Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Transportasi Publik Belum Jadi Pilihan, Ini Alasan Utamanya

Kompas.com, 15 April 2026, 09:42 WIB
Aprida Mega Nanda,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Minat masyarakat untuk beralih ke transportasi publik di kota-kota besar Indonesia masih tergolong rendah. Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi pun tetap tinggi, meski sejumlah kota seperti Jakarta sudah memiliki sistem angkutan umum yang relatif berkembang.

Urban Mobility Manager Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), Mizandaru Wicaksono, mengatakan bahwa penggunaan kendaraan pribadi masih mendominasi mobilitas masyarakat.

“Kalau kita lihat saat ini kota-kota besar di Indonesia masih menggunakan kendaraan pribadi, ini sebenarnya isu yang cukup besar. Bahkan Jakarta yang transportasinya sudah cukup baik, masih 78 persen orang menggunakan kendaraan pribadi. Jadi masih tinggi sekali,” ucap Mizan, saat ditemui di Jakarta Pusat belum lama ini.

Baca juga: Alasan Korlantas Izinkan Bayar Pajak Tahunan Tanpa KTP Pemilik Lama

Ketergantungan ini memunculkan berbagai persoalan, mulai dari polusi udara, konsumsi bahan bakar minyak (BBM), hingga meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas.

Berdasarkan survei yang dilakukan ITDP di Jakarta pada 2023 terhadap komuter Jabodetabek, dengan total 511 responden non-pengguna transportasi publik dan 501 pengguna, terungkap sejumlah alasan utama yang membuat masyarakat enggan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.

Ilustrasi lalu lintas, kondisi transportasi publik di Jakarta. Sistem ganjil genap di Jakarta ditiadakan sementara pada 18?24 Maret 2026 selama libur Nyepi dan Idul Fitri.UNSPLASH/DAPUR MELODI Ilustrasi lalu lintas, kondisi transportasi publik di Jakarta. Sistem ganjil genap di Jakarta ditiadakan sementara pada 18?24 Maret 2026 selama libur Nyepi dan Idul Fitri.

Dari sisi non-pengguna transportasi publik, faktor kenyamanan menjadi hambatan terbesar dengan persentase 37,6 persen. Disusul waktu tempuh yang lebih lama (20,1 persen), layanan yang dianggap kurang andal (13,9 persen), hingga biaya yang dinilai lebih mahal (9,7 persen).

Selain itu, kebutuhan untuk transit atau berpindah moda juga menjadi kendala (8 persen), diikuti akses yang dinilai kurang aman dan nyaman (6 persen), serta alasan lainnya (4,8 persen).

Sementara itu, dari perspektif pengguna transportasi publik, persoalan utama masih berkutat pada kenyamanan (23 persen) dan keandalan layanan (22,9 persen). Kemudian kebutuhan transit (20,2 persen), faktor keamanan (10,4 persen), serta akses menuju dan dari stasiun yang dinilai sulit (8,8 persen).

Baca juga: Segini Biaya Pasang Karpet Kulit Sintetis untuk Mobil

Masalah lain yang turut disoroti adalah keterbatasan ruang parkir di stasiun (7,5 persen) dan faktor lainnya (7 persen).

Adapun yang dimaksud dengan kurang nyaman meliputi kondisi kendaraan yang padat, suhu yang panas, hingga minimnya fasilitas tempat duduk. Sementara kurang andal berkaitan dengan jadwal yang tidak pasti, baik waktu kedatangan maupun durasi perjalanan.

Dari sisi keamanan, kekhawatiran terhadap tindak kriminal masih menjadi pertimbangan sebagian masyarakat. Sedangkan akses yang sulit mencakup jarak menuju halte atau stasiun yang jauh, serta fasilitas pejalan kaki seperti trotoar dan penyeberangan yang belum memadai.

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan transportasi publik tidak hanya soal penambahan armada, tetapi juga menyangkut kenyamanan, integrasi, serta kemudahan akses bagi masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau