Mohon tunggu...
Syarif Yunus
Syarif Yunus Mohon Tunggu... Dosen - Penulis - Pegiat Literasi - Konsultan Dana Pensiun

Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) - Ketua Dewas DPLK SAM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun Lisensi BNSP - Edukator Dana Pensiun - Mantan Wartawan - Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor - Dr. Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak - Ketua IKA BINDO FBS Univ. Negeri Jakarta (2009 s.d sekarang), Pengurus IKA UNJ (2017-sekarang). Penulis dan Editor dari 54 buku diantaranya JURNALISTIK TERAPAN, Kompetensi Menulis Kreatif, Antologi Cerpen Surti Bukan Perempuan Metropolis. Salam DAHSYAT nan ciamikk !!

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Cerita Tetangga yang Baru Pensiun Seminggu Lalu, Perpisahan Kantor Meriah tapi Bingung

3 Mei 2026   07:59 Diperbarui: 3 Mei 2026   07:59 55
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tetangga yang baru pensiun seminggu lalu (Sumber: edupensiun)

Tetangga saya, seminggu lalu sudah pensiun. Berhenti bekerja setelah 28 tahun. Hari terakhirnya kerja, dia cerita kantornya menggelar acara perpisahan. Bikin tumpengan sambil foto-foto sama teman sekantor. Dapat apresiasi dari pimpinan dan dijadikan contoh sebagai karyawan teladan yang loyal pada perusahaan. Meriah sekali, katanya. Keren sekali tetangga saya, jadi ikut bangga.

Sesampainya di rumah, tetangga saya senyumnya sumringah. Dia cerita suka-dukanya orang bekerja. Mulai dari berangkat pagi, pulang malam hari. Selain untuk menafkahi keluarga, semua hidupnya didedikasikan untuk pekerjaan. Bahkan dia cerita, ikut membangun perusahaannya dari masa-masa sulit hingga maju seperti sekarang. Maklum baru pensiun, jadi masih semangat bila cerita urusan kantor. Beliau memang pantas disebut pekerja keras. Sehari-hari hidupnya hanya untuk pekerjaan dan kantor. Itu cerita seminggu lalu ketika beliau pensiun.

Tapi semalam, saya melihat beliau termenung di teras rumahnya. Ada sesuatu yang beda dan tidak seperti biasanya. Matanya seperti kosong. Kayak lagi melamun. Beliau duduk lama di kursi depan rumahnya. Diam sambil menatap jalanan yang gelap.

Saya bertanya "Bapak kenapa?"

Beliau jawab pelan, "Iya Pak, besok nggak ada lagi tempat yang harus dituju."

"Ya nggak apa-apa Pak, kan memang sudah pensiun. Tinggal dinikmati saja" ujar saya menghibur.

Beliau menjawab, "Itulah masalahnya, bagaimana dengan biaya hidup di hari tua?"

Ternyata, masa pensiun bukan soal kesepian. Tapi soal pekerjaan dan gaji. Apalagi tetangga saya selama ini identitasnya adalah pekerjaannya. Dan sekarang itu hilang. Ditambah satu ketakutan yang nggak beliau ucapkan. Apakah uang pensiun yang tersisa cukup buat hidup?

Banyak pekerja khawatir jelang pensiun, apalagi yang sudah pensiun. Dulu selagi aktif, katanya pensiun masih lama. Tapi begitu waktu pensiun tiba, banyak pekerja yang tidak siap. Maka wajar, 8 dari 10 pensiunan akhirnya mengandalkan biaya hidup dari anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024). Ada 1 dari 2 pensiunan yang meminta transferan dari anaknya setiap bulan (ADB, 2024). Begitulah realitas pensiunan di Indonesia.

Seperti tetangga saya yang pensiun itu. Kini hanya melamun setiap malam. Bingung harus ngapain dan bagaimana cara menutupi kebutuhan hidupnya. Pengen bekerja lagi tapi fisiknya sudah tidak sekuat dulu. Sementara biaya hidup terus berjalan. Baginya, apalah arti tumpengan ketika pensiun. Apalah arti dijadikan teladan sebagai karyawan yang loyal. Tapi masa pensiun yang nyaman sama sekali tidak dipersiapkan saat masih bekerja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Laporkan Konten
Laporkan Akun