Sonora.ID, Bogor – Di tengah maraknya tren kerajinan tangan modern, teknik sashiko menjadi salah satu yang cukup digemari. Namun, tanpa disadari, tren tersebut lebih banyak mengadopsi gaya Jepang secara utuh, mulai dari motif hingga bahan baku.
Melihat kondisi ini, Retno Suminar berinisiatif melakukan pendekatan berbeda: mengawinkan teknik sashiko dengan kekayaan budaya Indonesia.
Teknik sashiko sendiri dikenal sebagai metode sulam tradisional dari Jepang. Namun di tangan Retno, teknik ini diolah kembali dengan sentuhan lokal melalui penggunaan kain wastra Indonesia, seperti lurik, tenun, hingga batik.
“Ini bukan soal meniru budaya lain, tapi bagaimana kita bisa berdialog dengan budaya tersebut, lalu melahirkan identitas baru yang tetap berakar pada Indonesia,” jelasnya.
Dalam pelatihan yang ia selenggarakan, para peserta diajak mengeksplorasi motif-motif yang terinspirasi dari berbagai daerah, seperti Aceh, Riau, Jawa Tengah, hingga Papua. Tidak hanya itu, benang dan kain yang digunakan juga diupayakan berasal dari dalam negeri.
Antusiasme para peserta pelatihan yang mayoritas adalah para perempuan mendorong Retno untuk membentuk komunitas Srengenge. Dari rumahnya di Cibinong, Bogor, komunitas ini kemudain berkembang menjadi ruang pembelajaran kreatif sekaligus upaya pemberdayaan perempuan yang memberikan dampak ekonomi bagi kesejahteraan.
“Mereka yang sebagian besar ibu rumah tangga kini memiliki kegiatan produktif untuk membantu ekonomi keluarga” jelas Retno.
Nama ‘Srengenge’ yang berarti matahari (diambil dari bahasa Jawa) menyiratkan semangat menyinari, memberi energi dan bisa menjadi mata pencaharian bagi anggotanya.
Berkat ketekunan Retno, hasil kreatifitas komunitas Srengenge diakui kualitasnya oleh pasar fashion tanah air.