JAKARTA, KOMPAS.com - Hamparan laut yang luas di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, tak lagi menawarkan warna kebiruan.
Laut di Pesisir Jakarta itu justru berubah warna menjadi keruh yang dihiasi dengan beraneka ragam limbah, baik cair maupun padat.
Limbah padat seperti sampah plastik bekas makanan dan minuman, kayu, kulit kerang, pembalut, popok, dan lainnya, menghiasi laut Kalibaru Cilincing setiap harinya.
Baca juga: Anak-anak Cilincing Berenang di Laut Tercemar Bentuk Kemiskinan Struktural
Mirisnya lagi di bibir pantai, sampah seperti sofa bekas, kain bekas, bambu, kayu, juga menumpuk, sehingga membuat laut di lokasi ini begitu kumuh.
Meski kondisinya memerihatinkan, laut di Kalibaru Cilincing tetap menjadi favorit anak-anak dari kelas marginal untuk berenang.
Salah satu anak bernama Aris (11) mengaku, senang berenang di laut karena tidak mampu membeli tiket kolam renang.
"Soalnya mamamhnya enggak punya uang kalau beli tiket kolam renang, jadi mending berenang di laut situ," tutur Aris ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (27/2/2026).
Padahal, kata Aris, berenang di laut penuh sampah tidak senyaman di kolam renang yang berbayar, karena tubuhnya sering gatal.
Selain gatal, kakinya juga sering terluka karena di bawah laut banyak terdapat benda tajam seperti paku, pecahan kaca, kulit kerang, dan lain sebagainya.
Baca juga: Anak Cilincing Berenang di Laut Tercemar: Mama Tak Punya Uang Bayar Tiket Kolam Renang
Anak lain, Rafa (8), juga mengaku kakinya sering terluka, karena terkena kulit kerang yang ada di bawah laut.
"Aku juga pernah terluka, karena kena tritib (kulit kerang), tapi enggak kapok berenang di laut karena seru," tutur Rafa, Jumat.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Infeksi dan Penyakit Tropis RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Dwinanda Aidina, Sp. A, Subsp. I.P.T, mengatakan laut tercemar sampah atau limbah sangat tidak direkomendasikan untuk dijadikan sebagai tempat berenang anak-anak, karena berbahaya.
"Pertama, anak dapat tertelan sampah yang terapung di laut dan menyebabkan tersedak," ungkap dr. Dwinanda dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Di Cilincing, Laut Tercemar Berubah Menjadi Arena Bermain Anak-anak
dr. Dwinanda mengatakan, sampah dapat mengandung bahan kimia berbahaya dan tercemar kuman, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit.
Selain itu, sampah juga bisa mengandung benda tajam seperti pecahan kaca, kaleng, dan lain sebagainya, yang dapat melukai anak-anak ketika berenang.
Sementara sampah plastik dapat mengandung bahan kimia berbahaya dan mikroplastik yang dapat tertelan atau masuk melalui pori-pori kulit.
Mikroplastik dapat mengikat polutan kimia dan logam berat di laut.
Apabila tertelan, zat tersebut berpotensi mengganggu sistem hormon anak dalam jangka panjang.
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.