Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mas Uliatul Hikmah
Penulis

Peneliti Independen, Ahli Bahasa, dan Alumni Magister Linguistik Universitas Indonesia

Dari Portugis ke Perancis, ke Mana Arah Perencanaan Bahasa di Indonesia?

Kompas.com, 30 Mei 2026, 06:45 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

INSTRUKSI Presiden Prabowo Subianto di Perancis yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis (28/5/2026), memberikan semacam deja vu.

Pasalnya, pada 23 Oktober 2025 lalu, di depan Presiden Brasil Luiz Incio Lula da Silva di Jakarta, Prabowo menginstruksikan agar bahasa Portugis dijadikan mata pelajaran di sekolah.

Kini, di depan Presiden Perancis Emmanuel Macron, instruksi serupa telah dikeluarkan.

“Semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Perancis melihat perkembangan dunia ke depan," ujar Presiden Prabowo.

Penulis berusaha memahami bahwa dalam pemaparan tersebut tentu ada upaya diplomasi kepada Presiden tuan rumah terkait situasi perubahan geopolitik global dalam konteks hubungan internasional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa mulai diposisikan sebagai instrumen diplomasi strategis. Pengajaran bahasa tidak lagi sekadar persoalan pendidikan, melainkan juga bagian dari upaya membangun kedekatan politik, ekonomi, dan kebudayaan dengan negara mitra.

Baca juga: Bonjour di Negeri yang Masih Terbata Membaca

Namun, dalam perspektif kajian perencanaan bahasa (language planning), kebijakan semacam ini dapat dibaca sebagai bentuk status planning dan acquisition planning.

Artinya, negara menentukan bahasa mana yang dianggap strategis untuk masa depan, lalu mengarahkan sistem pendidikan untuk memproduksi kompetensi linguistik yang sesuai dengan orientasi politik dan ekonomi negara.

Di banyak negara, bahasa memang menjadi bagian penting dari diplomasi internasional. Bahasa Perancis misalnya, bukan hanya bahasa dengan posisi historis yang kuat, tetapi juga bahasa diplomasi global, organisasi internasional, industri pertahanan, energi, hingga kerja sama Uni Eropa-Afrika.

Ketika Indonesia memperkuat hubungan strategis dengan Perancis, penguatan pengajaran bahasa Perancis dapat dibaca sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia diplomatik dan ekonomi.

Masalahnya, Indonesia belum memiliki desain ekologi bahasa nasional yang benar-benar matang.

Di saat negara mulai agresif memperluas pengajaran bahasa asing strategis, banyak bahasa daerah di Indonesia justru mengalami kemunduran transmisi antargenerasi.

Anak-anak muda di banyak wilayah tidak lagi menggunakan bahasa ibunya sebagai bahasa utama dalam domain keluarga, pendidikan maupun ruang digital.

Dalam terminologi sosiolinguistik, Indonesia sedang menghadapi gejala language shift, domain shrinkage, dan bahkan language death.

Laporan UNESCO sejak lama menempatkan banyak bahasa daerah Indonesia dalam kategori rentan hingga terancam punah.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau