Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Rafa Kusuma, Dalang Cilik Down Syndrome Berbakat Asal Yogyakarta

Kompas.com, 19 September 2024, 14:47 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

Penulis: Azalea Dawnika Harleen | SMAN 5 Yogyakarta | Finalis FLS2N 2024 Bidang Jurnalistik

KOMPAS.com - Warna-warni Pandawa Lima tersusun rapih di atas layang teater terbingkai kayu berukir. Di bawahnya, sebuah dingklik menjadi saksi keriangan empunya dua belas tahun lalu saat belajar menceritakan kisah Mahabarata.

Pemiliknya adalah seorang dalang cilik (kecil) yang menyandang disabilitas perkembangan intelektual bernama down syndrome, Rafa Kusuma Atma Wibowo. Ia mengenakan blangkon batik khas daerah asalnya, Kota Pelajar, Yogyakarta.

Down syndrome yang ia alami bukan halangan untuk mengembangkan bakatnya dalam dunia pedalangan. Saat berada di atas panggung dengan wayang dalam genggaman mungilnya, ia selalu berhasil memukau penonton.

Setiap gerakan dan sabetan yang dilakukannya layaknya dalang profesional.

Ayah Rafa, Ludy Bimasena Wibowo, menceritakan kisah putranya melawan belenggu down syndrome.

Diawali dari keinginannya untuk mengembangkan kemampuan motorik Rafa. “Anak down syndrome itu banyak mengalami keterbelakangan, dalam berpikir dan bertindak,” ungkap pria berumur 53 tahun itu.

Dia pun menjelaskan bagaimana cara Rafa mengantisipasi hal tersebut, yaitu melalui pelatihan dan stimulasi.

“Harus berlatih sinkronisasi pendengeran dengan pikiran, lalu dengan gerakan. Karena saya orang Jawa ya, awalnya saya kenalkan dengan jathilan. Namun akhirnya kami memilih wayang," sambung Ludy.

Selain sebagai bentuk intervensi dini, Ludy memilih kesenian tradisonal tersebut karena keinginannya untuk melestarikan budaya Indonesia. “Saya memang belum pernah menonton pertunjukan wayang semalaman, apalagi sampai memainkannya," ungkap Ludy.

Baca juga: Ketentuan untuk Penonton Konser Coldplay Pengguna Kursi Roda dan Kebutuhan Khusus

"Tapi saat saya masih remaja, sekitar tahun 1980-an, saya senang sekali membaca komik wayang. Saya rasa minat anak sekarang sudah turun kepada hal itu. Jadi saya ingin membantu melestarikan dengan mengajarkannya kepada Rafa,” kata Ludy.

Down Syndrome, Peniru Hebat

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau