Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laut Tercemar Jadi Ruang Bermain Anak di Cilincing, ISPA-Gangguan Hormon Mengintai

Kompas.com, 3 Maret 2026, 10:28 WIB
Shinta Dwi Ayu,
Faieq Hidayat

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hamparan laut yang luas di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, tak lagi menawarkan warna kebiruan.

Laut di Pesisir Jakarta itu justru berubah warna menjadi keruh yang dihiasi dengan beraneka ragam limbah, baik cair maupun padat.

Limbah padat seperti sampah plastik bekas makanan dan minuman, kayu, kulit kerang, pembalut, popok, dan lainnya, menghiasi laut Kalibaru Cilincing setiap harinya.

Baca juga: Anak-anak Cilincing Berenang di Laut Tercemar Bentuk Kemiskinan Struktural

Mirisnya lagi di bibir pantai, sampah seperti sofa bekas, kain bekas, bambu, kayu, juga menumpuk, sehingga membuat laut di lokasi ini begitu kumuh.

Meski kondisinya memerihatinkan, laut di Kalibaru Cilincing tetap menjadi favorit anak-anak dari kelas marginal untuk berenang.

Salah satu anak bernama Aris (11) mengaku, senang berenang di laut karena tidak mampu membeli tiket kolam renang.

"Soalnya mamamhnya enggak punya uang kalau beli tiket kolam renang, jadi mending berenang di laut situ," tutur Aris ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (27/2/2026).

Padahal, kata Aris, berenang di laut penuh sampah tidak senyaman di kolam renang yang berbayar, karena tubuhnya sering gatal.

Selain gatal, kakinya juga sering terluka karena di bawah laut banyak terdapat benda tajam seperti paku, pecahan kaca, kulit kerang, dan lain sebagainya.

Baca juga: Anak Cilincing Berenang di Laut Tercemar: Mama Tak Punya Uang Bayar Tiket Kolam Renang

Anak lain, Rafa (8), juga mengaku kakinya sering terluka, karena terkena kulit kerang yang ada di bawah laut.

"Aku juga pernah terluka, karena kena tritib (kulit kerang), tapi enggak kapok berenang di laut karena seru," tutur Rafa, Jumat.

Potensi tersedak

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Infeksi dan Penyakit Tropis RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Dwinanda Aidina, Sp. A, Subsp. I.P.T, mengatakan laut tercemar sampah atau limbah sangat tidak direkomendasikan untuk dijadikan sebagai tempat berenang anak-anak, karena berbahaya.

"Pertama, anak dapat tertelan sampah yang terapung di laut dan menyebabkan tersedak," ungkap dr. Dwinanda dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Di Cilincing, Laut Tercemar Berubah Menjadi Arena Bermain Anak-anak

dr. Dwinanda mengatakan, sampah dapat mengandung bahan kimia berbahaya dan tercemar kuman, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit.

Selain itu, sampah juga bisa mengandung benda tajam seperti pecahan kaca, kaleng, dan lain sebagainya, yang dapat melukai anak-anak ketika berenang.

Ganggu metabolisme dan ISPA

Sementara sampah plastik dapat mengandung bahan kimia berbahaya dan mikroplastik yang dapat tertelan atau masuk melalui pori-pori kulit.

Mikroplastik dapat mengikat polutan kimia dan logam berat di laut.

Apabila tertelan, zat tersebut berpotensi mengganggu sistem hormon anak dalam jangka panjang.

Halaman:
Bahas berita ini dengan KARIN
KARIN
KARIN
Hai
KARIN siap bantu kamu menemukan jawaban lebih cepat.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.



Terkini Lainnya
2 Rumah di Muara Angke Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
2 Rumah di Muara Angke Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Megapolitan
SIM Mati Saat Libur Pancasila? Masih Bisa Diperpanjang Hari Ini
SIM Mati Saat Libur Pancasila? Masih Bisa Diperpanjang Hari Ini
Megapolitan
Nestapa Korban Hanania Travel: Tergiur Rekor MURI, Gagal Umrah, Kini Tuntut Ganti Rugi Rp 100 Miliar
Nestapa Korban Hanania Travel: Tergiur Rekor MURI, Gagal Umrah, Kini Tuntut Ganti Rugi Rp 100 Miliar
Megapolitan
Tol Jakarta Macet Pagi Ini, Contraflow Diberlakukan di Sejumlah Ruas
Tol Jakarta Macet Pagi Ini, Contraflow Diberlakukan di Sejumlah Ruas
Megapolitan
3 Warga Terluka Akibat Kebakaran Permukiman di Belakang Pasar Jiung Kemayoran
3 Warga Terluka Akibat Kebakaran Permukiman di Belakang Pasar Jiung Kemayoran
Megapolitan
Kedok Paket Nikah Murah WO Marwah: Tipu 58 Calon Pengantin, Pemilik Ternyata Residivis
Kedok Paket Nikah Murah WO Marwah: Tipu 58 Calon Pengantin, Pemilik Ternyata Residivis
Megapolitan
BMKG: Jakarta Panas Lembap Hari Ini, Sore Potensi Hujan
BMKG: Jakarta Panas Lembap Hari Ini, Sore Potensi Hujan
Megapolitan
PMI Bangun Dua Tenda Darurat untuk Korban Kebakaran Kemayoran Jakpus
PMI Bangun Dua Tenda Darurat untuk Korban Kebakaran Kemayoran Jakpus
Megapolitan
Juni 2026 Ada 2 Tanggal Merah, Ini Jadwal Libur dan Long Weekend
Juni 2026 Ada 2 Tanggal Merah, Ini Jadwal Libur dan Long Weekend
Megapolitan
Ganjil Genap Jakarta Kembali Berlaku Hari Ini, Pelanggar Siap-siap Ditilang
Ganjil Genap Jakarta Kembali Berlaku Hari Ini, Pelanggar Siap-siap Ditilang
Megapolitan
Kebakaran Kemayoran Jakpus: 8 Warga Dilarikan ke RS karena Sesak Napas
Kebakaran Kemayoran Jakpus: 8 Warga Dilarikan ke RS karena Sesak Napas
Megapolitan
Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Keamanan Ragunan Usai Anak Jatuh ke Kandang Gajah
Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Keamanan Ragunan Usai Anak Jatuh ke Kandang Gajah
Megapolitan
Komisi C DPRD DKI Dorong Optimalisasi Iklan MRT dan TransJakarta untuk PAD
Komisi C DPRD DKI Dorong Optimalisasi Iklan MRT dan TransJakarta untuk PAD
Megapolitan
Kebakaran Kampung Pasar Jiung Kemayoran Hanguskan Ratusan Rumah, 500 KK Terdampak
Kebakaran Kampung Pasar Jiung Kemayoran Hanguskan Ratusan Rumah, 500 KK Terdampak
Megapolitan
Komisi C DPRD DKI: Pengelolaan Pendapatan Jakarta Masih On The Track
Komisi C DPRD DKI: Pengelolaan Pendapatan Jakarta Masih On The Track
Megapolitan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Laut Tercemar Jadi Ruang Bermain Anak di Cilincing, ISPA-Gangguan Hormon Mengintai
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat