Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Balik Ribuan Ayah yang Abai Menafkahi Anak di Surabaya, Ini Penjelasan Psikolog

Kompas.com, 16 April 2026, 17:00 WIB
Ida Setyaningsih

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Fenomena ayah yang tidak menunaikan nafkah anak pasca perceraian menjadi sorotan di Surabaya.

Berdasarkan data Pemkot Surabaya, awalnya terdapat 11.202 ayah yang belum menunaikan nafkah anak.

Dikutip dari ANTARA, kini jumlah tersebut berkurang menjadi 8.161 ayah yang masih belum memenuhi kewajiban, sehingga NIK-nya tetap dinonaktifkan.

Angka ini bukan hanya mencerminkan persoalan hukum atau ekonomi, tetapi juga membuka sisi lain yang lebih dalam: persoalan psikologis dan relasi keluarga.

Tekanan Emosional Pasca Perceraian

Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menjelaskan bahwa fenomena ini berakar dari berbagai faktor psikologis yang saling berkaitan.

Salah satunya adalah dampak emosional dari perceraian itu sendiri.

“Perceraian sering memicu luka emosional, kemarahan, atau rasa gagal pada laki-laki. Dalam beberapa kasus, ini membuat mereka menarik diri dari tanggung jawab sebagai bentuk coping yang maladaptif,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/4/2026).

Menurut Meity, konflik berkepanjangan dengan mantan pasangan juga dapat membuat seorang ayah secara tidak sadar “memutus keterikatan”, bukan hanya dengan mantan istri, tetapi juga dengan anak.

Kondisi ini diperparah jika individu memiliki kematangan emosi yang belum optimal atau tidak memiliki contoh figur ayah yang bertanggung jawab dalam pola asuh sebelumnya.

Baca juga: Anak Perempuan Pertama Sering Tak Bahagia, Pakar Keluarga Ungkap Penyebab Utamanya

Kebingungan Peran dan Cara Pandang yang Keliru

Selain itu, cara pandang terhadap peran ayah juga turut memengaruhi.

Banyak laki-laki dibesarkan dengan pemahaman bahwa peran utama mereka adalah sebagai pencari nafkah dalam konteks keluarga yang utuh.

Ketika perceraian terjadi dan anak diasuh oleh ibu, sebagian ayah mengalami kebingungan identitas.

Dalam kondisi ini, muncul mekanisme pembelaan diri seperti rasionalisasi, misalnya menganggap anak sudah memiliki pengasuh sehingga tanggung jawabnya telah selesai.

Padahal, dalam perspektif psikologi perkembangan, nafkah bukan sekadar bantuan kepada mantan pasangan, melainkan bagian dari pemenuhan hak dasar anak.

“Penting untuk menanamkan bahwa nafkah adalah hak anak, bukan bergantung pada relasi dengan mantan pasangan,” kata Meity.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sering Pakai Topi Bikin Rambut Rontok, Mitos atau Fakta?
Sering Pakai Topi Bikin Rambut Rontok, Mitos atau Fakta?
Beauty & Grooming
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
7 Perasaan Tak Nyaman yang Kerap Muncul Sebelum Seseorang Bahagia
Wellness
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Match di Aplikasi Kencan? Cek Dulu Keaslian Identitas Si Dia agar Tak Kena Tipu
Relationship
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Fenomena Dating App Fatigue, Saat Pengguna Terobsesi Mencari Pasangan Sempurna
Relationship
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Estetik Literary Chic, Saat Buku dan Wawasan Jadi Tren Baru di Dunia Fashion
Fashion
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Kalung Pernikahan Dua Lipa Ditaksir Seharga Rp 7 Miliar, Apa Istimewanya?
Fashion
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Pengalaman Ikut Event Nyanyi Bareng di Yogyakarta, Jadi Momen Pelepas Stres
Wellness
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Kisah Cinta Dua Lipa dan Callum Turner, Berawal dari Buku Bacaan hingga Menikah
Relationship
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
4 Penyebab Jerawat di Dagu yang Sering Tidak Disadari, Salah Satunya Stres
Beauty & Grooming
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Pameran Busana Ratu Elizabeth II Bisa Jadi yang Terlaris dalam Sejarah
Fashion
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Jangan Asal Minum Suplemen, Dokter Ungkap Aturan Minum Vitamin yang Benar
Wellness
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Perjalanan Cinta Adhisty Zara Sebelum Menikah dengan Abdullah Tsaqib
Relationship
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Perjalanan Cinta Adhisty Zara dan Tsaqib, dari PDKT 6 Bulan hingga Menikah
Relationship
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Bukan Cuma Genetik, Ini 4 Rahasia Hidup Panjang Umur Menurut Penelitian
Wellness
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
4 Shio yang Berpotensi Bangun Kekayaan Bersama Pasangan, Siapa Saja?
Wellness
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau