Novel Salah Asuhan 1928 karya Abdoel Moeis sering kali langsung dikaitkan dengan dampak buruk pergaulan Barat. Banyak pembaca buru-buru menyalahkan lingkungan luar sebagai penyebab hancurnya hidup Hanafi. Namun, jika kita melihatnya dengan lebih jeli, akar masalah sebenarnya ada di dalam diri Hanafi sendiri. Novel ini adalah sebuah kritikan tajam terhadap pola asuh keluarga yang terlalu memanjakan anak, serta kepribadian seseorang yang egois, keras kepala, dan mudah menyerap oleh hal-hal baru di sekitarnya untuk dijadikan ajaran hidup.
Jika dirunut ke belakang, sifat buruk Hanafi tidak muncul begitu saja saat dia dewasa. Sejak kecil, Hanafi adalah anak tunggal yang dimanja oleh ibunya. Ibunya bahkan sengaja untuk menyekolahkan Hanafi di sekolah bergengsi pada masa itu di kota yang jauh dari tempat asal mereka, hal tersebut dilakukan dengan harapan agar Hanafi merasakan hidup enak dan dipermudah dalam segala hal, terutama pendidikan dan karir. Kita dapat melihat bahwa pola asuh ini justru menjadi bumerang. Hanafi tumbuh menjadi anak yang tidak tahu cara menghargai proses, tidak kuat menghadapi tekanan, dan merasa bahwa dunia harus selalu berputar mengikuti kemauannya sendiri.
Kombinasi pola asuh seperti itu akhirnya membentuk kepribadian Hanafi yang sangat arogan dan keras kepala saat dewasa. Hanafi memiliki ego yang luar biasa tinggi. Ketika dia melihat gaya hidup modern, sifatnya yang mudah menyerap hal baru yang dianggapnya hebat dan bergengsi membuat dia ingin memiliki gaya hidup itu. Dia menjadi keras kepala dan menolak mendengarkan nasihat siapa pun, termasuk ibu kandungnya sendiri. Di titik ini, kita melihat perlakuan Hanafi yang tidak memanusiakan orang tua. Kegagalan hidup Hanafi bukan karena dia belajar kebudayaan lain, melainkan karena kepribadiannya yang lemah dan selalu mengutamakan ego di atas perasaan orang-orang yang menyayanginya.
Masalah pola asuh dan kepribadian seperti Hanafi ini masih kita jumpai pada anak muda zaman sekarang. Banyak orang tua di era modern sekarang yang terlalu mudah menyetujui tindakan anak dengan fasilitas tanpa menanamkan karakter yang kuat. Akibatnya, banyak anak muda tumbuh dengan kepribadian yang rapuh dan egois. Mereka gampang ikut-ikutan tren di media sosial, suka pamer, dan mudah stres ketika realitas hidup tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Fenomena ini adalah bukti bahwa salah asuhan di dalam rumah akan melahirkan generasi yang egois dan merugikan diri mereka sendiri. Maka dari itu sebagai seorang anak atauindividu kita pun harus menyaring hal-hal di sekitar kita, tidak semua hal perlu kita terapkan tanpa menyeleksinya dahulu. Tidak semua hal dari internet maupun luar negeri aadalah hal yang bagus.
Melalui judul Salah Asuhan, Abdoel Moeis memberikan pelajaran penting tentang pentingnya pembentukan karakter di dalam keluarga. Lingkungan luar atau pendidikan tinggi tidak akan pernah merusak seseorang jika dia memiliki fondasi kepribadian yang kuat dan tahu cara menghargai orang lain. Tragedi Hanafi adalah pengingat abadi bahwa musuh terbesar yang menghancurkan masa depan kita bukanlah budaya asing, melainkan ego dan kesombongan yang kita pelihara di dalam kepala kita sendiri.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI
