KABUL (Arrahmah.id) - Di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Afghanistan dan Pakistan, Kementerian Pertahanan Imarah Islam Afghanistan (IIA) mengumumkan bahwa angkatan udara negara tersebut pada Jumat (27/2/2026) sekitar pukul 11:00 pagi melakukan serangan terhadap beberapa target militer di wilayah Pakistan.
Para pejabat dari kementerian mengatakan serangan udara tersebut menargetkan sebuah kamp militer di dekat Faizabad di Islamabad, markas besar militer di Nowshera, kota militer Jamrud, serta Abbottabad. Pernyataan tersebut mencatat bahwa operasi tersebut dilakukan "dengan sukses" dan bahwa pangkalan, pusat, dan fasilitas utama tentara Pakistan menjadi sasaran, lansir Tolo News (28/2).
Menurut Kementerian Pertahanan, serangan tersebut dilakukan sebagai tanggapan atas apa yang digambarkan sebagai "penyerbuan udara" oleh pasukan militer Pakistan.
Enayatullah Khwarazmi, juru bicara Kementerian Pertahanan, mengatakan: “Serangan ini termasuk kamp militer di dekat Faizabad di Islamabad, markas militer di Nowshera, markas militer di Jamrud, dan juga di Abbottabad. Operasi udara ini berhasil dilakukan, dan pangkalan, pusat, dan fasilitas militer utama Pakistan menjadi sasaran.”
Sementara itu, Fasihuddin Fitrat, Kepala Staf Angkatan Darat Imarah Islam Afghanistan, menekankan bahwa setiap pergerakan militer lebih lanjut oleh Pakistan akan dibalas dengan “respons yang jauh lebih kuat.” Dengan menjamin pertahanan integritas teritorial negara, ia memperingatkan bahwa jika serangan diulangi, kota-kota besar Pakistan, termasuk Islamabad, akan menjadi sasaran.
Fasihuddin Fitrat mengatakan: “Kami meyakinkan rakyat Muslim Afghanistan bahwa kami tidak akan pernah membiarkan tindakan agresi apa pun tanpa balasan; kami akan membalas setiap tindakan yang tidak terpuji dengan tindakan yang lebih keras.”
Di sisi lain, sumber-sumber mengatakan kepada Tolo News bahwa pasukan militer Imarah Islam telah menyiapkan tank dan senjata ringan serta berat untuk setiap potensi konfrontasi dan akan menggunakannya jika perlu.
Menurut sumber-sumber tersebut, kendaraan dan senjata militer ini akan digunakan untuk melawan kemungkinan serangan militer.
Abdul Sadeq Hamidzoy, seorang analis politik, mengatakan: “Mujahidin Imarah Islam telah berperang bukan selama empat tahun tetapi selama empat puluh tahun; mereka memiliki rencana militer dan juga memiliki kemampuan yang diperlukan.”
Shahzada Massoud, analis politik lainnya, juga mengatakan: “Sayangnya, perang telah dipaksakan kepada kami; kami orang Afghanistan tidak pernah mendukung perang, tetapi pasukan Imarah Islam dipaksa.” (haninmazaya/arrahmah.id)
