Teks ulasan menjadi salah satu materi yang dipelajari siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Lantas, apa yang dimaksud dengan teks ulasan?
Melansir buku E-modul Bahasa Indonesia kelas VIII terbitan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pembelajaran teks ulasan bertujuan melatih siswa untuk berpikir kritis, objektif, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat. Kemampuan ini tidak hanya bermanfaat dalam kegiatan belajar di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menilai informasi, produk, atau suatu karya.
Melalui teks ulasan, siswa diajak untuk menganalisis serta memberikan penilaian terhadap suatu karya seperti buku, film, cerpen, drama, maupun karya seni lainnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pengertian, struktur, ciri-ciri kebahasaan, dan cara menyusun teks ulasan menjadi penting untuk dikuasai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, berikut ini penjelasan lengkap mengenai pengertian, struktur, ciri-ciri, hingga contoh teks ulasan yang dapat dijadikan referensi. Yuk, simak ulasannya berikut ini!
Pengertian Teks Ulasan
Teks ulasan adalah teks yang berisi tinjauan suatu karya baik berupa film, buku, karya sastra dan lain sebagainya. Hal itu untuk mengetahui kualitas, kelebihan, dan kekurangan yang dimiliki karya tersebut yang ditujukan untuk pembaca.
Teks ulasan juga sering disebut sebagai teks resensi, kalau dalam bahasa sehari-hari kita biasa menyebutnya review atau penilaian. Isi dari teks ulasan adalah fokus memberi penilaian terhadap suatu karya atau suatu hal.
Struktur Teks Ulasan
Struktur teks yakni bagian-bagian yang membangun sebuah teks sehingga menjadi suatu teks yang utuh. Adapun struktur yang membangun teks ulasan terdiri dari identitas, orientasi, sinopsis, analisis, dan evaluasi.
Berikut masing-masing penjelasannya:
- Identitas karya, berisi identitas karya. Misalnya identitas novel mencakup judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, tebal halaman, dan ukuran buku. Bagian ini mungkin tidak dinyatakan secara langsung, seperti pada teks ulasan film dan lagu.
- Orientasi, biasanya terletak di paragraf pertama, yakni penjelasan tentang keberadaan karya yang diulas. Misalnya keberadaan novel yang mendapatkan penghargaan, sekaligus mendapat perhatian cukup besar dari banyak kalangan.
- Sinopsis, berupa ringkasan yang menggambarkan pemahaman penulis terhadap isi karya yang diulas. Misalnya isi novel, film, atau lagu.
- Analisis, berupa paparan tentang keberadaan unsur-unsur dalam karya yang diulas. Misalnya ulasan novel memiliki unsur-unsur cerita, seperti tema, penokohan, dan alur.
- Evaluasi, berisi paparan tentang kelebihan dan kekurangan suatu karya. Hal ini dilakukan setelah melakukan tafsiran yang cukup terhadap hasil karya tersebut. Pada bagian ini penulis akan menyebutkan bagian yang bernilai (kelebihan) atau bagian yang kurang bernilai (kekurangan) dari suatu karya (novel, lagu, film dan drama).
Kaidah Kebahasaan Teks Ulasan
Karakteristik dari kebahasaan teks ulasan sebagai berikut:
- Banyak menggunakan konjungsi penerang, seperti bahwa, yaitu, yakni, adalah.
Contoh:- Novel ini banyak memberikan pelajaran kepada pembacanya, antara lain, bahwa kita harus pandai bergaul dengan orang lain.
- Sahara adalah satu-satunya gadis dalam anggota Laskar Pelangi yang memiliki sikap keras kepala dan berpendirian kuat.
- Banyak menggunakan konjungsi temporal, seperti sejak, semenjak, kemudian, akhirnya.
Contoh:- Sejak saat itulah, pemahaman Hasan tentang agama mulai berubah.
- Kemudian, ia mencari Anwar.
- Banyak menggunakan konjungsi penyebab, seperti karena, sebab.
Contoh:- Lama-kelamaan Hasan cemburu karena hubungan Kartini dengan Anwar semakin dekat.
- Hasan merasa bahwa semua itu terjadi karena perbuatan Anwar.
- Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks. Hal ini ditandai oleh kata jangan, harus, hendaknya.
Contoh:- Jangan sampai salah pergaulan hingga pada akhirnya kita malah tersesat.
- Nilai moral yang kedua adalah hendaknya kita mau memaafkan kesalahan orang lain yang sudah bertaubat.
Tujuan Teks Ulasan
Dilansir dari jurnal Menyelami Teks Ulasan dalam Bahasa Indonesia Beserta Struktur dan Contohnya oleh Diandra Tasya, tujuan utama teks ulasan meliputi:
- Memberikan informasi tentang karya.
- Membantu pembaca menilai kualitas karya.
- Menyampaikan kritik dan apresiasi.
- Melatih keterampilan berpikir kritis.
Jenis-jenis Teks Ulasan
Secara umum, teks ulasan dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
1. Ulasan Informatif
Ulasan informatif berfokus pada penyampaian informasi mengenai suatu karya. Jenis ulasan ini umumnya memberikan gambaran umum tentang isi, tema, atau unsur-unsur penting dalam karya tanpa disertai analisis yang mendalam.
2. Ulasan Deskriptif
Ulasan deskriptif menitikberatkan pada penjelasan detail suatu karya. Penulis biasanya mengulas aspek-aspek tertentu, seperti gaya bahasa dalam buku, kualitas akting dalam film, atau teknik sinematografi yang digunakan.
3. Ulasan Kritis
Ulasan kritis merupakan jenis ulasan yang memuat analisis dan penilaian secara lebih mendalam. Dalam menyusun ulasan ini, penulis umumnya menggunakan teori, konsep, atau sudut pandang tertentu untuk mengkaji kelebihan dan kekurangan suatu karya secara objektif dan sistematis.
Langkah-langkah Menyusun Teks Ulasan
Kembali melansir buku E-modul Bahasa Indonesia kelas VIII berikut langkah-langkah menyusun teks ulasan:
- Mencatat identitas karya atau buku yang akan diulas.
- Mencatat hal-hal penting dan menarik dari karya tersebut.
- Menelaah kelebihan dan kekurangan/kelemahan karya atau isi buku.
- Merumuskan kesimpulan dari isi dan kesan dari karya secara keseluruhan.
- Menyusun saran untuk pembaca berupa rekomendasi apakah sebuah karya layak dibaca/tidak, ditonton/tidak, atau didengarkan/tidak.
Contoh Teks Ulasan
1. Ulasan Film Negeri 5 Menara
Identitas karya
Judul Fil: Negeri 5 Menara
Tahun: 1 Maret 2012
Sutradara : Affandi Abdulrahman
Pemeran dalam film Negeri 5 Menara:
- Ikang Fawzi (Kyai Rais)
- Lulu Tobing (Amak)
- David Chalik (Ayah)
- Donny Alamsyah (Ustad Salman)
- Ariyo Wahab (Alif dewasa)
- Gazza Zubizareta (Alif remaja)
- Billy Sandy (Baso remaja)
- Ernest Samudra (Said remaja)
- Rizki Ramdani (Atang remaja)
- Jiofani Lubis (Raja remaja)
- Aris Putra (Dulmajid remaja)
- Eriska Rein (Sarah)
- Andhika Pratama Fahmi (Santri senior)
- Mario Irwinsyah Iskandar (Santri senior)
- Sakurta Ginting (Randai)
Orientasi
Film Negeri 5 menara yang diangkat dari kisah nyata seorang penulis berbakat Ahmad Fuadi. Film ini disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman dan dibintangi oleh Billy Sandy sebagai Baso dari Gowa, Rizky Ramdan sebagai Atang dari Bandung, Ernest Samudra (Said dari Surabaya) Gio Fani Lubis (Raja dari Medan), Aris Putra (Dulmajid dari Madura). Film ini diadaptasi dari sebuah novel dari judul yang sama.
Sinopsis
Dalam Film Negeri 5 Menara berkisah tentang Alif seorang pemuda yang hidup dalam keluarganya yang religius di Tanah Gadang. Ia bermimpi menjejakkan kaki di Pulau Jawa dan masuk dalam barisan mahasiswa sebuah kampus terkenal di Bandung. Sayangnya orangtuanya justru memasukkannya ke pondok Pesantren Madani, karena mereka menganggap sia-sia kalau sudah sampai di Jawa, Alif tidak bisa mendapatkan pendidikan akhlak yang baik. Untungnya, Alif bisa bertemu dan menjalin sebuah persahabatan yang bisa menghasilkan bermacam kejadian yang menarik.
Alif mengalami berbagai macam pergolakan yang juga berbenturan dengan rasa ingin membahagiakan kedua orang tuanya, penjelasan di dalam alur film cukup detail dan panjang dalam satu perjalanan waktu. Penonton pun diberikan tontonan berupa perjalanan seorang anak lewat waktu yang berjalan lambat. Orang tua Alif memang bertindak protektif kepadanya, dalam hal ini Alif dimasukkan ke Pondok Pesantren.
Ada ustadz Salman yang mendadak punya posisi signifikan dengan keberadaan Alif dan kawan-kawannya, ustadz Salman selalu menjadi penolong disaat keenam sahabat tersebut dalam keadaan lemah. Sayangnya tokoh terdekat yang seharusnya memiliki kekuatan emosional yang erat dengan anak-anak itu justru terasa layaknya tokoh sampingan yang hanya sekedar numpang lewat saja. Pada awalnya, pengaruh ustadz Salman begitu terasa nyata dengan kalimat yang menggugah seperti: Man Jadda Wajada. Semangat yang begitu menggugah hati keenam sahabat itu malah luruh begitu saja, justru disaat keenam sahabat tersebut makin akrab. Padahal, seharusnya Ustadz Salman mengambil peranan penting dalam kisah anak-anak saat di pondok pesantren.
Analisis
Pada awalnya, terlihat jelas kelakuan antarsiswa yang masih terasa, ustadz Salman mencoba membakar semangat mereka, membuat mereka bertanya-tanya tentang apa tujuan mereka sebenarnya. Di pondok pesantren, keenam sahabat tersebut menjadi anak didik ustadz Salman yang mempunyai ambisi kuat. Eksistensi ustadz Salman perlahan mulai memudar pada hubungan emosional dengan para siswanya. Saat ustadz Salman meninggalkan pondok, seakan semua perannya hilang begitu saja dan tidak ada kontak dengan keenam siswanya lagi. Adegan tersebut seolah menampilkan peran Ustadz Salman yang sudah selesai, saatnya ia pergi meninggalkan Alif dan kawan-kawan yang sedang berapi-api mengejar cita-cita yang diimpikan.
Sepanjang film, penonton dihadapkan pada masalah-masalah kecil yang tidak berdampak besar bagi jalannya cerita atau hubungan antar tokoh. Contohnya adalah Alif yang ingin sekolah di ITB. Berbagai macam ia lakukan supaya ia bisa masuk ke sana, termasuk "menyabotase" ujiannya sendiri. Di tengah-tengah cerita juga terselip angan-angan Alif saat ia berkunjung ke Bandung. Saat itu penonton seolah diingatkan kembali pada Alif di awal film ini, tetapi tidak ada tindak lanjut sampai film ini selesai, masalah yang timbul tenggelam seolah tidak penting bagi tokohnya. Di samping itu, ada sejumlah masalah kecil yang sebenarnya bisa menjadi penghubung para tokoh.
Saat itulah penantian tersebut membuat ritme yang serba datar, tidak memberikan letupan perasaan yang begitu menggebu-gebu. Banyaknya tokoh yang disorot dan juga tokoh pendukung yang muncul bisa jadi alasan hilangnya perasaan itu.
Evaluasi
Sejak awal sudah muncul tebakan seputar kemana alur cerita akan berjalan, mungkin karena formula yang digunakan terasa begitu akrab bagi penonton film Indonesia. Tentunya formula mujarab ini tidak berhenti sampai di sini. Konon sederet film-film adaptasi berpola sama diluncurkan tahun 2012 ini. Setidaknya keakraban keenam sekawan "Negeri 5 Menara" masih sangat nikmat diikuti meski formula filmnya sendiri sudah terlalu familiar.
2. Ulasan Buku
Identitas Buku
Judul : Atheis
Pengarang : Achdiat K. Mihardja
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun terbit : 1949 (cetakan pertama)
Tebal halaman : 232 halaman
Atheis merupakan salah satu novel terbaik yang memperoleh hadiah tahunan Pemerintah RI tahun 1969. R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972. Sementara itu, Sjuman Djaya mengangkatnya ke layar peraktahun 1974 dengan judul yang sama.
Novel ini menceritakan perjalanan hidup tokoh Hasan. Dari kecil ia dididik menjadi anak yang saleh. Ia begitu taat beribadah. Begitu juga dengan orang tuanya adalah pemeluk Islam yang fanatik. Orang tua Hasan menyekolahkan di MULO. Di sekolah itu dia bertemu dengan seorang gadis cantik yang bernama Rukmini. Hubungan keduanya semakin akrab. Mereka saling jatuh cinta. Rupanya kisah cinta mereka tidak bisa berlangsung lama. Oleh orang tuanya, Rukmini disuruh kembali ke Jakarta. Ia akan dipinang oleh seorang saudagar kaya. Ia menuruti nasihat orang tuanya dengan menerima pinangan saudagar kaya tersebut meski pernikahan itu tidak disertai rasa cinta.
Kejadian itu membuat hati Hasan hancur. Ia menjadi frustasi. Untuk menghilangkan bayangan Rukmini dari hidupnya, ia mengikuti aliran tarekat seperti yang telah lama dianut orang tuanya. Ia semakin taat beribadah. Akan tetapi, kehidupannya berubah ketika dia bertemu teman lamanya, yaitu Rusli. Temannya itu datang bersama seorang wanita cantik bernama Kartini. Ia adalah perempuan modern dan pergaulannya bebas. Ia juga seorang janda. Ternyata sejak perjumpaan itu, Hasan menaruh hati pada Kartini. Alasannya, Kartini memiliki karakter yang hampir sama dengan Rukmini.
Semenjak Hasan mencintai Kartini, dia pun juga bergaul dengan teman teman Kartini. Hasan mencoba untuk menyadarkan Kartini dan Rusli dengan memberikan ceramah-ceramahnya. Akan tetapi, karena Rusli juga pandai bicara, kemudian dialah yang berbalik memengaruhi Hasan. Tanpa disadari, pemikiran pemikiran Rusli melekat di kepala Hasan. Mulanya, Hasan tidak terpengaruh. Namun, keyakinannya mulai goyah ketika dia dikenalkan dengan seorang yang tidak percaya Tuhan, yaitu Anwar. Pengetahuan Anwar tentang ketuhanan begitu luas.
Sejak saat itulah pemahaman Hasan tentang agama mulai berubah. Ia mulai meragukan keberadaan Tuhan. Hasan semakin tersesat dari agama. Pergaulannya semakin bebas. Ia kemudian menikahi Kartini. Pernikahan mereka didasarkan atas rasa suka sama suka. Pernikahan mereka ternyata tidak bahagia. Kehidupan rumah tangga mereka berantakan. Pergaulan Kartini semakin bebas. Lama-kelamaan Hasan cemburu karena hubungan Kartini dengan Anwar semakin dekat. Hasan menganggap Kartini telah selingkuh.
Kejadian itu telah menyadarkan kembali Hasan tentang agama. Ia menyesal dan merasa berdosa atas apa yang telah diperbuat. Pergaulan bebasnya dengan teman-teman yang tidak percaya Tuhan membuatnya tersesat dan ragu dengan keberadaan Tuhan.
Hasan memutuskan bercerai dengan Kartini dan ia pun pulang kampung.Ia ingin meminta maaf kepada ayahnya. Sesampainya di kampung, ia menjumpai ayahnya sedang sakit keras. Ternyata ayahnya tidak mau memaafkan Hasan,bahkan sampai maut menjemputnya. Ayah Hasan tetap berada pada pendirianya.
Hasan merasa bahwa semua itu terjadi karena perbuatan Anwar. Ia menaruh dendam pada Anwar dan berniat membunuhnya. Pada suatu malam, ia melaksanakan rencana itu. Kemudian, ia mencari Anwar. Karena pada waktu itu situasi sedang tidak aman, diberlakukannya jam malam. Nahas menimpa Hasan. Belum sempat melaksanakan niatnya, ia malah tertembak. Akan tetapi, sebelum meninggal, ia masih sempat mengingat Allah dengan berkali-kali menyebut asma-Nya.
Novel ini banyak memberikan pelajaran kepada pembacanya. Kita harus pandai bergaul dengan orang lain. Jangan sampai salah pergaulan hingga pada akhirnya kita malah tersesat, bahkan sampai mengingkari ajaran agama. Kita harus senantiasa berpegang teguh pada agama dan selalu meyakini keberadaan Tuhan.
Itulah pengertian, struktur, ciri-ciri hingga contoh teks ulasan. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(alk/alk)











































