
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INSTRUKSI Presiden Prabowo Subianto di Perancis yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (28/5/2026), memberikan semacam deja vu.
Pasalnya, pada 23 Oktober 2025 lalu, di depan Presiden Brasil Luiz Incio Lula da Silva di Jakarta, Prabowo menginstruksikan agar bahasa Portugis dijadikan mata pelajaran di sekolah.
Kini, di depan Presiden Perancis Emmanuel Macron, instruksi serupa telah dikeluarkan.
“Semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Perancis melihat perkembangan dunia ke depan," ujar Presiden Prabowo.
Penulis berusaha memahami bahwa dalam pemaparan tersebut tentu ada upaya diplomasi kepada Presiden tuan rumah terkait situasi perubahan geopolitik global dalam konteks hubungan internasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa mulai diposisikan sebagai instrumen diplomasi strategis. Pengajaran bahasa tidak lagi sekadar persoalan pendidikan, melainkan juga bagian dari upaya membangun kedekatan politik, ekonomi, dan kebudayaan dengan negara mitra.
Baca juga: Bonjour di Negeri yang Masih Terbata Membaca
Namun, dalam perspektif kajian perencanaan bahasa (language planning), kebijakan semacam ini dapat dibaca sebagai bentuk status planning dan acquisition planning.
Artinya, negara menentukan bahasa mana yang dianggap strategis untuk masa depan, lalu mengarahkan sistem pendidikan untuk memproduksi kompetensi linguistik yang sesuai dengan orientasi politik dan ekonomi negara.
Di banyak negara, bahasa memang menjadi bagian penting dari diplomasi internasional. Bahasa Perancis misalnya, bukan hanya bahasa dengan posisi historis yang kuat, tetapi juga bahasa diplomasi global, organisasi internasional, industri pertahanan, energi, hingga kerja sama Uni Eropa-Afrika.
Ketika Indonesia memperkuat hubungan strategis dengan Perancis, penguatan pengajaran bahasa Perancis dapat dibaca sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia diplomatik dan ekonomi.
Masalahnya, Indonesia belum memiliki desain ekologi bahasa nasional yang benar-benar matang.
Di saat negara mulai agresif memperluas pengajaran bahasa asing strategis, banyak bahasa daerah di Indonesia justru mengalami kemunduran transmisi antargenerasi.
Anak-anak muda di banyak wilayah tidak lagi menggunakan bahasa ibunya sebagai bahasa utama dalam domain keluarga, pendidikan maupun ruang digital.
Dalam terminologi sosiolinguistik, Indonesia sedang menghadapi gejala language shift, domain shrinkage, dan bahkan language death.
Laporan UNESCO sejak lama menempatkan banyak bahasa daerah Indonesia dalam kategori rentan hingga terancam punah.