BEIRUT (Arrahmah.id) - Ledakan dahsyat mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, sesaat setelah tengah malam tadi. Angkatan Udara Israel meluncurkan sedikitnya lima rudal ke kawasan Al-Janah, sebuah wilayah yang berada di luar pinggiran selatan (Dahiyeh). Serangan ini menandakan bahwa militer 'Israel' kini telah menghalalkan seluruh wilayah Beirut sebagai zona target operasi mereka.
Militer 'Israel' mengklaim serangan tersebut menargetkan seorang komandan senior Hizbullah dan satu anggota lainnya. Sementara itu, Hizbullah membalas dengan meluncurkan kawanan drone penyerang ke berbagai wilayah di 'Israel' utara.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa serangan ke Al-Janah dan daerah Khaldeh (jalan pantai selatan Beirut) menunjukkan perluasan radius serangan 'Israel' yang kini menyentuh area sipil dan diplomatik di pusat kota. Hizbullah mengonfirmasi terlibat bentrokan jarak dekat menggunakan senjata ringan, menengah, dan artileri melawan pasukan darat 'Israel' di kota Shama, Lebanon Selatan.
Militer 'Israel' mengakui 4 tentara tewas, termasuk seorang perwira dari Brigade Nahal, dalam pertempuran sengit di Lebanon Selatan pada Selasa (31/3), sementara Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 21 orang tewas dan 70 luka-luka dalam serangan 24 jam terakhir. Total korban tewas sejak perang pecah sebulan lalu mencapai 1.268 jiwa.
Eskalasi ini merupakan bagian dari "perang besar" yang dipicu oleh beberapa peristiwa kunci awal Maret 2026. Serangan Hizbullah pada 2 Maret sebagai respons atas serangan berkelanjutan 'Israel' terhadap Lebanon meskipun ada kesepakatan damai sejak November 2024.
Ketegangan memuncak setelah pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang membuat Hizbullah (sekutu utama Iran) melancarkan serangan balasan besar-besaran.
Sejak awal Maret, 'Israel' memulai agresi baru yang mencakup serangan udara masif dan infiltrasi darat ke wilayah Lebanon.
Langkah 'Israel' mengebom kawasan Al-Janah di pusat Beirut adalah pesan bahwa aturan main lama telah berakhir. Dengan hancurnya komando pusat Iran pasca kematian Khamenei, Hizbullah kini tampak bergerak dengan otonomi penuh, yang justru membuat pola serangan mereka menjadi lebih sulit diprediksi oleh intelijen 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)
