Dalam dunia intelijen yang penuh misteri dan operasi rahasia, batas antara kebenaran dan bayangan sering kali kabur. Baru-baru ini, pernyataan mengejutkan datang dari Yossi Cohen, mantan kepala Mossad — lembaga intelijen legendaris Israel yang dikenal memiliki jaringan luas dan kemampuan operasi yang canggih.
Cohen mengungkap bahwa Mossad telah menanam berbagai peralatan dan sistem manipulatif di banyak negara di dunia, yang dapat diaktifkan kapan saja sesuai kebutuhan strategis Israel. Pernyataan ini menggambarkan sejauh mana Mossad berupaya membangun kendali informasi dan pengaruh global melalui teknologi tersembunyi.
Namun, di balik kemampuan luar biasa tersebut, ada satu wilayah yang menjadi pengecualian mencolok: Jalur Gaza. Menurut Cohen, kawasan kecil yang padat penduduk itu tetap menjadi “titik buta” bagi intelijen Israel. Meskipun Israel memiliki akses luas ke berbagai pusat kekuasaan dunia, Gaza disebut-sebut sebagai wilayah yang sulit ditembus—baik secara teknologi maupun manusia.
Fakta ini memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah wilayah kecil, yang selama ini berada dalam pengawasan ketat, mampu menjadi benteng terakhir yang tak tersentuh oleh jaringan intelijen paling canggih di dunia. Sebuah ironi dalam lanskap geopolitik yang sarat intrik dan ketegangan.
