Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ubah Kebiasaan Mandi dan Siram Toilet Bantu Cegah Kekurangan Air

Kompas.com, 30 Maret 2026, 09:43 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mengubah cara mandi bisa membantu mengurangi proyeksi kekurangan air secara harian, menurut laporan terbaru dari University of Surrey, Inggris.

Selain itu, melaporkan kebocoran dan mengubah cara menyiram toilet juga bisa membantu mengurangi masalah tersebut. 

Baca juga:

"Diperkirakan, jika tidak ada tindakan yang diambil, Inggris akan menghadapi defisit air tawar sebesar lima miliar liter per hari pada tahun 2055," tulis para peneliti, dilansir dari laman University of Surrey, Senin (30/3/2026).

Ubah cara mandi untuk bantu atasi kekurangan air

Boros air tanpa disadari

University of Surrey, Inggris, ungkap cara kurangi defisit air tawar melalui perubahan kebiasaan di kamar mandi. Simak selengkapnya.freepik.com University of Surrey, Inggris, ungkap cara kurangi defisit air tawar melalui perubahan kebiasaan di kamar mandi. Simak selengkapnya.

Saat ini, sekitar 135-150 liter air per orang digunakan setiap harinya di negara tersebut. Rencana pemerintah Inggris untuk membatasi permintaan air dengan meteran pintar diperkirakan akan menghemat sekitar 450 juta liter pada tahun 2050.

Badan Lingkungan Hidup memperkirakan bahwa 60 persen dari defisit air yang diproyeksikan perlu diatasi melalui pengurangan permintaan air.

Penulis utama laporan sekaligus Direktur kelompok Penerapan dan Teori Kebiasaan di University of Surrey, Benjamin Gardner menilai, semua pemangku kepentingan di sektor air harus berbuat lebih banyak untuk membantu masyarakat menghemat sumber daya ini.

Saat ini, sebagian besar inisiatif berfokus pada meningkatkan motivasi masyarakat untuk menghemat air. Pendekatan tersebut dinilai memiliki keterbatasan, terutama dalam mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan air.

“Misalnya, orang tidak secara sadar memutuskan berapa lama mereka mandi. Mereka hanya melakukannya, dengan cara yang sama, setiap hari. Memberi tahu orang berapa liter air yang mereka gunakan kemungkinan besar tidak akan mengubah hal itu," ujar Gardner, dilansir dari SciTechDaily.

Laporan tersebut mengidentifikasi perbaikan atau pelaporan kebocoran air dalam rumah tangga, pola mandi, dan menyiram toilet sebagai prioritas utama untuk perubahan kebiasan.

Masyarakat Inggris menghabiskan enam sampai 15 liter air per menit untuk mandi. Sebab, terkadang kegiatan tersebut tidak hanya untuk menjaga kebersihan diri, tapi juga me-time

Bahkan, air yang terbuang untuk menyiram toilet di rumah-rumah Inggris setara seperempat air minum yang mereka konsumsi.

Baca juga:

Kebiasaan boros air bersifat otomatis

University of Surrey, Inggris, ungkap cara kurangi defisit air tawar melalui perubahan kebiasaan di kamar mandi. Simak selengkapnya.Pexels/Karola G University of Surrey, Inggris, ungkap cara kurangi defisit air tawar melalui perubahan kebiasaan di kamar mandi. Simak selengkapnya.

Laporan tersebut mengungkapkan, empat dari enam kebiasaan boros air yang menjadi prioritas tertinggi untuk diubah terjadi di kamar mandi.

Para ahli turut dikritik karena terlalu menyoroti upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghemat air saat berada di kamar mandi. Sebab, perubahan kebiasaan bisa efektif tergantung pada identifikasi pendorong di balik tindakan sebelum mencoba mengubahnya.

Apalagi, banyak kebiasaan penggunaan air bersifat otomatis dan berlanjut, bahkan ketika orang berniat untuk berubah karena rutinitas, gangguan, serta kelelahan membatasi keputusan sadar.

Menurut salah satu penulis studi dan direktur Human Insights Lab di University of Surrey, Pablo Pereira-Doel, umpan balik secara langsung saat kebiasaan di kamar mandi dilakukan akan mengurangi durasi waktunya menggunakan air.

“Intervensi semacam itu berhasil justru karena tidak bergantung pada orang untuk mengingat untuk bertindak berbeda. Intervensi tersebut menemui mereka pada saat itu juga. Laporan ini menunjukkan bahwa sektor ini perlu berinvestasi dalam memahami momen-momen tersebut secara lebih sistematis, di semua perilaku yang penting, sebelum dapat merancang solusi yang benar-benar efektif," tutur Pereira-Doel.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau