Manusia Biasa

Best in Citizen Journalism dan People’s Choice Kompasiana Awards 2024. Nulis tentang keseharian.


Jual Manggis sebab "Bakat Kubutuh"

Dipublikasikan pada 1 September 2026, 08:08 WIB Diperbarui pada 1 September 2026, 11:34 WIB
Konten ini dibuat oleh pengguna Kompasiana. Seluruh isi menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan resmi redaksi Kompas.
Penjual Manggis (dokumen pribadi)

SETELAH undur diri dari profesi yang dianggapnya sudah tak menjanjikan, ia berjualan hasil bumi. Pria bercambang itu enggan berpangku tangan.

Namanya, Pak Agil. Pria berusia paruh baya tersebut dulunya berprofesi sebagai penarik becak.

Pada zamannya, kendaraan bertenaga kayuh ini merupakan angkutan populer. Kejayaan kereta angin beroda tiga berangsur surut seiring dengan bertambahnya angkutan umum, sepeda motor, dan mobil.

Dulu mudah ditemukan di ujung-ujung jalan perumahan dan tempat keramaian. Kini, di ujung gang tertentu becak hanya terlihat satu dua. Sedikit lebih banyak ada di satu jalan menuju pasar.

Baca Juga: Sandal Kulit Baru Dapat dari Wangsit

Sambil menunggu pengguna jasa, penarik becak duduk terkantuk-katuk atau bercengkerama dengan sesama.

Kendati mangkal dekat pasar, mereka jarang memperoleh penumpang. Paling umum, mendapat orderan mengangkut barang untuk dibawa ke warung sayur atau toko kelontong.

Dari arah pasar kadang terlihat becak mengangkut pisang bertandan-tandan, tumpukan sayur mayur, atau dus-dus berdesakan di badan becak.

Biasanya, pengguna jasa sudah punya langganan becak. Penarik becak yang mengetahui lokasi warung dituju, yang akan mengantarkan barang hingga ke tempat tanpa berkurang satu pun.

Pak Agil, dulu sebagai penarik becak juga demikian. Menunggu penumpang atau mengantar barang ke warung pelanggan.

Baca Juga: Skema Pembiayaan UMi untuk Usaha Ultra Mikro

Namun, makin hari order muatan makin berkurang. Mereka yang biasa menggunakan jasa becak sudah punya alat angkut: angkot, ojol, sepeda motor, mobil.

Pak Agil mengambil sikap atas gelagat perubahan pilihan tersebut. Ia berhenti menjadi penarik becak, beralih peran menjadi penjual hasil bumi.

Bermodalkan koneksi dengan pedagang dan pemasok, yang didapatnya selama bertahun-tahun mangkal di pasar, ia mengambil barang dagangan. Antara lain:

  • Sayur mayur.
  • Ketela pohon (ubi kayu, pohong, sampeu).
  • Talas balitung atau mbothe.

Baca Juga: Ruang Pamer di Tepi Jalan Tentara Pelajar

Jualannya laris. Pak Agil menggelar barang dagangan dekat permukiman --mendekati pembeli. Harga ditawarkan juga sama dengan di pasar, kadang lebih murah berhubung ia tidak menanggung sewa lapak.

Saya pernah membeli sayur dijualnya; pernah membeli singkong, talas, dan pisang dari Pak Agil.

Membeli barang dagangannya bukan hanya karena harga, melainkan senang melihat orang berikhtiar mencari penghasilan halal. Dengan cara apa pun tanpa meminta-minta.

Halaman:
Berikan Komentar
1 jam lalu
Wah, manggis. Buah favorit ini selalu uenak. Tapi kalau kebanyakan gigi terasa asam dan geli.
2 jam lalu
Wah nikmat banget makan manggis, sambil ingat dulu suka tebak-tebak buah manggis.
2 jam lalu
Dari terkantuk-kantuk pasif menunggu penumpang di becaknya, Pak Agil banting stir becaknya menjadi pedagang kecil aneka kebutuhan dapur yang menuntut dirinya aktif komunikatif menawarkan dagangan.
Kisah inspiratif.
Terima kasih Pak Budi..
Salam hormat.
Tulisan lainnya dari Budi Susilo
Yuk login dulu untuk membuka akun kamu