
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DALAM banyak ruang pendidikan, kebenaran sering diperlakukan seperti wilayah yang sudah selesai.
Ia tinggal dihafal, diucapkan kembali, lalu dijaga agar tidak diganggu. Ketika muncul keberatan, pertanyaan, atau tafsir lain, respons yang muncul sering bukan dialog, melainkan penegasan otoritas.
Di titik itu, pembelajaran perlahan kehilangan daya hidupnya. Yang dipertahankan bukan lagi pencarian makna, tetapi siapa yang paling berhak menentukan kebenaran.
Ironi semacam itu muncul dalam polemik Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Kebangsaan yang diadakan MPR RI tingkat Kalimantan Barat beberapa hari terakhir.
Peristiwa itu bermula ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak menyampaikan keberatan terhadap keputusan dewan juri terkait jawaban tentang mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan.
Hal itu kemudian menjadi perdebatan publik karena ada dua jawaban dengan substansi serupa tetapi memperoleh keputusan berbeda dari juri.
Video perdebatan tersebut segera menyebar luas di media sosial. Namun perhatian publik ternyata tidak berhenti pada benar atau salahnya jawaban peserta.
Yang lebih kuat terbaca justru atmosfer yang muncul dalam ruang pembelajaran itu sendiri. Keberatan peserta dijawab dengan penegasan otoritas juri dan alasan artikulasi dipakai untuk memperkuat keputusan.
Pembawa acara sibuk menekankan kompetensi dewan juri, dan situasi itu memunculkan kesan bahwa yang sedang dipertahankan bukan lagi kualitas argumentasi, melainkan otoritas atas kebenaran.
Kasus ini kemudian mendorong publik menghubungkan peristiwa tersebut dengan pengalaman sosial yang lebih luas.
Masyarakat kita memiliki memori panjang tentang praktik kekuasaan yang sulit menerima koreksi.
Karena itu, sebuah lomba pelajar pun dapat memunculkan resonansi sosial yang besar ketika pola yang terlihat terasa akrab: keputusan lebih penting dipertahankan daripada dibuka untuk diuji bersama.
Baca juga: Mengapa Ramai-ramai Menolak MBG Masuk Kampus?
Padahal, pelajaran tidak terduga dari lomba ini justru keberanian siswa menyampaikan keberatan secara terbuka.
Mereka tidak sekadar mempersoalkan poin. Mereka mencoba membandingkan substansi jawaban dan meminta penjelasan yang dianggap masuk akal.
Dalam pendidikan modern, kemampuan seperti itu seharusnya dipandang sebagai bagian penting dari proses belajar.
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.