Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siswa SMAN 1 Purwakarta Olok-olok Guru, Ini Respons Mendikdasmen

Kompas.com, 20 April 2026, 16:27 WIB
Sania Mashabi,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti angkat bicara terkait adanya kasus siswa SMAN 1 Purwakarta yang membully gurunya dengan mengacungkan jari tengah.

Mu'ti mengatakan, saat ini kasus tersebut sudah selesai dan siswa-siswa yang melakukan bullying terhadap guru tersebut sudah meminta maaf.

"Sudah diselesaikan, anak-anak itu kan sudah minta maaf ya kepada gurunya dan sudah kita selesaikan sesuai dengan Peraturan Menteri tentang sekolah aman dan nyaman," kata Mu'ti di Palmerah, Jakarta Barat, Senin (20/4/2026).

Baca juga: Lowongan Kerja Dosen Tetap Non-PNS di ITS, Ada 50 Formasi di 33 Jurusan

Berharap tidak terjadi lagi di sekolah lain

Ia pun berharap kasus seperti ini bisa menjadi pengalaman yang berharga dan tidak terjadi lagi di sekolah lain.

Selain itu, Mu'ti juga mengimbau agar semua sekolah bisa menciptakan suasana yang aman dan nyaman dalam semua aspek sesuai aturan dari pemerintah.

"Kami mengimbau semuanya agar sekolah yang aman dan nyaman, saling menghormati, apalagi sudah ada ikrar Pelajar Pancasila kan di mana mereka harus menghormati, mencintai orangtua dan guru ini bisa kita tekankan untuk membangun sekolah yang aman," ujarnya. Mahasiswa

"Dan menjadikan pendidikan sebagai bagian dari proses kita membangun peradaban, membangun akhlak yang mulia," pungkas Mu'ti.

Siswa olok-olok guru

Sebelumnya diberitakan, aksi sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta yang mengolok-olok guru, menuai kecaman publik.

Aksi ini terkuak selepas video singkatnya beredar dan viral di media sosial. Dalam rekaman berdurasi 31 detik tersebut, para siswa tampak mengolok-olok seorang guru perempuan di dalam ruang kelas.

Baca juga: Kisah Amelia Masinis Perempuan Pertama MRT Jakarta yang Raih Beasiswa LPDP

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan orang siswa kelas XI IPS dan terjadi pada Kamis (16/4/2026), namun baru viral di media sosial pada Sabtu (18/4/2026).

Menurut Purwanto, aksi pelecehan ini bermula tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) terkait pengolahan aneka makanan selesai dilaksanakan.

Guru yang menjadi sasaran olok-olok diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.

“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto di Bandung, Sabtu (18/4/2026).

Dalam cuplikan video yang beredar, terlihat seorang siswi melakukan tindakan provokatif dengan mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru yang berada di depannya.

Baca juga: Sosok Zulfi, Anak Kuli Bangunan Jadi Lulusan Tercepat dan Cumlaude Teknik Metalurgi ITB

Pihak SMAN 1 Purwakarta telah mengambil langkah sigap dengan memanggil para siswa yang terlibat beserta orangtua mereka.

Sebagai konsekuensi awal, sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari kepada sembilan siswa tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau