Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bus Listrik AKAP: Tantangan Investasi dan Infrastruktur di Indonesia

Kompas.com, 20 April 2026, 12:22 WIB
Janlika Putri Indah Sari,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah terus menggaungkan penggunaan kendaraan listrik di Tanah Air, begitu juga dengan bus.

Hal ini tentunya turut menyita perhatian bagi para pemilik usaha transportasi antarkota yang selama ini menggunakan bus konvensional.

Anthony Steven Hambali, Ketua Angkutan Pariwisata DPP Organda dan juga pemilik PO Sumber Alam mengatakan, dirinya selalu mendukung kebijakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan BBM.

Baca juga: Industri Otomotif 2026 Tertekan: BBM Naik, Pajak EV Berubah

Namun biaya investasi untuk pembelian bus listrik menurutnya masih sangat tinggi.

"Biaya investasi bus listrik masih tinggi. Sumber Alam sendiri sempat melakukan uji coba layanan bus AKAP listrik menggunakan unit milik Kalista rute Jakarta - Yogya," katanya kepada Kompas.com, di acara forum diskusi Solusi Strategis Hadapi Kelangkaan BBM: Akselerasi Elektrifikasi Transportasi Publik dan Industri, beberapa hari yang lalu.

Berdasarkan uji coba tersebut, Anthony memperkirakan mampu membeli satu unit bus listrik lantaran harganya masih sangat tinggi.

Namun yang jadi masalah adalah kesiapan infrastruktur yang ada.

Perbandingan dimensi bus listrik dan bus biasa Sumber AlamKOMPAS.com/FATHAN Perbandingan dimensi bus listrik dan bus biasa Sumber Alam

Baca juga: Harga Solar Non-Subsidi Naik: Konsumen Bimbang Beralih ke EV?

Sebab saat ini ketersediaan fasilitas pengisian daya listrik bus masih minim.

Maka dari itu dikhawatirkan terjadi antrean pengisian daya bus listrik karena harus gantian.

Kondisi tersebut pada akhirnya membuat operasional bus jadi terhambat dalam mengantar penumpang.

"Jadi tantangan implementasi kendaraan listrik pada layanan bus AKAP itu adalah harga kendaraan lebih tinggi, sehingga skema pembiayaan akan mengikuti. Kemudian teknologinya masih baru," katanya.

Anthony juga mengatakan, yang paling ditakutkan oleh para konsumen terhadap kendaraan listrik adalah depresiasi.

Selain itu jika masa pakai baterai bus sudah selesai masih jadi pertanyaan harus bagaimana kelanjutannya.

Maka dari itu, menurutnya kebijakan yang paling masuk akal diterapkan saat ini adalah suplai BBM untuk prioritaskan angkutan umum.

"Kemudian subsidi BBM harus tepat sasaran, langsung ke operator," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau