Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohammad Imam Farisi
Dosen

Dosen FKIP Universitas Terbuka

Peningkatan Anggaran Penelitian dan Pertaruhan Reputasi Akademik

Kompas.com, 15 Maret 2024, 11:34 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

UPAYA pemerintah mengoptimalkan dan meningkatkan anggaran riset secara nasional telah beberapa kali dilakukan, termasuk yang dilakukan pada pemerintahan Jokowi.

Pemerintah memahami dan menyadari bahwa riset merupakan proses pendorong dari suatu kemajuan, dan perguruan tinggi merupakan garda terdepan untuk mewujudkannya.

Hasil kajian Research & Development World (R & D World) menyebutkan besaran anggaran riset yang berasal dari APBN dan non-APBN bersifat fluktuatif dari tahun ke tahun.

Anggaran riset 2021 sebesar 2 miliar dollar AS, naik menjadi 8,2 miliar dollar AS (2022), kemudian naik lagi menjadi 12,10 miliar dollar AS (2023), lalu kembali turun menjadi 4,5 miliar dollar AS (2024).

Rasio anggaran riset juga masih sangat rendah, yaitu antara 0,2 persen-0,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam 10 tahun terakhir. Angka ini kalah jauh dibandingkan China (2,08 persen), Singapura (1,98 persen) ataupun Malaysia (1,15 persen) (World Bank, 2023).

Rendahnya anggaran riset menimbulkan keprihatinan tidak saja di kalangan perguruan tinggi (PT), tetapi juga di kalangan anggota Parlemen.

Kondisi ini menunjukkan kementerian dan BRIN belum mampu mengonsolidasi anggaran untuk keperluan riset dan pengembangan anggaran untuk kegiatan pendukung manajemen kelembagaan.

Seperti juga dilaporkan dalam dokumen Peta Jalan SDGs Indonesia Menuju 2030 (Bappenas, 2023), tantangan utama pengelolaan riset dan pengembangan di Indonesia antara lain rendahnya anggaran riset serta pengelolaan dana riset yang belum optimal dan efisien.

Idealnya, anggaran riset untuk Indonesia yang PDB nasional besar adalah 1 persen, jika ingin memajukan kualitas riset, membudayakan pola pikir ilmiah, dan meningkatkan komersialisasi produk penelitian, serta menjadikan riset dan inovasi sebagai sumber pertumbuhan utama ekonomi nasional.

Konsisten dengan hal itu, mulai 2023 Kemdikbudristek melakukan klasterisasi PT berdasarkan kinerja riset dan pengabdian masyarakat yang sudah dilakukan verifikasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) perguruan tinggi masing-masing.

Data kinerja didasarkan pada hasil penilaian 7 (tujuh) indikator, yaitu penulis (author), afiliasi (affiliation), jurnal (journal), penelitian (research), pengabdian kepada masyarakat (community service), kekayaan intelektual (intellectual property rights), dan buku (book), yang diperoleh dari portal SINTA.

Setiap PT dapat melihat hasil pengukuran kinerja pada menu (tab) Metrics Cluster pada profil perguruan tinggi masing-masing.

Ketujuh indikator penilaian klasterisasi tersebut diukur dari jumlah atau produktivitas kinerja yang dihasilkan oleh PT.

Pertama, penulis (author), diukur dari jumlah dosen yang menjadi penulis utama (first author) pada publikasi jurnal ilmiah, baik nasional maupun internasional.

Kedua, afiliasi (affiliation), diukur dari jumlah kerja sama atau netwoks yang berhasil dibangun oleh PT dengan PT lain atau dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau