TEL AVIV (Arrahmah.id) - Operasi militer 'Israel' di Lebanon Selatan dilaporkan telah bergeser dari pertempuran langsung menjadi kampanye penghancuran infrastruktur secara besar-besaran. Menurut sumber militer yang dikutip oleh surat kabar Haaretz, misi saat ini berpusat pada satu tujuan utama: penghancuran total di area-area yang menjadi target.
Laporan tersebut mengungkapkan detail mengejutkan mengenai keterlibatan pihak swasta dalam operasi militer ini. Alih-alih terlibat dalam pertempuran garis depan, banyak unit militer kini ditugaskan hanya untuk mengamankan area agar kru penghancur dapat bekerja tanpa gangguan.
Operasi penghancuran dilakukan menggunakan buldoser dan ekskavator yang dioperasikan oleh kontraktor sipil. Para tentara bersaksi bahwa perusahaan-perusahaan kontraktor ini mendapatkan keuntungan berdasarkan jumlah rumah yang mereka hancurkan.
Testimoni lapangan menggambarkan kampanye yang memprioritaskan kerusakan skala besar daripada kontak senjata langsung dengan pejuang Hezbollah.
Seorang tentara yang telah dikerahkan ke Lebanon untuk ketiga kalinya sejak Oktober 2023 memberikan gambaran mengenai perubahan kondisi di lapangan. Berbeda dengan pengerahan sebelumnya di mana tentara memiliki kebebasan menyerang yang lebih luas, aturan pelibatan (rules of engagement) saat ini dikabarkan lebih ketat. Pasukan hanya diizinkan merespons jika ada ancaman yang jelas dan mendesak.
Tentara tersebut mencatat bahwa Hezbollah terus meluncurkan tembakan secara intensif, menciptakan tekanan psikologis bagi pasukan darat yang merasa ruang gerak mereka untuk menyerang balik mulai terbatas.
Ketegangan saat ini berakar pada peristiwa akhir Februari 2026, ketika serangan gabungan AS-'Israel' menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Hal ini memicu aksi balasan regional, termasuk peluncuran roket besar-besaran oleh Hizbullah pada 2 Maret, yang diikuti oleh invasi darat dan pengeboman udara oleh 'Israel'.
Meskipun gencatan senjata sementara telah disepakati pada 16 April lalu, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Serangan udara dan artileri 'Israel' terus meningkat, menandakan bahwa gencatan senjata tersebut gagal bertahan. Fokus pada penghancuran sistematis ini menunjukkan bahwa Israel sedang berupaya menciptakan zona penyangga yang tidak dapat dihuni di sepanjang perbatasan Lebanon Selatan. (zarahamala/arrahmah.id)
