KOMPAS.com - Akses internet yang memadai dan kecepatan tinggi masih sulit dijangkau oleh beberapa perguruan tinggi swasta (PTS) dalam negeri.
Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Paristiyanti Nurwardani mengatakan selama ini kampus-kampus yang tergabung dalam naungan asosiasi ini terkendala untuk saling terhubung termasuk dalam proses pertukaran ilmu.
"Selama ini kami tidak bisa reach, tidak bisa sampai ke dosen dan mahasiswa di seluruh Indonesia yang anggota APTISI arena keterbatasan komunikasi," kata Paristiyanti diwawancarai di Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026) lalu.
APTISI kini menjalin kolaborasi strategis dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) untuk penyediaan layanan internet.
Penandatanganan nota kesepahaman diadakan di Gedung Kemendikti saintek dan dihadiri oleh Mendiktisaintek, Brian Yuliarto.
"Transformasi digital merupakan fondasi penting untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperluas memperkuat relevansi perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan nasional," ujar Mendiktisaintek.
Ketua Umum APTISI Pusat, Muhammad Budi Djatmiko berkata PTS merupakan kekuatan besar pendidikan tinggi nasional karena tersebar di berbagai wilayah.
"Jika Indonesia ingin meningkatkan Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi secara signifikan, maka PTS harus diperkuat. Tidak mungkin APK pendidikan tinggi naik secara nasional tanpa melibatkan perguruan tinggi swasta. Karena itu, kerja sama APTISI dan SURGE ini merupakan langkah strategis untuk memperluas akses, menekan kesenjangan digital, dan mempercepat pembelajaran berbasis teknologi," kata Budi.
Baca juga: SPMB 2026: Gagal ke Sekolah Negeri Bisa ke Swasta, 53 Pemda Beri Subsidi
Lebih lanjut Paristiyanti mengungkapkan bahwa APTISI menaungi 4.095 PTS sejauh ini.
Tahun ini sebanyak 1.334 PTS di antaranya ditargetkan akan mendapat layanan internet gratis dari SURGE lebih dahulu.
"Yang tahun ini, tahun ini sampai dengan bulan November kita akan reach kampus 1.334 yang pakai SURGE," ucap Paristiyanti.
Paristiyanti yang juga Rektor Universitas Bhakti Asih Tangerang (Unibang) membeberkan contoh di kampusnya setiap bulan perlu mengeluarkan biaya layanan internet Rp 16 juta sampai Rp 24 juta untuk gedung berlantai delapan.
Direktur SURGE, Andi L Bharata menambahkan kerja sama ini mencakup layanan internet gratis berkecepatan tinggi.
"Jadi kita berikan layanan internet menggunakan fiber optik murni dengan kecepatan 1 Giga tanpa kuota.Jadi enggak ada FUP, enggak ada sebagainya. Itu kita berikan untuk menunjang pembelajaran di perguruan tinggi," tutur Andi.
PTS di bawah APTISI juga akan dapat lebih muda terhubung dengan platform pembelajaran online Sistem Pembelajaran Daring (SPADA).