KOMPAS.com - Di Indonesia, menjelang Lebaran biasanya identik dengan pemandangan keriuhan terminal bus, stasiun kereta dan bandara yang ramai dengan penumpang, jalan-jalan tol lintas kota/provinsi dipenuhi kendaraan, aroma kue serta opor dari dapur tetangga yang semerbak, hingga antusiasme memilih baju baru.
Ada semacam magis dalam perjalanan pulang, yakni mengakhiri perjuangan menahan nafsu selama sebulan dengan merayakan kemenangan bersama keluarga di kampung halaman.
Pada tahun ini, penetapan hari raya Idul Fitri di Indonesia berbeda. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah (H) jatuh pada Jumat (20/3/2026). Sementara Nahdlatul Ulama (NU) bersama pemerintah memutuskan pada Sabtu (21/3/2026).
Tak sekedar perbedaaan penetapan 1 Syawal 1447 H, suasana Lebaran tahun ini juga terasa sedikit berbeda bagi sebagian kalangan. Mungkin ada kursi kosong di meja makan, dan pesanan kue kering yang tidak sebanyak biasanya.
Di balik gema takbir dan hangatnya silaturahmi, ada realitas ekonomi yang memaksa kita menahan diri berbelanja, bahkan menunda perjalanan pulang. Gelombang ketidakpastian global membuat banyak keluarga merayakan Idul Fitri secara lebih sederhana, tetapi tetap khidmat.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan penurunan jumlah pemudik Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,9 juta orang. Angka ini menurun 6,9 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 154,9 juta orang.
Baca juga: 143,9 Juta Orang Diprediksi Mudik Lebaran 2026, Turun Dibanding Tahun Lalu
Penurunan jumlah pemudik diperkirakan terjadi seiring merosotnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga dan menurunnya penghasilan sektor usaha.
Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026 menyatakan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 125,2 atau lebih rendah daripada bulan sebelumnya, yakni 127,0. IKK Februari 2026 juga lebih rendah daripada IKK Februari 2025, yaitu 126,4.
Inflasi tahunan pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76 persen. Angka ini memberi tekanan langsung pada biaya hidup, sehingga pengeluaran nonprioritas, termasuk perjalanan mudik, mulai dikaji ulang masyarakat.
Selama setahun terakhir, meja redaksi Kompas.com terus merekam berbagai gejolak di dunia. Ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel, misalnya, berdampak nyata hingga ke Tanah Air.
Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin mencermati kenaikan harga minyak dan menguatnya dolar terhadap rupiah yang mulai menghantam ekonomi dalam negeri.
"Volatilitas dunia sedang tinggi. Banyak negara mengimbau warganya tidak melakukan perjalanan non-esensial. Di dalam negeri, banyak pelaku usaha hanya berproduksi, tetapi tidak belanja bahan baku dan menunggu kondisi lebih aman,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Namun, di tengah ketidakpastian itu, ia menegaskan bahwa tugas Kompas.com bukan sekadar mengabarkan “petaka”, melainkan memberi arah agar jernih melihat dunia.
Baca juga: Imbas Perang Iran Vs AS-Israel, BI Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jadi 3,1 Persen
"Kami menghadirkan informasi faktual dan perspektif. Kami meminta pakar untuk memaknai informasi. Ini penting agar masyarakat tidak mengalami kepanikan, seperti melakukan rush money atau menarik uang dari bank dan hal impulsif lainnya yang justru berdampak lebih buruk,” jelasnya.
Meski awan mendung ekonomi membayangi, Amir tetap menaruh optimisme pada daya lenting masyarakat Indonesia yang sudah teruji berkali-kali. Karakter bangsa yang guyub dan penuh kreativitas pada masa sulit adalah aset yang berharga.
Idul Fitri 1447 Hijriah (H) pun menjadi momentum untuk memperkuat karakter resiliensi itu melalui aksi nyata solidaritas sosial, yakni zakat.
“Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momen yang pas untuk merawat empati. Lewat zakat, kita membangun pertahanan sosial. Yang mampu membantu yang rentan. Semua saling bantu, sesuai karakter bangsa Indonesia,” katanya.
Baca juga: Panduan Mengelola THR: Dahulukan Zakat, Cicilan, dan Tabungan
Sejalan dengan itu, Kompas.com juga terus menyajikan informasi yang akurat sebagai bahan bakar memelihara ketangguhan mental bangsa dalam menghadapi ketidakpastian.
"Selamat Idul Fitri. Mari rayakan kemenangan dengan sewajarnya, sembari terus berbagi kebaikan dan memperkuat solidaritas,” ucap Amir.
Selama setahun ini mungkin penuh tantangan, tetapi solidaritas tidak boleh kendur. Kamu bisa ikut merayakan perjuangan ini dengan mengirimkan pesan semangat, harapan, atau ucapan Idul Fitri versi terbaikmu melalui banner di bawah ini. Cukup isi nama, pilih desain template favoritmu, dan bagikan makna kemenangan versimu sendiri bersama Kompas.com.