Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah PO Sinar Jaya Jadi Pionir Bus AKAP Full Tol di Trans-Jawa

Kompas.com, 26 Mei 2026, 07:42 WIB
Muhammad Fathan Radityasani,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kehadiran Tol Trans-Jawa menumbuhkan babak baru dalam industri transportasi darat di Indonesia.

Jalan bebas hambatan yang membentang dari Barat hingga Timur Pulau Jawa ini memangkas waktu tempuh secara signifikan, sekaligus mengubah peta persaingan antar-Perusahaan Otobus (PO).

Di balik ramainya bus AKAP (Antarkota Antarprovinsi) yang kini melesat di jalur tol, tidak banyak yang tahu bahwa PO Sinar Jaya merupakan salah satu pionir utama dalam pemanfaatan jalur cepat komersial ini.

Baca juga: PO Sinar Jaya Menolak Latah Tren Bus Listrik

Pool bus Sinar JayaKOMPAS.com/ JANLIKA PUTRI Pool bus Sinar Jaya

Sinar Jaya menjadi operator pertama yang berani membuka rute murni via jalan tol tanpa keluar ke jalur arteri tengah perjalanan.

PO Lain Menolak

Founder PO Sinar Jaya, Rasidin Karyana atau akrab disapa Pak Haji, mengenang kembali bagaimana awal mula perusahaannya mengawali sejarah sebagai pionir bus full tol untuk rute Jakarta-Surabaya.

"Ketika yang lain tidak mau, kami ditawarkan oleh kementerian (Kemenhub). Sinar Jaya mau ke Surabaya, tapi harus jalan tol (syaratnya), kami mau," ungkap Pak Haji di Jakarta belum lama ini.

Baca juga: Ratusan Skutik Ramaikan Kontes Modifikasi di Jakarta Selatan

Ilustrasi Bus Sinar Jaya, bus yang memiliki rute Tangerang-SemarangShutterstock/Hilmi Akmal Rosan Ilustrasi Bus Sinar Jaya, bus yang memiliki rute Tangerang-Semarang

Langkah berani ini diambil Sinar Jaya di saat operator lain masih ragu terhadap potensi jumlah penumpang jika bus dipaksa terus melaju di dalam tol tanpa mampir ke kota-kota perlintasan.

Hasilnya, keputusan cepat tersebut berbuah manis dan menjadikan Sinar Jaya sebagai penguasa awal jalur Trans-Jawa cepat.

Aturan Ketat "Tol to Tol" Tanpa Keluar Jalur

Pada masa-masa awal pengoperasian rute tersebut, manajemen Sinar Jaya menerapkan standar operasional yang sangat ketat. Konsep perjalanan didesain murni sebagai layanan ekspres tanpa jeda keluar-masuk jalan tol.

"Nah, makanya Bapak kalau ke Surabaya naik Sinar Jaya yang pertama kali itu, jurusannya betul-betul toll to toll. Nggak boleh dia keluar-keluar," kata Pak Haji.

Strategi operasional ini terbukti sukses memangkas waktu tempuh Jakarta-Surabaya menjadi jauh lebih singkat, sesuatu yang sangat dicari oleh konsumen yang mendambakan efisiensi waktu perjalanan.

Tetap Setia pada Prinsip Tol

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah armada hingga puluhan unit pada trayek tersebut, manajemen mulai fleksibel. Hal ini demi mengakomodasi kebutuhan penumpang di titik-titik tertentu tanpa mengorbankan esensi kecepatan waktu tempuh.

"Ada beberapa agen-agen yang juga mungkin bermohon bisa keluar tol sebentar, masuk lagi. Tapi prinsip bahwasanya Sinar Jaya itu bus Trans-Jawa, pasti lewat tol gitu. Walaupun nanti di ujungnya baru dia keluar-keluar tol," kata Pak Haji.

Bagi Sinar Jaya, keberadaan infrastruktur tol kini bukan sekadar opsi pelengkap jalur, melainkan syarat utama sebelum mereka memutuskan untuk melakukan ekspansi trayek ke wilayah baru, termasuk untuk rencana jangka panjang mereka di lintas Sumatra.

"Kementerian akan memberikan izin kalau sampai ke daerah sana itu sudah ada jalan tol," kata Pak Haji.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau