Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Telat Ganti Oli Lebih dari Setahun, Amankah buat Mesin Mobil?

Kompas.com, 31 Mei 2026, 14:21 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika oli mesin tidak diganti dalam waktu yang lama, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah kondisi mesin masih bisa diselamatkan atau justru sudah telanjur mengalami kerusakan.

Risiko ini semakin besar jika kendaraan tetap digunakan meski usia oli sudah melewati rekomendasi pabrikan hingga lebih dari satu tahun.

Salah satu dampak yang kerap muncul akibat keterlambatan penggantian oli adalah terbentuknya sludge atau endapan lumpur oli di dalam mesin. Endapan tersebut dapat mengganggu proses pelumasan dan membuat kinerja mesin menurun.

Baca juga: Jangan Abaikan, Ini Ciri-ciri Busi Mobil Sudah Perlu Diganti

Kondisi Mesin

Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, mengatakan mesin yang telat ganti oli lebih dari setahun masih memiliki peluang untuk dipulihkan.

Namun, tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi internal mesin dan seberapa banyak sludge yang sudah terbentuk.

"Kalau double flush dua kali ganti oli menurut saya lebih bagus untuk membuang oli lama sampai lebih bersih. Tapi kalau mau menghilangkan sludge, tetap butuh detergent atau bahan pembersih yang memang dirancang untuk membersihkan kerak oli di dalam mesin," kata Lung Lung kepada Kompas.com, belum lama ini.

Menurut dia, penggunaan engine flush yang berkualitas umumnya lebih efektif untuk membantu membersihkan endapan dibanding hanya melakukan penggantian oli berulang.

Sebab, produk tersebut mengandung zat pembersih yang dirancang untuk melarutkan kerak dan kotoran yang menempel pada komponen mesin.

Ganti oli mesin mobilCastrol Ganti oli mesin mobil

Meski demikian, Lung Lung mengingatkan agar pemilik kendaraan tidak sembarangan memilih produk pembersih mesin. Beberapa produk menggunakan bahan yang terlalu keras sehingga berpotensi memengaruhi karet seal dan komponen lain di dalam mesin.

"Kalau pakai engine flush yang bagus, justru lebih aman untuk seal-seal mesin, ring piston, dan komponen lainnya. Memang harganya biasanya lebih mahal, tapi hasilnya juga lebih baik," ujarnya.

Ia menjelaskan, pada kasus sludge yang sudah cukup parah, proses pembersihan biasanya tidak bisa dilakukan hanya sekali. Dibutuhkan beberapa kali penggantian oli dan pembersihan bertahap agar kondisi mesin kembali mendekati normal.

"Saya pernah menemukan kasus yang berhasil membaik, tapi sampai tiga kali ganti oli baru hasilnya terasa. Jadi sebenarnya ini sudah masuk kategori gambling, karena kita juga tidak tahu seberapa parah kondisi di dalam mesin sebelum dibongkar," kata Lung Lung.

Baca juga: Jangan Asal Menepi, Berhenti di Pinggir Jalan Punya Risiko Besar

Ia menyarankan pemilik kendaraan tetap mengikuti jadwal penggantian oli sesuai rekomendasi pabrikan. Langkah tersebut dinilai jauh lebih aman dibanding harus menghadapi risiko penumpukan sludge yang berpotensi memperpendek usia mesin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau