JAKARTA, KOMPAS.com - Kehadiran Tol Trans-Jawa menumbuhkan babak baru dalam industri transportasi darat di Indonesia.
Jalan bebas hambatan yang membentang dari Barat hingga Timur Pulau Jawa ini memangkas waktu tempuh secara signifikan, sekaligus mengubah peta persaingan antar-Perusahaan Otobus (PO).
Di balik ramainya bus AKAP (Antarkota Antarprovinsi) yang kini melesat di jalur tol, tidak banyak yang tahu bahwa PO Sinar Jaya merupakan salah satu pionir utama dalam pemanfaatan jalur cepat komersial ini.
Baca juga: PO Sinar Jaya Menolak Latah Tren Bus Listrik
Pool bus Sinar JayaSinar Jaya menjadi operator pertama yang berani membuka rute murni via jalan tol tanpa keluar ke jalur arteri tengah perjalanan.
Founder PO Sinar Jaya, Rasidin Karyana atau akrab disapa Pak Haji, mengenang kembali bagaimana awal mula perusahaannya mengawali sejarah sebagai pionir bus full tol untuk rute Jakarta-Surabaya.
"Ketika yang lain tidak mau, kami ditawarkan oleh kementerian (Kemenhub). Sinar Jaya mau ke Surabaya, tapi harus jalan tol (syaratnya), kami mau," ungkap Pak Haji di Jakarta belum lama ini.
Baca juga: Ratusan Skutik Ramaikan Kontes Modifikasi di Jakarta Selatan
Ilustrasi Bus Sinar Jaya, bus yang memiliki rute Tangerang-SemarangLangkah berani ini diambil Sinar Jaya di saat operator lain masih ragu terhadap potensi jumlah penumpang jika bus dipaksa terus melaju di dalam tol tanpa mampir ke kota-kota perlintasan.
Hasilnya, keputusan cepat tersebut berbuah manis dan menjadikan Sinar Jaya sebagai penguasa awal jalur Trans-Jawa cepat.
Pada masa-masa awal pengoperasian rute tersebut, manajemen Sinar Jaya menerapkan standar operasional yang sangat ketat. Konsep perjalanan didesain murni sebagai layanan ekspres tanpa jeda keluar-masuk jalan tol.
"Nah, makanya Bapak kalau ke Surabaya naik Sinar Jaya yang pertama kali itu, jurusannya betul-betul toll to toll. Nggak boleh dia keluar-keluar," kata Pak Haji.
Strategi operasional ini terbukti sukses memangkas waktu tempuh Jakarta-Surabaya menjadi jauh lebih singkat, sesuatu yang sangat dicari oleh konsumen yang mendambakan efisiensi waktu perjalanan.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah armada hingga puluhan unit pada trayek tersebut, manajemen mulai fleksibel. Hal ini demi mengakomodasi kebutuhan penumpang di titik-titik tertentu tanpa mengorbankan esensi kecepatan waktu tempuh.
"Ada beberapa agen-agen yang juga mungkin bermohon bisa keluar tol sebentar, masuk lagi. Tapi prinsip bahwasanya Sinar Jaya itu bus Trans-Jawa, pasti lewat tol gitu. Walaupun nanti di ujungnya baru dia keluar-keluar tol," kata Pak Haji.
Bagi Sinar Jaya, keberadaan infrastruktur tol kini bukan sekadar opsi pelengkap jalur, melainkan syarat utama sebelum mereka memutuskan untuk melakukan ekspansi trayek ke wilayah baru, termasuk untuk rencana jangka panjang mereka di lintas Sumatra.
"Kementerian akan memberikan izin kalau sampai ke daerah sana itu sudah ada jalan tol," kata Pak Haji.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang