Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Percaya Tak Percaya, Inilah Rupa Pisang Sebelum Manusia Menanamnya

Kompas.com, 20 November 2017, 18:36 WIB
Resa Eka Ayu Sartika

Penulis

KOMPAS.com - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana bentuk buah dan sayuran pada jaman dahulu? Apakah bentuknya sama saja dengan yang kita temui sekarang, atau malah sama sekali berbeda?

Berbagai bukti mengarahkan bahwa buah dan sayur pada jaman dahulu berbeda dengan yang kita temui saat ini. Hal itu bisa terjadi karena modifikasi genetik yang dialami tanaman buah tersebut.

Dirangkum dari Science Alert, Kamis (16/11/2017),meski pangan rekayasa genetika (GMO) baru datang belakangan, manusia sebenarnya memicu perubahangenetik tanaman lewat proses bercocok tanam.

Pembiakan selektif adalah proses lambat yang dilakukan petani dengan memilih dan menanam tanaman dengan sifat tertentu dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Kabar Buruk, Orang Indonesia Krisis Buah dan Sayur

Di antara beberapa buah dan sayur yang mengalami proses tersebut, inilah 6 buah dan sayur yang mengalami perubahan cukup drastis.

Semangka

Semangka liarAlvaro/Wikimedia Commons Semangka liar

Sebuah lukisan Giovanni Stanchi dari abad ke-17 ini menggambarkan semangka yang sangat berbeda dari yang kita temui sekarang.

Seiring waktu, manusia telah "memodifikasi" semangka dengan daging merah yang sebenarnya adalah plasenta.

Semangka modernScott Ehardt/Wikimedia Semangka modern

Banyak orang yang berpikir semangka dalam lukisan Stanchi mungkin masih mentah atau kekurangan air dalam penanamannya. Namun biji hitam dalam lukisan tersebut mengindikasikan bahwa semangka itu matang.

Pisang

Pisang liarGenetic Literacy Project Pisang liar

Pisang pertama mungkin telah dibudidayakan setidaknya 10.000-7.000 tahun yang lalu di Papua Niugini. Buah yang satu ini memang terkenal banyak tumbuh di Asia Tenggara.

Pisang modern diduga dari dua varietas liar, yaitu Musa asuminata dan Musa balbisiana yang memiliki benih besar dan keras seperti foto di atas.

pisang modernDomiriel/Flickr Creative Commons pisang modern

Pisang modern saat ini memiliki rasa lezat dan mudah dikupas. Dibanding nenek moyangnya, buah ini memiliki biji lebih kecil, rasa enak, dan nutrisi yang tinggi.

Baca juga: Anak Sulit Makan Sayur dan Buah? Ikuti Tips Dokter Ini

Terong

Terong liarGenetic Literacy Project Terong liar

Sepanjang sejarah, terong memiliki beragam bentuk dan warna. Beberapa terong paling awal dibudidayakan di China. Pada versi primitifnya, terong memiliki duri di batang tanaman yang terhubung pada bunga seperti gambar di atas.

Terong modernYoAmes/Flickr Terong modern

Halaman:


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau