Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Lahirnya Vespa, Desain Pengendara Dulu Baru Motor

Kompas.com, 27 Mei 2026, 11:02 WIB
Muhammad Fathan Radityasani,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menikmati perjalanan selama 80 tahun di belahan dunia, Vespa bukan lagi sekadar alat transportasi roda dua biasa. Skuter ikonik asal Italia ini telah menjelma menjadi simbol gaya hidup, seni, dan budaya berkendara yang melintasi berbagai generasi.

Namun, di balik keindahan lekuk bodinya yang abadi hingga sekarang, tersimpan berbagai fakta unik dan sejarah menarik saat pertama kali skuter ini dirancang pasca-Perang Dunia ke-2 pada tahun 1945.

Irvan Henrianto, Technical Training Manager PT Piaggio Indonesia, membagikan kisah menarik ini di sela-sela perayaan ulang tahun Vespa yang ke-80 di Jakarta.

Baca juga: Kupas Spesifikasi Vespa GTS 250, Tenaga Mirip GTS 300

Vespa 80th Anniversary resmi meluncur di IndonesiaKOMPAS.com/FATHAN Vespa 80th Anniversary resmi meluncur di Indonesia

Filosofi Desain: Gambar Orangnya Dulu, Baru Motornya

Jika produsen otomotif pada umumnya mendesain bentuk sepeda motor terlebih dahulu baru memikirkan posisi duduk pengendaranya, Vespa justru melakukan hal yang sebaliknya.

Sang insinyur perancang, Corradino D'Ascanio, memulai proyek progetto della Vespa dengan menggambar postur tubuh manusia terlebih dahulu saat sedang duduk santai berkendara.

Setelah gambar manusia itu selesai, barulah ia menarik garis luar untuk mendesain rangka motor di sekelilingnya.

"Filosofi kita memang berbeda. Kita bikin dulu orangnya, digambar dulu, setelah itu baru dilanjutkan merancang motornya. Jadi ketika kita naik Vespa, pengendara akan selalu berada tepat di tengah-tengah kendaraan tersebut," ujar Irvan, Selasa (26/5/2026).

Baca juga: Dari Ruang Kelas di Depok, BYD Memulai Langkah Kecil untuk Masa Depan

Kaka Slank saat riding bersama komunitas Vespa di Kota Malang, Minggu (19/4/2026).Dok. IMRON HAKIKI/KOMPAS.com Kaka Slank saat riding bersama komunitas Vespa di Kota Malang, Minggu (19/4/2026).

Ramah Pengendara Wanita

Latar belakang penciptaan Vespa didasari oleh hancurnya pabrik Piaggio di Pontedera akibat serangan udara tentara sekutu pada Perang Dunia ke-2. Italia saat itu sangat membutuhkan kendaraan harian yang praktis, murah, dan bisa dipakai oleh siapa saja untuk membangun kembali mobilitas mereka.

D'Ascanio kemudian merancang motor tanpa "tulang tengah" atau dek backbone yang tinggi. Rangka monokok dengan dek lantai yang rata (step-through) sengaja diciptakan demi kemudahan akses berkendara.

"Coba bayangkan kalau desain motor saat itu ada tulangnya di tengah, kaum perempuan yang memakai rok pasti akan sangat kesulitan untuk naik. Makanya dibuatlah desain dek rata agar praktis dan mudah digunakan oleh siapa saja, termasuk wanita," kata Irvan menjelaskan.

Peraih medali SEA GAMES 2025 Basral Graito Hutomo (18) saat meluncur menggunakan papan skate melompati vespa di jalanan depanrumahnya, Desa Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Kamis (18/12/202). KOMPAS.com/Romensy Augustino Peraih medali SEA GAMES 2025 Basral Graito Hutomo (18) saat meluncur menggunakan papan skate melompati vespa di jalanan depanrumahnya, Desa Tohudan, Colomadu, Karanganyar, Kamis (18/12/202).

Asal-Usul Nama "Vespa" yang Berarti Tawon

Nama "Vespa" yang mendunia hingga saat ini ternyata lahir secara spontan dari ucapan Enrico Piaggio, anak dari pendiri perusahaan, Rinaldo Piaggio.

Ketika melihat purwarupa pertama motor berkode MP6 selesai dibuat, Enrico mengamati bentuk fisiknya secara saksama. Ia melihat bagian jok penunggangnya yang ramping, bagian bodi belakang yang menggemuk lebar untuk menutupi mesin, serta bagian ekor atau lampu belakang yang kembali menyempit.

Begitu mesin dua tak berkapasitas 98 cc dinyalakan dan mengeluarkan suara garing yang khas, Enrico langsung berceletuk spontan.

"Beliau melihat desainnya lalu berkata, 'Sembra una vespa!' yang artinya 'Kelihatan seperti tawon'. Karena bentuk belakangnya montok seperti tawon dan suaranya mendengung mirip serangga tersebut, akhirnya nama Vespa segera dipatenkan dan dipakai hingga hari ini," kata Irvan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau