Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Honda Masih Tahan Harga Mobil Saat Rupiah Masih Melemah

Kompas.com, 25 Mei 2026, 16:21 WIB
Gilang Satria,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dikhawatirkan memberi tekanan terhadap industri otomotif.

Kondisi nilai tukar rupiah dapat memengaruhi biaya produksi, harga komponen, hingga strategi penjualan kendaraan di pasar domestik.

Meski demikian, PT Honda Prospect Motor (HPM) memastikan hingga saat ini belum memiliki rencana menaikkan harga jual mobil di Indonesia.

Baca juga: Rupiah Tertekan, Harga Mobil Jaecoo Masih Stabil

Sales & Marketing and Aftersales Director HPM, Yusak Billy, mengatakan, fluktuasi kurs rupiah memang menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi biaya produksi industri otomotif.

Test drive Honda HR-V Hybrid varian termurahKOMPAS.com/ADITYO WISNU Test drive Honda HR-V Hybrid varian termurah

"Memang nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing itu mempengaruhi industri otomotif dan tentunya dengan pelemahan rupiah saat ini memberi tekanan bagi kami yang melakukan importasi misalnya impor, atau komponen ataupun suku cadang yang diproduksi untuk bahan baku produksi kami yang masih menggunakan mata uang asing," ujar Billy di Jakarta, akhir pekan lalu.

Produksi Lokal

Billy menjelaskan, dampak pelemahan rupiah relatif bisa ditekan karena sebagian besar produk yang dipasarkan di Indonesia diproduksi di pabrik lokal dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi.

"Tapi sekarang ini saya bicara bukan Prelude tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang (Jawa Barat) itu sebenarnya tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi jadi bisa menemukan dampak pelemahan dari rupiah," kata Billy.

Baca juga: Drifter Kembar 13 Tahun Ini Naik Kelas di Kejurnas Drift 2026

Sebagai informasi, pabrik Honda di Karawang, Jawa Barat, memproduksi sejumlah model untuk pasar domestik, seperti Brio, WR-V, BR-V, hingga HR-V.

Honda Prelude Kompas.com/Nanda Honda Prelude

Tingginya kandungan lokal membuat ketergantungan terhadap komponen impor menjadi lebih kecil dibanding kendaraan yang didatangkan secara utuh dari luar negeri.

Tahan Harga

Meski tekanan biaya akibat kurs masih terjadi, Honda mengaku belum akan langsung menyesuaikan harga kendaraan. Perusahaan saat ini masih memantau perkembangan pasar dan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan.

"Sampai sekarang kami belum ada rencana menaikan harga jual mobil termasuk produk-produk ini jadi kami terus memonitor kekembangannya, monitor pasar bagaimana nilai tukarnya seperti apa itu kami monitor untuk menentukan apakah kami melakukan yang tepat," ujar Billy.

Baca juga: Biaya Resmi Bikin dan Perpanjangan SIM C per Mei 2026

Selain nilai tukar rupiah, Billy mengatakan, terdapat faktor lain yang juga memengaruhi harga kendaraan, salah satunya adalah pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang terus mengalami penyesuaian tiap tahun.

"Tapi itu adalah salah satu faktor, ada juga faktor perpajakan BBN kan setiap tahun naik itu juga salah satu faktor yang bisa menyebabkan (harga) mobil, dan harga untuk tahun depan memang tidak mengikat," kata Billy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau