Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Warta Sukacita

Menjaga Tenang di Tengah Gelombang, Pesan Hangat Lebaran dari Kompas.com

Kompas.com, 20 Maret 2026, 14:26 WIB
I Jalaludin S,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di Indonesia, menjelang Lebaran biasanya identik dengan pemandangan keriuhan terminal bus, stasiun kereta dan bandara yang ramai dengan penumpang, jalan-jalan tol lintas kota/provinsi dipenuhi kendaraan, aroma kue serta opor dari dapur tetangga yang semerbak, hingga antusiasme memilih baju baru.

Ada semacam magis dalam perjalanan pulang, yakni mengakhiri perjuangan menahan nafsu selama sebulan dengan merayakan kemenangan bersama keluarga di kampung halaman.

Pada tahun ini, penetapan hari raya Idul Fitri di Indonesia berbeda. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah (H) jatuh pada Jumat (20/3/2026). Sementara Nahdlatul Ulama (NU) bersama pemerintah memutuskan pada Sabtu (21/3/2026).

Tak sekedar perbedaaan penetapan 1 Syawal 1447 H, suasana Lebaran tahun ini juga terasa sedikit berbeda bagi sebagian kalangan. Mungkin ada kursi kosong di meja makan, dan pesanan kue kering yang tidak sebanyak biasanya.

Di balik gema takbir dan hangatnya silaturahmi, ada realitas ekonomi yang memaksa kita menahan diri berbelanja, bahkan menunda perjalanan pulang. Gelombang ketidakpastian global membuat banyak keluarga merayakan Idul Fitri secara lebih sederhana, tetapi tetap khidmat.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan penurunan jumlah pemudik Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,9 juta orang. Angka ini menurun 6,9 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 154,9 juta orang.

Baca juga: 143,9 Juta Orang Diprediksi Mudik Lebaran 2026, Turun Dibanding Tahun Lalu

Penurunan jumlah pemudik diperkirakan terjadi seiring merosotnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga dan menurunnya penghasilan sektor usaha. 

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026 menyatakan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 125,2 atau lebih rendah daripada bulan sebelumnya, yakni 127,0. IKK Februari 2026 juga lebih rendah daripada IKK Februari 2025, yaitu 126,4.

Inflasi tahunan pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76 persen. Angka ini memberi tekanan langsung pada biaya hidup, sehingga pengeluaran nonprioritas, termasuk perjalanan mudik, mulai dikaji ulang masyarakat. 

Selama setahun terakhir, meja redaksi Kompas.com terus merekam berbagai gejolak di dunia. Ketegangan geopolitik Iran-Amerika Serikat (AS) dan Israel, misalnya, berdampak nyata hingga ke Tanah Air.

Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin mencermati kenaikan harga minyak dan menguatnya dolar terhadap rupiah yang mulai menghantam ekonomi dalam negeri.

"Volatilitas dunia sedang tinggi. Banyak negara mengimbau warganya tidak melakukan perjalanan non-esensial. Di dalam negeri, banyak pelaku usaha hanya berproduksi, tetapi tidak belanja bahan baku dan menunggu kondisi lebih aman,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Namun, di tengah ketidakpastian itu, ia menegaskan bahwa tugas Kompas.com bukan sekadar mengabarkan “petaka”, melainkan memberi arah agar jernih melihat dunia.

Baca juga: Imbas Perang Iran Vs AS-Israel, BI Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jadi 3,1 Persen

"Kami menghadirkan informasi faktual dan perspektif. Kami meminta pakar untuk memaknai informasi. Ini penting agar masyarakat tidak mengalami kepanikan, seperti melakukan rush money atau menarik uang dari bank dan hal impulsif lainnya yang justru berdampak lebih buruk,” jelasnya.

Meski awan mendung ekonomi membayangi, Amir tetap menaruh optimisme pada daya lenting masyarakat Indonesia yang sudah teruji berkali-kali. Karakter bangsa yang guyub dan penuh kreativitas pada masa sulit adalah aset yang berharga.

Idul Fitri 1447 Hijriah (H) pun menjadi momentum untuk memperkuat karakter resiliensi itu melalui aksi nyata solidaritas sosial, yakni zakat.

“Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momen yang pas untuk merawat empati. Lewat zakat, kita membangun pertahanan sosial. Yang mampu membantu yang rentan. Semua saling bantu, sesuai karakter bangsa Indonesia,” katanya.

Baca juga: Panduan Mengelola THR: Dahulukan Zakat, Cicilan, dan Tabungan

Sejalan dengan itu, Kompas.com juga terus menyajikan informasi yang akurat sebagai bahan bakar memelihara ketangguhan mental bangsa dalam menghadapi ketidakpastian.

"Selamat Idul Fitri. Mari rayakan kemenangan dengan sewajarnya, sembari terus berbagi kebaikan dan memperkuat solidaritas,” ucap Amir.

Selama setahun ini mungkin penuh tantangan, tetapi solidaritas tidak boleh kendur. Kamu bisa ikut merayakan perjuangan ini dengan mengirimkan pesan semangat, harapan, atau ucapan Idul Fitri versi terbaikmu melalui banner di bawah ini. Cukup isi nama, pilih desain template favoritmu, dan bagikan makna kemenangan versimu sendiri bersama Kompas.com.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau