Ada banyak cara mengenal Yogyakarta. Sebagian orang menemukannya melalui keramaian Malioboro, kemegahan Keraton, atau keindahan candi-candi yang tersebar di sekitarnya. Namun, Yogyakarta juga menyimpan cerita lain yang hidup dalam ruang-ruang yang lebih tenang, salah satunya di Masjid Pathok Negoro Dongkelan.
Ketika pertama kali memasuki kawasan masjid ini, suasana yang terasa bukan hanya ketenangan khas tempat ibadah. Ada jejak sejarah panjang yang seolah masih hidup di setiap sudut bangunannya. Di balik dinding-dinding yang sederhana, tersimpan kisah tentang dakwah, perjuangan, hubungan dengan Keraton, hingga kehidupan sosial masyarakat yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.
Masjid Pathok Negoro Dongkelan, yang kini juga dikenal sebagai Masjid Nurul Huda, merupakan salah satu masjid pathok negara peninggalan Keraton Yogyakarta. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari sosok Kiai Syihabuddin, seorang ulama yang memperoleh tanah perdikan dari Sri Sultan Hamengkubuwana I. Tanah tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas jasa beliau dalam meredam konflik dengan Raden Mas Said tanpa pertumpahan darah.
Karena kepakarannya dalam bidang fikih, Kiai Syihabuddin kemudian diangkat sebagai Penghulu Pathok Nagara wilayah selatan Kuthanagara. Dari sinilah sejarah Masjid Pathok Negoro Dongkelan bermula.
Masjid ini dibangun pada tahun 1775. Di sekelilingnya tumbuh sebuah komunitas muslim yang berkembang menjadi perkampungan Kauman. Bersama masyarakat, Kiai Syihabuddin tidak hanya mendirikan masjid, tetapi juga membangun ruang kehidupan yang menjadi pusat aktivitas keagamaan warga.
Perjalanan masjid ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Pada masa Perang Diponegoro, bangunan masjid sempat dibakar oleh Belanda hingga hanya menyisakan ompak batu. Namun semangat masyarakat untuk mempertahankan warisan keislaman mereka tidak ikut padam. Masjid kembali dibangun dengan material sederhana hingga akhirnya mengalami berbagai pemugaran yang membuatnya tetap berdiri kokoh sampai hari ini.
Menariknya, meskipun pengelolaan sehari-hari dilakukan oleh masyarakat dan takmir setempat, masjid ini tetap berada di bawah naungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hubungan tersebut masih terjaga hingga sekarang. Bahkan, dalam berbagai kegiatan budaya dan keagamaan tertentu, pihak Keraton masih turut hadir dan terlibat secara langsung.
Namun, nilai penting Masjid Pathok Negoro Dongkelan tidak berhenti pada aspek sejarahnya saja.
Di belakang masjid terdapat kompleks makam yang menjadi tempat peristirahatan Kiai Syihabuddin beserta sejumlah tokoh penting Islam di Yogyakarta. Di kawasan inilah dimakamkan KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, serta KH. Ali Maksum dan Kyai Tolchah Mansoer yang dikenal sebagai tokoh besar Nahdlatul Ulama.
Karena itu, kawasan masjid tidak pernah benar-benar sepi. Para peziarah datang silih berganti, baik dari Yogyakarta maupun dari berbagai daerah lain di Indonesia. Mereka tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga untuk menyambung ingatan terhadap para ulama yang pernah berkontribusi dalam perjalanan Islam di Nusantara.
