Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menyiapkan Anak Hadapi Era AI, Jangan Cuma Jadi Pengguna

Kompas.com, 29 Maret 2026, 10:16 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber CNBC, UNICEF

KOMPAS.com - Di tengah maraknya AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, orangtua bisa menyiapkan anak dengan keterampilan tertentu agar siap menghadapi masa depan. 

Misalnya, orangtua bisa mengajarkan buah hati tentang kreativitas, rasa ingin tahu, dan pemecahan masalah.

Baca juga:

Ahli neurosains teoritis, Vivienne Ming menganjurkan orangtua untuk kurangi mengajarkan keterampilan yang tidak akan dibutuhkan anaknya dalam 10 tahun ke depan.

"Sebagai seorang ahli saraf dan pengusaha, saya telah menghabiskan seluruh karier saya dengan mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: Keterampilan apa yang akan menjadi penting ketika AI mampu menghasilkan jawaban dan mengotomatiskan sebagian besar pekerjaan kognitif?" tulis Ming, dilansir dari CNBC, Sabtu (28/3/2026).

Menyiapkan anak hadapi era AI

Ajari anak agar lebih kreatif dan kritis

AI diprediksi akan mengotomatiskan banyak pekerjaan. Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak bisa menghadapi era AI?Dok. Freepik/tirachardz AI diprediksi akan mengotomatiskan banyak pekerjaan. Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak bisa menghadapi era AI?

Orangtua dinilai perlu menggeser cara mendidik dari mentransmisi pengetahuan ke pembangunan kapasitas anak agar bisa bertahan terhadap ancaman AI.

Menurut Ming, orangtua sebaiknya mengajari anak-anaknya untuk lebih kritis dan kreatif saat berinteraksi dengan AI.

Ia menyarankan orangtua mengubah peran anaknya dari konsumen pasif, menjadi kritikus aktif terhadap hasil karya AI.

Mereka juga perlu memosisikan anaknya sebagai pihak yang mempertanyakan, membimbing, dan mengevaluasi AI. Sementara itu, AI diposisikan hanya sebagai kolaborator cerdas, tapi naif.

Buah hati akan belajar memanfaatkan pengetahuan luas AI bukan sebagai sumber kebenaran, melainkan mitra debat untuk mempertajam perspektif unik mereka sendiri.

"Dunia sudah memiliki jawaban yang 'benar' di sakunya, hampir gratis. Nilai sebenarnya yang dibawa anak Anda adalah jawaban yang hanya mereka yang bisa berikan," ucap Ming.

"Sebagai Kepala Kritikus AI, mereka mengeksplorasi dan menciptakan makna mereka sendiri dari apa yang diketahui AI. Itulah esensi dari kerja kreatif, dan itulah yang dibutuhkan dunia lebih banyak lagi," tambah dia. 

Tidak apa-apa jika gagal

Sistem pendidikan saat ini masih terobsesi dengan kebenaran yang kerap menghilangkan naluri anak untuk bersedia melakukan kesalahan.

Sistem pendidikan tersebut mengajarkan anak bahwa kegagalan mencerminkan nilai diri mereka, alih-alih menjadi pendorong pertumbuhan.

Eksplorasi dan kegagalan memprediksi pembelajaran mendalam lebih baik daripada mengulang jawaban yang benar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau