Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut

Kompas.com, 16 Mei 2026, 11:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Taiwan berjanji untuk memperkuat kerja sama dalam menangani polusi mikroplastik melalui strategi "darat-laut" yang fokus pada pengurangan limbah dari sumbernya, pemantauan ilmiah, dan daur ulang sampah laut.

Hal ini dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak partikel plastik bagi lingkungan dan kesehatan.

Melansir Eco Business, Rabu (13/5/2026) Dewan Urusan Kelautan dan Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan menyatakan akan memperkuat pengelolaan mikroplastik melalui lima bidang utama yakni pengurangan polusi di sumbernya, pemantauan ilmiah, daur ulang, pembersihan sampah laut, serta kerja sama internasional.

Menteri Dewan Urusan Kelautan Kuan Bi-ling mengatakan bahwa lautan adalah aset alam Taiwan yang paling berharga dan fondasi penting bagi mata pencaharian dan industri.

Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air

Konsentrasi mikroplastik di laut

Kuan mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan survei pengambilan sampel mikroplastik di perairan dekat muara sungai besar di sekitar Taiwan sejak tahun 2020. Hal ini dilakukan untuk membuat basis data dasar selama enam tahun mengenai konsentrasi mikroplastik di laut.

Menurut data pemerintah, konsentrasi mikroplastik di permukaan air sekitar Taiwan berkisar dari tingkat yang tidak terdeteksi hingga 2,28 partikel per meter kubik. Angka ini secara garis besar masih dalam rentang yang dicatat oleh studi domestik maupun internasional.

Bahan yang paling umum ditemukan adalah polietilena (PE), polipropilena (PP), dan polistirena (PS). Sementara itu, jika dilihat dari jenisnya, fragmen atau pecahan plastik merupakan bagian yang paling banyak ditemukan.

Jenis-jenis plastik tersebut banyak digunakan dalam kemasan, wadah sekali pakai, alat pancing, dan produk rumah tangga, sehingga menjadi salah satu bentuk polusi plastik laut yang paling umum di seluruh dunia.

Pihak berwenang mengatakan bahwa data jangka panjang ini akan membantu menemukan lokasi pusat polusi dan pola musiman, serta memberikan dasar ilmiah untuk pembuatan kebijakan dan pencegahan polusi di masa depan.

Kuan mengatakan bahwa sebagian besar mikroplastik di laut berasal dari sampah plastik besar yang hancur seiring berjalannya waktu karena terkena sinar matahari, cuaca, dan pecah menjadi fragmen kecil.

Hal ini menegaskan pentingnya fokus pada pengelolaan sampah laut serta pemantauan.

Dari tahun 2020 hingga 2025, Taiwan telah mengajak 6.665 kapal penangkap ikan masuk dalam program "Armada Lingkungan" dan 6.089 penyelam sukarelawan dalam inisiatif pembersihan laut.

Bekerja sama dengan 19 pemerintah daerah pesisir, mereka berhasil mengangkut lebih dari 19.000 ton sampah dari lautan dan garis pantai.

Mikroplastik jadi masalah dunia

Kuan memperingatkan bahwa polusi mikroplastik telah menjadi masalah di seluruh dunia, bukan lagi masalah di satu tempat saja.

Mikroplastik dapat berpindah melewati batas negara melalui udara dan juga bisa berasal dari sumber sehari-hari, seperti air limbah cucian baju. Berbagai studi juga telah menemukan mikroplastik di dalam air hujan, salju di Kutub Utara, endapan laut dalam, hingga di dalam darah dan plasenta manusia.

Baca juga: Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau