KOMPAS.com - Fenomena perburuhan setahun terakhir mengalami tantangan berat. Risiko pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan terus meluas pada 2026.
Laporan Global Market Labor 2026 dari LinkedIn (Januari 2026) menyatakan, tingkat perekrutan secara global diprediksi 20 persen di bawah tingkat prapandemi Covid-19 akibat perlambatan ekonomi.
Kondisi perburuhan semakin diperparah dengan perang Rusia-Ukraina, Iran dengan AS-Israel, dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Bukan cuma itu, buruh juga menghadapi tantangan besar disrupsi dari otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: 50 Ucapan Hari Buruh 1 Mei 2026 Lengkap untuk Caption Media Sosial
Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, menekankan bahwa otomatisasi dan AI sudah menjadi realitas hari ini. Orang tidak bisa menolak atau mengeluh, tetapi harus bersaing dengan orang lain yang paham AI dan logika robot.
“Kabar baiknya, AI justru membuka peluang untuk melakukan reskilling secara kilat. Jika riset konvensional butuh waktu tahunan, dengan penguasaan tools AI yang tepat, kita bisa mengompilasi pengetahuan mendalam hanya dalam semalam,” ujarnya.
Kini, Hari Buruh 2026 bukan sekadar seremoni pengingat solidaritas bagi sesama. Lebih dari itu, momen ini menjadi kekuatan untuk mereplikasi empati, kreativitas, dan daya juang manusia.
“Di tengah ketidakpastian global dan volatilitas tinggi, belajar adalah kunci utama. Dari kemauan belajar, akan lahir inovasi dan inisiatif untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Selamat Hari Buruh! Terus bertumbuh dan tetap semangat dalam berkarya,” pesan Amir.