Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Menyadarkan Ayah yang Enggan Menafkahi Anak? Ini Kata Psikolog

Kompas.com, 17 April 2026, 21:00 WIB
Ida Setyaningsih

Penulis

 KOMPAS.com – Fenomena ayah yang belum menunaikan nafkah anak pasca perceraian masih menjadi perhatian, termasuk di Surabaya.

Dalam perspektif hukum maupun psikologi, kewajiban tersebut tidak terputus meski hubungan pernikahan telah berakhir.

Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menilai bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan tekanan atau sanksi semata.

Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk menyadarkan ayah agar kembali menjalankan tanggung jawabnya.

Pendekatan kognitif: meluruskan cara pandang

Langkah awal yang penting adalah memperbaiki cara berpikir.

Tak sedikit para ayah yang masih keliru memaknai nafkah sebagai bentuk bantuan kepada mantan istri, bukan sebagai hak anak.

Dalam aturan seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, kewajiban orangtua untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan anak tetap berlaku setelah perceraian.

Artinya, nafkah merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak, mulai dari kebutuhan fisik, pendidikan, hingga kesejahteraan hidup.

"Secara kognitif, penting memberikan edukasi yang jelas bahwa dalam perspektif hukum dan psikologi perkembangan, nafkah merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar anak (fisik, pendidikan, dan kesejahteraan), sehingga tidak bergantung pada relasi dengan mantan pasangan," ujar Meity saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu yang lalu.

Baca juga: Mengapa Ayah Tetap Wajib Menafkahi Anak Pasca Bercerai? Ini Alasannya

Pendekatan emosional: membangun kembali keterikatan

Selain pemahaman, aspek emosional juga perlu disentuh.

Menurut Meity, dalam banyak kasus, ayah yang enggan menafkahi anak sebenarnya mengalami jarak emosional atau bahkan “memutus keterikatan” setelah perceraian.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak sebaiknya berfokus pada menyalahkan, melainkan membangun kembali empati dan kedekatan dengan anak.

“Dalam ruang praktek saya, pendekatan yang efektif seringkali bukan menyalahkan si ayah, tetapi mengajak ayah melihat dirinya sebagai figur penting yang tetap dibutuhkan anak, terlepas dari perceraian,” jelasnya.

Ketika keterikatan emosional kembali terbangun, kesadaran untuk memenuhi tanggung jawab biasanya akan ikut menguat.

Baca juga: Istri Bekerja atau IRT, Nafkah Tetap Kewajiban Suami

Pendekatan sosial: peran lingkungan dan norma

Perubahan juga tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang terhadap peran ayah.

Kampanye publik, figur teladan, hingga norma sosial yang menegaskan bahwa menjadi ayah adalah peran seumur hidup dapat membantu membangun kesadaran kolektif.

Dalam hal ini, masyarakat juga berperan untuk tidak menormalisasi sikap abai terhadap kewajiban orangtua, serta mendorong adanya tanggung jawab yang berkelanjutan.

Baca juga: Di Balik Ribuan Ayah yang Abai Menafkahi Anak di Surabaya, Ini Penjelasan Psikolog

Kunci perubahan ada pada kesadaran

Pada akhirnya, menyadarkan ayah yang enggan menafkahi anak bukan perkara instan. Dibutuhkan kombinasi antara edukasi, pendekatan emosional, dukungan sosial, serta penegakan hukum yang konsisten.

Ketika ayah mampu melihat bahwa nafkah bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk kehadiran dan tanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, maka perubahan pola pikir akan lebih mudah terjadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
Wellness
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Relationship
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Relationship
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Fashion
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Fashion
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Wellness
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Relationship
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
Beauty & Grooming
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Fashion
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Wellness
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Relationship
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Relationship
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Wellness
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
Wellness
6 Rekomendasi Serum Cushion, Ringan dan Flawless di Kulit Wajah
6 Rekomendasi Serum Cushion, Ringan dan Flawless di Kulit Wajah
Beauty & Grooming
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau