan bahwa tujuan militer terhadap Iran masih dapat dicapai tanpa perlu pengerahan pasukan darat secara besar-besaran.
Di sisi lain, laporan dari berbagai media internasional menunjukkan bahwa Pentagon memang telah menyiapkan sejumlah opsi, termasuk kemungkinan operasi darat terbatas oleh pasukan khusus, meski belum ada keputusan final dari Presiden Donald Trump.
Perbedaan sikap antara 'Israel' dan Amerika Serikat ini mencerminkan dinamika aliansi di tengah konflik. Meski kedua negara bekerja sama dalam serangan udara terhadap Iran sejak awal perang, Israel tampaknya berhati-hati untuk tidak terseret lebih jauh ke dalam operasi militer skala besar di wilayah Iran.
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026 melalui operasi gabungan udara antara AS dan 'Israel' telah berkembang menjadi perang terbuka dengan serangan balasan Iran ke berbagai target di kawasan.
Dengan situasi yang semakin kompleks, para analis menilai penolakan 'Israel' untuk mengirim pasukan darat menunjukkan adanya batasan dalam kerja sama militer kedua negara, sekaligus mencerminkan kekhawatiran akan konsekuensi jangka panjang jika perang terus meningkat ke tahap invasi darat. (hanoum/arahmah.id)
