ISLAMABAD (Arrahmah.id) -- Akar perang terbuka antara Pakistan dan Afghanistan saat ini dipicu oleh konflik yang semakin tajam akibat aktivitas kelompok militan Tehreek‑e‑Taliban Pakistan (TTP) yang beroperasi dari kawasan perbatasan. Islamabad menuduh bahwa pemerintah Imarah Islam Afghanistan (IIA) menyediakan tempat aman dan dukungan, serta sejarah panjang ketegangan lintas batas yang belum terselesaikan.
Dilansir Reuters (28/2/2026). pejabat Pakistan telah lama menyatakan bahwa eskalasi kekerasan di perbatasan berkaitan dengan serangan rutin oleh TTP terhadap pasukan dan infrastruktur Pakistan. TTP sendiri dibentuk pada 2007 dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Pakistan dan mendirikan negara yang menerapkan hukum Islam.
Menurut kesimpulan laporan awal dan berbagai sumber, IIA dituduh memberikan dukungan finansial dan logistik secara rutin kepada TTP, termasuk tempat aman untuk pelatihan dan perencanaan serangan terhadap Pakistan — sebuah tuduhan yang dibantah oleh Kabul namun menjadi inti dari eskalasi militer terbaru antara kedua negara.
Lebih lanjut, ketegangan diperparah oleh sejarah persengketaan Garis Durand, perbatasan sepanjang sekitar 2.611 kilometer yang ditetapkan pada era kolonial dan tidak diakui oleh sebagian pihak di Afghanistan yang melihatnya sebagai pembagian tidak sah dari komunitas Pashtun yang hidup di kedua sisi perbatasan. Ketidaksepakatan mengenai status dan kendali garis perbatasan ini terus menambah ketidakpercayaan di antara Islamabad dan Kabul.
Dalam bulan terakhir, insiden seperti serangan TTP di provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang menyebabkan korban di pihak Pakistan telah meningkatkan kemarahan Islamabad terhadap Kabul, diikuti oleh serangan udara Pakistan terhadap berbagai target di Afghanistan termasuk Kabul dan Kandahar sebagai bagian dari operasi Ghazab Lil Haq — kampanye yang menurut pemerintah Pakistan dimaksudkan untuk menghancurkan posisi IIA yang dituduh memberikan dukungan kepada TTP.
IIA di sisi lain menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak menarget Pakistan dan siap berdialog meskipun konflik sudah meningkat menjadi “perang terbuka” menurut pejabat Pakistan. Untuk saat ini, klaim dan kontra klaim tetap menjadi inti dari dinamika yang memicu perang ini, membuat upaya diplomasi internasional semakin penting untuk mencegah konflik berkepanjangan. (hanoum/arrahmah.id)
