Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Strategi BI Kaltim Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tekan Ketergantungan Batubara

Kompas.com, 10 Desember 2025, 11:55 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Kalimantan Timur (Kaltim) kini berada di episentrum pembangunan nasional berkat Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, laju pembangunan masif seringkali diiringi risiko overheating ekonomi dan lonjakan inflasi, khususnya pada bahan pangan.

Di tengah tantangan ini, Kaltim mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Terbaik 2024 dan mampu menekan inflasi daerah hingga 1,47 persen (yoy) pada tahun 2024 atau turun drastis dari 3,46 persen pada 2023.

Baca juga: Kerek UMKM Balikpapan dan IKN Naik Kelas, BI Dorong Penggunaan QRIS Tap

Kinerja positif ini tidak lepas dari implementasi inovatif Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang disinergikan dengan strategi yang bersifat preventif dan antisipatif, mengubah Kaltim menjadi acuan pengendalian inflasi daerah.

Inflasi Supply-Side Terkendali

Inflasi di daerah sendiri seringkali didorong oleh faktor supply-side (pasokan dan distribusi) yang berada di luar jangkauan instrumen kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Untuk mengatasinya, BI Kaltim bersama TPID mengawinkan GNPIP dengan program lokal unggulan Deteksi Dini, Aksi Cepat, dan Harga Stabil (Sigap).

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim Budi Widihartanto menuturkan, dalam skema GNPIP-Sigap, intervensi tidak lagi dilakukan secara umum.

Sebelumnya, Early Warning System (EWS) BI Kaltim secara rutin memetakan dan mendiagnosis penyebab spesifik kenaikan harga.

Baca juga: Alarm Merah Inflasi IKN Berbunyi, BI Kaltim Siapkan Jurus 4K

"Hasil diagnosis data yang kuat ini kemudian menjadi basis perumusan kebijakan daerah, memungkinkan pembagian peran yang jelas antar stakeholder dalam TPID," tutur Budi kepada Kompas.com, Rabu (10/12/2025).

Model kolaboratif ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas harga di tengah tekanan peningkatan permintaan, yang dipicu oleh lonjakan pekerja konstruksi IKN dan penyelenggaraan agenda-agenda besar macam MTQ Nasional, dan lain-lain.

Keberhasilan ini menegaskan model GNPIP Kaltim kini mampu mengatasi dampak volatilitas harga komoditas domestik dan global secara berkelanjutan dengan fokus pada penguatan pasokan.

Pertahanan Inflasi Berbasis AI

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1 persen, yang ditopang sektor industri, risiko peningkatan kebutuhan pangan dan biaya logistik, khususnya terkait IKN menjadi tantangan utama, mengingat Kaltim berkarakteristik sebagai daerah net konsumen. 

Menjawab tantangan ini, TPID Kaltim telah mengembangkan aplikasi Mekanisme Pengendalian Komoditas Utama (Mandau).

Baca juga: Menkeu Baru, BI Kaltim Ungkap Strategi Jaga Ekonomi Daerah

Aplikasi end-to-end berbasis Akal Imitasi (AI) dan Machine Learning (ML) ini mendorong pengendalian inflasi yang bersifat antisipatif dan preventif.

Adapun fitur utama Mandau Kaltim mencakup:

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau