Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Citra Satelit Jadi Cara Pantau Deforestasi dan Kepatuhan ESG Secara Akurat

Kompas.com, 24 April 2026, 16:48 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Seiring meningkatnya tekanan terkait keberlanjutan, dampak lingkungan bisnis kini diawasi lebih ketat. Laporan ESG tradisional yang hanya berdasarkan pengakuan perusahaan sendiri kini dianggap tidak lagi cukup.

Untuk memenuhi aturan yang lebih ketat, perusahaan kini mulai menggunakan citra satelit agar pemantauan penggundulan hutan dan penggunaan lahan menjadi lebih akurat serta transparan.

Melansir Know ESG, Kamis (22/4/2026) kunci dari perubahan ini adalah Program Copernicus dari Badan Antariksa Eropa.

Satelit Sentinel-2 milik mereka mampu memotret bumi setiap beberapa hari sekali. Hal ini membantu perusahaan beralih dari sekadar tebakan kasar menjadi data kinerja lingkungan yang nyata dan bisa diperiksa kebenarannya.

Baca juga: Otoritas Perbankan Eropa Berencana Pangkas Aturan Pelaporan ESG

Selama ini, penebangan hutan masih menjadi penyebab utama perubahan iklim. Kegiatan penggunaan lahan, seperti pertanian dan kehutanan, menyumbang porsi besar dalam emisi global, di mana penebangan hutan menjadi penyumbang terbesarnya.

Bagi banyak perusahaan, hal ini termasuk dalam emisi Scope 3 (emisi tidak langsung) yang biasanya paling sulit dilacak.

Memastikan rantai pasok bebas dari penebangan hutan sudah lama menjadi tantangan. Cara tradisional seperti sertifikat, inspeksi lapangan, atau surat pernyataan dari pemasok terasa mahal, lambat, dan terkadang tidak akurat.

Dengan adanya aturan baru yang lebih ketat, terutama di pasar seperti Uni Eropa, perusahaan kini wajib membuktikan bahwa produk mereka tidak terkait dengan penebangan hutan terbaru. Di sinilah pemantauan satelit menjadi sangat penting.

Data Satelit ubah Pelaporan ESG

Pemantauan lewat satelit menawarkan solusi yang bisa mencakup wilayah luas dan bersifat objektif. Dengan gambar dari satelit Sentinel-2, perusahaan bisa melihat perubahan penggunaan lahan secara detail dan rutin. Hal ini memudahkan mereka untuk mendeteksi penebangan hutan atau kerusakan hutan, bahkan dalam skala kecil sekalipun.

Selain itu, alat seperti ESA WorldCover menggabungkan data radar dan foto satelit untuk membuat peta tutupan lahan dunia yang akurat. Informasi tersebut membantu bisnis mengenali risiko lingkungan lebih awal sehingga mereka bisa bertindak sebelum masalahnya menjadi lebih besar.

Selain melacak penebangan hutan, data satelit juga membantu pengelolaan lahan yang lebih baik. Teknologi ini bisa mendeteksi aktivitas ilegal, memantau penggunaan air, hingga menilai kesehatan tanah. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya dengan lebih ramah lingkungan sesuai dengan target keberlanjutan mereka.

Analisis satelit modern menggunakan teknik canggih untuk memantau perubahan lingkungan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah NDVI, yang mengukur kesehatan tanaman lewat pantulan cahaya. Ada juga NDMI, yang melacak kadar air pada tanaman.

Rumus-rumus ini, jika digabungkan dengan algoritma pendeteksi perubahan, memungkinkan para ahli untuk membandingkan foto dari waktu ke waktu dan melihat perubahan lahan dengan sangat akurat.

Hasilnya, perusahaan bisa mendeteksi penebangan hutan dengan cepat, bahkan sebelum ada laporan resmi yang masuk.

Tantangan menggunakan citra satelit

Meskipun manfaatnya jelas, menggunakan pemantauan satelit memerlukan perencanaan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau